Kisah Keisha Nuriel yang Resign Demi Bisnis Franchise Teh Kotjok
17 May 2025 |
09:00 WIB
Tak sedikit orang bermimpi menjadi pengusaha, tetapi hanya segelintir yang berani keluar dari zona nyaman dan benar-benar memulainya. Salah satu kisahnya datang dari Keisha Nuriel Ananda, seorang perempuan yang memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran dan menekuni bisnis minuman teh kocok melalui skema waralaba (franchise) Teh Kotjok.
Kisahnya bermula saat Keisha masih bekerja di perusahaan keluarga. Pada akhir pekan, dia mulai mencoba menjalankan bisnis Teh Kotjok, sebuah brand waralaba yang sudah dikenal di beberapa pusat perbelanjaan.
“Aku memang suka dengan teh, makanya aku ambil peluang bisnis ini [sebagai franchisee]. Awalnya aku masih kerja weekdays, lalu weekend aku pantau bisnis. Makin lama aku sadar ternyata aku lebih tertarik dan passionate di dunia bisnis,” ungkap Keisha di sela diskusi Franchise: The Perfect Start for Young Entrepreneurs Growth dalam perhelatan FLEI Business Conference.
Baca juga: Ini Fondasi Bisnis UKM Untuk Naik Kelas Lewat Franchise
Keputusan untuk resign dari pekerjaan tidak diambil secara impulsif. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya mengelola usaha sambil bekerja. Ketika bisnis semakin serius dan minatnya terhadap dunia korporat mulai memudar, ia pun memilih fokus sepenuhnya menjalankan usahanya sebagai franchisee Teh Kotjok.
Meski kini fokus sebagai pelaku usaha, latar belakang pendidikan akuntansi yang ia tempuh menjadi bekal penting. “Ilmu akuntansi yang saya dapat selama kuliah dan bekerja sangat membantu dalam mengelola usaha, terutama analisis laporan keuangan, efisiensi operasional, hingga evaluasi berbasis SOP,” ujar Keisha.
Menurut Keisha, memilih franchise adalah keputusan strategis. Bukan karena kurang percaya diri membangun merek sendiri, tetapi karena sistem dan struktur yang sudah tersedia menjadi nilai tambah bagi pemula.
“Sebagai orang yang tidak punya pengalaman mendalam di dunia entrepreneurship, aku merasa lebih aman memilih bisnis dengan SOP yang jelas dan manajemen yang terstruktur,” jelasnya.
Saat itu, dia mengeluarkan modal sekitar Rp150 juta tetapi angka tersebut sangat bergantung paket franchise yang diambil.
Meski bisnis waralaba memberikan kemudahan, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling menantang adalah mencari sumber daya manusia (SDM) yang dapat diandalkan untuk menjaga kualitas layanan.
Selain itu, penjualan sangat bergantung pada cuaca. “Kalau hujan atau dingin, penjualan teh dingin menurun drastis. Jadi kita harus pintar-pintar menyiasati,” kata Keisha.
Sementara itu, David Gan, Co Owner dan Head Coach Gratyo Bandung menegaskan bahwa memulai usaha bukan hanya soal modal uang, tapi juga modal waktu dan energi. “Banyak orang punya ide dan modal, tapi gagal karena tidak siap membagi waktu dan tenaga. Yang paling penting sebenarnya adalah keberanian. Banyak yang punya uang dan waktu, tapi tidak berani mulai,” ujarnya.
Bagi calon franchisee yang masih kuliah, bekerja, atau sudah pensiun tapi tertarik membuka bisnis, ada beberapa hal yang perlu disiapkan yakni:
Baca juga: Cek Harga Franchise Roemah Koffie, Bisa Jualan Pakai Van Antik
Selain itu, penting memiliki mentor atau konsultan yang dapat memberikan panduan dan perspektif baru saat menghadapi tantangan.
Perjalanan dari karyawan menjadi pengusaha bukanlah lompatan mudah. Namun, dengan persiapan matang, keberanian mengambil keputusan, dan kemauan terus belajar, perubahan ini bisa menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih memuaskan.
Kisahnya bermula saat Keisha masih bekerja di perusahaan keluarga. Pada akhir pekan, dia mulai mencoba menjalankan bisnis Teh Kotjok, sebuah brand waralaba yang sudah dikenal di beberapa pusat perbelanjaan.
“Aku memang suka dengan teh, makanya aku ambil peluang bisnis ini [sebagai franchisee]. Awalnya aku masih kerja weekdays, lalu weekend aku pantau bisnis. Makin lama aku sadar ternyata aku lebih tertarik dan passionate di dunia bisnis,” ungkap Keisha di sela diskusi Franchise: The Perfect Start for Young Entrepreneurs Growth dalam perhelatan FLEI Business Conference.
Baca juga: Ini Fondasi Bisnis UKM Untuk Naik Kelas Lewat Franchise
Keputusan untuk resign dari pekerjaan tidak diambil secara impulsif. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya mengelola usaha sambil bekerja. Ketika bisnis semakin serius dan minatnya terhadap dunia korporat mulai memudar, ia pun memilih fokus sepenuhnya menjalankan usahanya sebagai franchisee Teh Kotjok.
Meski kini fokus sebagai pelaku usaha, latar belakang pendidikan akuntansi yang ia tempuh menjadi bekal penting. “Ilmu akuntansi yang saya dapat selama kuliah dan bekerja sangat membantu dalam mengelola usaha, terutama analisis laporan keuangan, efisiensi operasional, hingga evaluasi berbasis SOP,” ujar Keisha.
Menurut Keisha, memilih franchise adalah keputusan strategis. Bukan karena kurang percaya diri membangun merek sendiri, tetapi karena sistem dan struktur yang sudah tersedia menjadi nilai tambah bagi pemula.
“Sebagai orang yang tidak punya pengalaman mendalam di dunia entrepreneurship, aku merasa lebih aman memilih bisnis dengan SOP yang jelas dan manajemen yang terstruktur,” jelasnya.
Saat itu, dia mengeluarkan modal sekitar Rp150 juta tetapi angka tersebut sangat bergantung paket franchise yang diambil.
Meski bisnis waralaba memberikan kemudahan, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling menantang adalah mencari sumber daya manusia (SDM) yang dapat diandalkan untuk menjaga kualitas layanan.
Selain itu, penjualan sangat bergantung pada cuaca. “Kalau hujan atau dingin, penjualan teh dingin menurun drastis. Jadi kita harus pintar-pintar menyiasati,” kata Keisha.
Sementara itu, David Gan, Co Owner dan Head Coach Gratyo Bandung menegaskan bahwa memulai usaha bukan hanya soal modal uang, tapi juga modal waktu dan energi. “Banyak orang punya ide dan modal, tapi gagal karena tidak siap membagi waktu dan tenaga. Yang paling penting sebenarnya adalah keberanian. Banyak yang punya uang dan waktu, tapi tidak berani mulai,” ujarnya.
Bagi calon franchisee yang masih kuliah, bekerja, atau sudah pensiun tapi tertarik membuka bisnis, ada beberapa hal yang perlu disiapkan yakni:
- Modal: Bisa dari tabungan pribadi atau pinjaman, tapi perhitungannya harus realistis.
- Energi dan Waktu: Harus siap mengalokasikan waktu dan tenaga, terutama di awal.
- Keberanian: Tanpa keberanian, rencana bisnis hanya akan jadi angan-angan.
Baca juga: Cek Harga Franchise Roemah Koffie, Bisa Jualan Pakai Van Antik
Selain itu, penting memiliki mentor atau konsultan yang dapat memberikan panduan dan perspektif baru saat menghadapi tantangan.
Perjalanan dari karyawan menjadi pengusaha bukanlah lompatan mudah. Namun, dengan persiapan matang, keberanian mengambil keputusan, dan kemauan terus belajar, perubahan ini bisa menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih memuaskan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.