Ilustrasi belajar AI. (Sumber gambar: DC Studios/Freepik)

Masih Otodidak, Guru Menanti Pelatihan dalam Rangka Menyambut Kurikulum AI

09 May 2025   |   10:44 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kurikulum kecerdasan artifisial dan koding yang bakal diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026 menjadi tantangan bagi para guru dalam penerapannya. Pasalnya, tidak semua dari mereka sudah menggunakan teknologi mutakhir tersebut dalam aktivitas belajar mengajar. 

Guru sekaligus kreator konten, Kelik Yan Pradana, mengatakan salah satu hal yang perlu disiapkan pemerintah sebelum diberlakukannya kurikulum AI adalah membekali para guru tentang teknologi ini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bisa memberikan pelatihan terhadap tenaga pendidik.

“Dengan pelatihan yang terstruktur, nanti hampir semua guru bisa mengambil positifnya penggunaan AI dalam pelajaran,” ujar kreator edukasi yang dikenal sebagai Mr.Klik itu saat ditemui Hypeabis.id beberapa waktu lalu. 

Baca juga: Pakar Bagikan Roadmap Kurikulum AI Agar Sukses Diterapkan, Begini Rinciannya 

Saat ini, sejumlah guru, katanya, belajar AI secara otodidak. Adapun pemerintah dalam hal ini Kemendikdasmen, baru dalam tahap awal untuk memberikan pelatihan kepada fasilitator. “Untuk ke semua gurunya masih mengikuti pelatihan mencari sumber belajar sendiri,” imbuhnya. 

Dalam pelatihan kepada para guru nanti, perlu ditegaskan bahwa AI hanyalah sebuah alat dalam proses belajar mengajar. AI bisa dijadikan alat untuk guru berkreasi guna meningkatkan minat belajar anak dan kemampuan berpikir kritis. 

Kelik menjelaskan perlu ada aktivitas dalam metode belajar guru dengan menggunakan AI yang menyebabkan para murid berpikir kritis. “Bukan hanya bantu menjawab tetapi mampu berpikir. AI sebagai alat bagaimana anak semangat lagi belajar, dapat sumber luas, meningkatkan pemahaman anak,” tutur guru di SMP Kristen Krista Citra itu. 

Adapun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, menjelaskan saat ini rancangan peraturan menteri tentang pembelajaran koding dan AI masih dalam proses harmonisasi di tingkat kementerian. Dalam implementasinya, Kemendikdasmen telah bekerja sama dengan beberapa pihak. 

“Tapi saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa untuk tahun 2025-2026, AI dan coding ini masih menjadi mata pelajaran pilihan, bukan mata pelajaran yang wajib,” tegas Mu’ti di kantornya. .

Di sisi lain, Google dan YouTube bersama Kemendikdasmen baru saja meluncurkan dua inisiatif pendidikan berbasis teknologi yakni Gemini Academy dan Gerakan Edukreator. Kedua inisiatif itu dibuat untuk memberdayakan pendidik, pelajar, serta kreator konten agar mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal dalam dunia pendidikan.

Gemini Academy merupakan program pelatihan yang bertujuan untuk membekali guru di Indonesia dengan keterampilan AI. Membekali pendidik memahami dan menggunakan teknologi AI generatif dengan aman, serta meningkatkan kreativitas dan produktivitas mereka dalam proses pengajaran.
 
Veronica Utami, Country Director Google Indonesia mengatakan sejak pertama kali diluncurkan pada Oktober 2023, pelatihan Gemini telah berhasil menjangkau lebih dari 200.000 guru di seluruh Indonesia. Hasil survei Gemini Impact Study dari Kantar pada 2024 menunjukkan bahwa 98 persen guru merasa lebih percaya diri menggunakan alat AI, dan 99 persen mengakui bahwa teknologi ini meringankan beban kerja mereka. 

Sementara itu, Gerakan Edukreator merupakan inisiatif pelatihan nasional untuk guru, kreator, dan profesional dalam menciptakan konten edukasi bermutu tinggi di YouTube secara gratis. Danny Ardianto, Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah YouTube untuk Asia Tenggara dan Asia Frontier, menuturkan sejak diluncurkan pada 2020, program ini telah melatih lebih dari 3.200 peserta dari 34 provinsi dan melahirkan kreator edukatif ternama.
 
Lantas apakah kedua program ini menjadi salah satu bentuk kerja sama sebagai persiapan kurikulum AI di sekolah? Danny menyebut sejatinya tidak secara langsung sebagai bentuk otomatis masuk kurikulum. 

Kendati demikian, program ini merupakan langkah awal agar para guru bisa memanfaatkan AI dalam kreativitas belajar mengajarnya. “Nanti kita sinergi lagi di situ. Kreator-kreator akademi ini juga akan ada materi tentang AI. AI itu seperti rekan kerja untuk kreator, kalau untuk guru juga tools untuk bantu  brainstorming,” ujarnya. 

Baca juga: Kesiapan Pengajar Jadi Kunci Sukses Penerapan Kurikulum AI 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy S25 Edge yang Rilis 13 Mei, Desain Lebih Tipis & Ringan

BERIKUTNYA

Mengenal Robert Prevost, Kardinal Asal Amerika Serikat yang Terpilih Jadi Paus Baru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga