Kesiapan Pengajar Jadi Kunci Sukses Penerapan Kurikulum AI
07 May 2025 |
06:24 WIB
Pemerintah berencana memasukkan pelajaran kecerdasan artifisial dan koding ke kurikulum nasional mulai tahun ajaran 2025/2026. Berlaku dari tingkat SD hingga sekolah menengah, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengatakan kebijakan ini mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi tantangan di berbagai sektor.
Kendati demikian, sebelum pelajaran tentan artificial intelligence (AI) dan koding ini diterapkan, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, persiapannya perlu dilakukan dengan matang. Para tenaga pengajar yang terlibat, harus menguasai kecerdasan artifisial ini, baik secara teori maupun praktik.
“Kalau pendidiknya tidak tahu AI, koding, nanti arah dan tujuan pemberian materi juga nggak jelas,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/5/2025).
Baca juga: Syarat dan Kondisi Penting Sebelum Adopsi Kurikulum AI
Masuknya pelajaran kecerdasan artifisial atau buatan menjadi kurikulum di sekolah menurutnya langkah yang bagus. Hanya saja, perlu penyesuaian materi yang diajarkan berdasarkan usia dan tingkat pendidikan.
Kurikulum AI di tingkat SD bisa dimulai dari dasar pengenalan mengenai kecerdasan artifisial. Dalam metode pembelajarannya, Heru menyarankan agar dilakukan dengan cara-cara yang menggembirakan dan tidak menjadi beban bagi anak-anak.
Tak bisa dipungkiri, kurikulum AI meskipun nantinya menjadi mata pelajaran pilihan, bisa membuat beban tambahan bagi para siswa. Kurikulum ini juga berisiko tidak sesuai dengan level pendidikan.
Oleh karena itu, Heru menilai penting dilakukan uji coba kurikulum AI di beberapa sekolah. Perlu ditinjau seperti apa materi yang diberikan, manfaat atau dampak yang ditimbulkan, kemudian dievaluasi untuk perbaikan sebelum kemudian menjadi kurikulum yang tetap.
“Catatannya adalah bahwa AI juga akan terus berkembang, sehingga pembelajaran juga harus dinamis dan implementatif,” imbuhnya.
Ketika tingkat pendidikan dasar dan menengah masih melakukan persiapan, di sisi lain, sejumlah universitas telah menerapkan mata kuliah AI. Salah satunya, Universitas Ciputra.
Director of AI & Technology Transformation Universitas Ciputra Trianggoro Wiradinata mengatakan seluruh mahasiswa Universitas Ciputra baik yang di Surabaya, Makassar, dan program Distance Learning (pembelajaran jarak jauh) mendapat akses pembelajaran mulai dari materi dasar AI, AI generatif, etika AI, penulisan prompt, hingga machine learning.
“Semester lalu kami sudah mulai menerapkan bahwa di setiap program studi itu ada mata kuliah yang kami sisipkan pertemuan tentang AI,” ujarnya saat dihubungi Hypeabis.id.
Ya, sifatnya saat itu masih uji coba. Namun pada semester berikutnya, mata kuliah AI katanya akan berdiri sendiri menjadi sebuah mata kuliah baru. Sejauh ini belum ada surat ketetapannya. Namun, ada dua skenario bahwa mata kuliah AI ini akan menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa, atau tergantung pada masing-masing program studi.
Sebelum mengambil keputusan untuk menerapkan mata kuliah AI, Universitas Ciputra diketahui telah melakukan persiapan matang sejak 2023. Trianggoro menyampaikan bahwa tenaga pengajar di kampusnya menjalani pelatihan untuk menguasai teknologi kecerdasan artifisial ini dan meyakinkan bahwa tidak ada perlawanan dalam penerapannya.
Setelah sudah selaras dan menguasai AI, para tenaga pengajar lantas menyusun materi atau mata kuliah tentang AI dan diintegrasikan ke semua kurikulum kampus, yang berlaku sejak 2024.
Dari uji coba yang dilakukan, Universitas Ciputra kemudian melakukan evaluasi terutama menampung aspirasi dari para siswa yang mengikuti mata kuliah AI dan para tenaga pengajar.
“Melalui feedback tadi, didapati bahwa sebenarnya siswa itu bisa mengerjakan tugas-tugas dengan menggunakan AI asal ada aturannya,” tutur Trianggoro.
Dia menjelaskan kehadiran AI memang mempermudah para siswa mengerjakan tugas. Namun, kampus tetap menerapkan batasan dan arahan yang tepat dari para dosen dalam pemanfaatannya. Alhasil, AI para mahasiswa/i di Universitas Ciputra memandang AI hanya sebagai alat kreativitas.
Dalam membuat makalah misalnya. Dengan AI, topik yang dibawa para mahasiswa/i menjadi lebih luas dan lebih kaya. Mereka pun mampu menjelaskannya dengan tepat dan lugas karena sering berinteraksi dengan asisten AI seperti Gemini atau ChatGPT.
Soal apakah kehadiran AI akan berpengaruh menurunkan kemampuan otak mahasiswa/i, Trianggoro meyakini hal tersebut bisa direduksi jika teknologi kecerdasan artifisial ini digunakan dengan bijak. Harus ditanamkan pola pikir bahwa AI hanyalah sebuah alat untuk mempermudah pekerjaan manusia dalam menyelesaikan tugas dan mempercepat mereka mengasah kemampuannya baik dalam berpikir maupun berkreasi.
Oleh karena itu, Trianggoro berharap agar mahasiswa/i dari Universitas Ciputra nantinya menjadi sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang andal memanfaatkan AI dalam pekerjaannya. Terutama bagi para mahasiswa lulusan teknik seperti di informatika, sistem informasi, elektro, dan sebagainya, diharapkan mereka ikut berkontribusi mengembangkan teknologi AI dalam negeri.
Baca juga: Komdigi Gandeng Universitas Tokyo Kembangkan Kurikulum AI, Bagaimana Penerapannya di Jepang?
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kendati demikian, sebelum pelajaran tentan artificial intelligence (AI) dan koding ini diterapkan, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, persiapannya perlu dilakukan dengan matang. Para tenaga pengajar yang terlibat, harus menguasai kecerdasan artifisial ini, baik secara teori maupun praktik.
“Kalau pendidiknya tidak tahu AI, koding, nanti arah dan tujuan pemberian materi juga nggak jelas,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/5/2025).
Baca juga: Syarat dan Kondisi Penting Sebelum Adopsi Kurikulum AI
Masuknya pelajaran kecerdasan artifisial atau buatan menjadi kurikulum di sekolah menurutnya langkah yang bagus. Hanya saja, perlu penyesuaian materi yang diajarkan berdasarkan usia dan tingkat pendidikan.
Kurikulum AI di tingkat SD bisa dimulai dari dasar pengenalan mengenai kecerdasan artifisial. Dalam metode pembelajarannya, Heru menyarankan agar dilakukan dengan cara-cara yang menggembirakan dan tidak menjadi beban bagi anak-anak.
Tak bisa dipungkiri, kurikulum AI meskipun nantinya menjadi mata pelajaran pilihan, bisa membuat beban tambahan bagi para siswa. Kurikulum ini juga berisiko tidak sesuai dengan level pendidikan.
Oleh karena itu, Heru menilai penting dilakukan uji coba kurikulum AI di beberapa sekolah. Perlu ditinjau seperti apa materi yang diberikan, manfaat atau dampak yang ditimbulkan, kemudian dievaluasi untuk perbaikan sebelum kemudian menjadi kurikulum yang tetap.
“Catatannya adalah bahwa AI juga akan terus berkembang, sehingga pembelajaran juga harus dinamis dan implementatif,” imbuhnya.
Ketika tingkat pendidikan dasar dan menengah masih melakukan persiapan, di sisi lain, sejumlah universitas telah menerapkan mata kuliah AI. Salah satunya, Universitas Ciputra.
Director of AI & Technology Transformation Universitas Ciputra Trianggoro Wiradinata mengatakan seluruh mahasiswa Universitas Ciputra baik yang di Surabaya, Makassar, dan program Distance Learning (pembelajaran jarak jauh) mendapat akses pembelajaran mulai dari materi dasar AI, AI generatif, etika AI, penulisan prompt, hingga machine learning.
“Semester lalu kami sudah mulai menerapkan bahwa di setiap program studi itu ada mata kuliah yang kami sisipkan pertemuan tentang AI,” ujarnya saat dihubungi Hypeabis.id.
Ya, sifatnya saat itu masih uji coba. Namun pada semester berikutnya, mata kuliah AI katanya akan berdiri sendiri menjadi sebuah mata kuliah baru. Sejauh ini belum ada surat ketetapannya. Namun, ada dua skenario bahwa mata kuliah AI ini akan menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa, atau tergantung pada masing-masing program studi.
Sebelum mengambil keputusan untuk menerapkan mata kuliah AI, Universitas Ciputra diketahui telah melakukan persiapan matang sejak 2023. Trianggoro menyampaikan bahwa tenaga pengajar di kampusnya menjalani pelatihan untuk menguasai teknologi kecerdasan artifisial ini dan meyakinkan bahwa tidak ada perlawanan dalam penerapannya.
Setelah sudah selaras dan menguasai AI, para tenaga pengajar lantas menyusun materi atau mata kuliah tentang AI dan diintegrasikan ke semua kurikulum kampus, yang berlaku sejak 2024.
Dari uji coba yang dilakukan, Universitas Ciputra kemudian melakukan evaluasi terutama menampung aspirasi dari para siswa yang mengikuti mata kuliah AI dan para tenaga pengajar.
“Melalui feedback tadi, didapati bahwa sebenarnya siswa itu bisa mengerjakan tugas-tugas dengan menggunakan AI asal ada aturannya,” tutur Trianggoro.
Dia menjelaskan kehadiran AI memang mempermudah para siswa mengerjakan tugas. Namun, kampus tetap menerapkan batasan dan arahan yang tepat dari para dosen dalam pemanfaatannya. Alhasil, AI para mahasiswa/i di Universitas Ciputra memandang AI hanya sebagai alat kreativitas.
Dalam membuat makalah misalnya. Dengan AI, topik yang dibawa para mahasiswa/i menjadi lebih luas dan lebih kaya. Mereka pun mampu menjelaskannya dengan tepat dan lugas karena sering berinteraksi dengan asisten AI seperti Gemini atau ChatGPT.
Soal apakah kehadiran AI akan berpengaruh menurunkan kemampuan otak mahasiswa/i, Trianggoro meyakini hal tersebut bisa direduksi jika teknologi kecerdasan artifisial ini digunakan dengan bijak. Harus ditanamkan pola pikir bahwa AI hanyalah sebuah alat untuk mempermudah pekerjaan manusia dalam menyelesaikan tugas dan mempercepat mereka mengasah kemampuannya baik dalam berpikir maupun berkreasi.
Oleh karena itu, Trianggoro berharap agar mahasiswa/i dari Universitas Ciputra nantinya menjadi sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang andal memanfaatkan AI dalam pekerjaannya. Terutama bagi para mahasiswa lulusan teknik seperti di informatika, sistem informasi, elektro, dan sebagainya, diharapkan mereka ikut berkontribusi mengembangkan teknologi AI dalam negeri.
Baca juga: Komdigi Gandeng Universitas Tokyo Kembangkan Kurikulum AI, Bagaimana Penerapannya di Jepang?
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.