Klenteng Po An Bio di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Kota Lama Lasem Diusulkan Jadi Kawasan Strategis Nasional, Ini Alasannya

07 May 2025   |   07:05 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Kota Lama Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memiliki sejumlah bangunan kuno dengan langgam arsitektur yang kaya. Karena pengaruh pentingnya, terutama di bidang sosial dan budaya, Kota Lama Lasem diusulkan menjadi Kawasan Strategis Nasional.

Kawasan Strategis Nasional (KSN) merupakan wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.

Baca juga: Pemilihan Material Jadi Kunci Keberlanjutan Pelestarian Cagar Budaya di Nusantara

Co-founder Yayasan Lasem Heritage Kusumaningdyah Nurul Handayani mengatakan Kota Lama Lasem sangat layak untuk dijadikan sebagai KSN lantaran memiliki berbagai kriteria, yakni sebagai warisan budaya dunia, juga tempat pelestarian dan pengembangan cagar budaya beserta adat, istiadatnya atau budaya serta nilai kemasyarakatannya. Termasuk, tempat peningkatan kualitas warisan budaya.

Hal itu bisa diwujudkan dengan melakukan delineasi dan zonasi pada KCBN Kota Lama Lasem. Perempuan yang akrab disapa Rully itu menjelaskan delineasi dan zonasi ialah salah satu upaya pelestarian situs atau kawasan cagar budaya yang mempunyai nilai strategis/penting dan berpotensi terancam.

Dalam delineasi, dilakukan berbagai upaya pelestarian seperti melakukan identifikasi keruangan secara makro yang memiliki potensi perlindungan cagar budaya, mengidentifikasi kepemilikan dan penguasan lahan, serta mengumpulkan data ancaman terhadap cagar budaya.

Selain itu, mengidentifikasi fungsi pemanfaatan lahan baik tergolong edukatif, apresiatif, reaktif maupun religi, serta memberikan arahan untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.

Sementara pada proses zonasi, dilakukan pendataan keruangan sesuai kebutuhan pelestarian cagar budaya baik area perlindungan maupun pengembangan, yang akan dibentuk sesuai dengan fungsi ruang zonasi (zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan zona penunjang), serta menentukan batas-batas perlindungan situs.

Termasuk, memberikan arahan detail terhadap pengembangan pemanfaatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai regulasi sistem zonasi, dan memberikan arahan untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.

"Jadi harapannya dengan delineasi atau zonasi ini maka memperkuat lagi identitas atau menjaga berkelanjutan [KCBN Kota Lama Lasem], dengan cara yang lebih natural, tidak eksploitatif tentunya ya," katanya dalam acara webinar, Selasa (6/5/2025).
 

Pentingnya Kota Lama Lasem Jadi KSN

Rully menjelaskan usulan menjadikan KCBN Kota Lama Lasem sebagai KSN dengan proses delineasi dan zonasi penting dilakukan lantaran Lasem memiliki sejarah kawasan yang panjang dan bernilai penting.

Lasem berdiri dan mengalami beberapa periode sejarah, mulai dari Hindu-Majapahit, Muslim Tionghoa, Kolonial, pendudukan Jepang, hingga periode pascakemerdekaan. Lantaran perkembangan kawasannya yang cukup luas, Lasem juga merupakan kota terpenting pada masa Kerajaan Majapahit, sekaligus menjadi pelabuhan penting di Jawa pada abad ke-16. 

Selain itu, morfologi pembangunan kota yang terjadi pada abad ke-19, menjadikan Lasem sebagai pusat perdagangan candu "opium funnel" dan batik Tulis Tiga Negeri yang merupakan batik ciri khas Lasem.

Tak sampai di situ, Lasem juga dikenal sebagai lokasi terbesar pendatang Cina di Jawa dan kawasan ketiga terbesar di Indonesia yang memiliki komunitas China pada abad ke-19.  Lasem menjadi pusat perdagangan jati di Hindia Belanda, serta kota perdagangan yang banyak ditempati oleh borjuis Indo-Cina.

Hal itu menjadikan Lasem sebagai salah satu kota 'paling Cina' di Jawa, serta kampung Cina terbesar di Indonesia yang komponen kampungnya paling lengkap dan asli. Dengan kata lain, Lasem tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan pesisir Jawa.

Tinggalan arkeologi di Lasem menunjukkan adanya dinamika kehidupan manusia mulai dari periode prasejarah, Hindu-Budha, Islam, kolonial, hingga masa sekarang. Lasem juga mencatatkan sejarah tentang dinamika kehidupan orang-orang Tionghoa sejak masa kolonial hingga sekarang.

Lasem lama masih memperlihatkan ciri-ciri arsitektur, tata ruang, dan pola permukiman khas percampuran budaya Jawa, Cina, dan Eropa yang masih bertahan hingga sekarang. Hal ini terjadi sebagai hasil interaksi berbagai unsur budaya yang hidup bersama selama lebih dari 400 tahun dan meninggalkan benda, bangunan, struktur, dan tradisi campuran yang masih hidup sampai sekarang.

"Lasem punya dinamika kehidupan yang terakulturasi dengan unik. Inilah yang penting media pengembangan ilmu pengetahuan, menyediakan ruang yang luas untuk diurai secara akademis. Lasem berpotensi untuk diteliti oleh beragam bidang ilmu pengetahuan, baik arkeologi, antropologi, arsitektur, sipil, sosial, budaya, politik, dan lain-lain," tutur Rully.

Selain itu, dari segi pendidikan, nilai-nilai kultural dan filosofis di Lasem juga dapat dikembangkan sebagai landasan pembelajaran. Salah satunya bagaimana dinamika sejarah Lasem mewarnai kehidupan dan interaksi masyarakat di dalamnya, sehingga bisa menjadi pembelajaran yang menjadi salah satu aspek dari pendidikan.

Rully menambahkan berdasarkan peta delineasi Kota Lasem Lama, potensi perlindungan cagar budaya yang bisa dilakukan yakni seluas 128 hektare dengan total 263 struktur dan bangunan cagar budaya. Namun, pemerintah setempat baru menetapkan sebanyak 33 bangunan/situs peringkat kabupaten.

"Sehingga ketika ini ditetapkan, wajah Lasem menjadi bagian yang lebih autentik. Menjadi peluang yang lebih untuk bisa meningkatkan nilai tambah daya bangunan cagar budaya tersebut," imbuhnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Fujifilm Bawa 2 Fitur Foto Ciamik di Kamera Instax Mini 41

BERIKUTNYA

Djournal Coffee Tawarkan Menu Segar Muscat Grape Cold Brew dan Peach Cold Brew

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga