Syarat dan Kondisi Penting Sebelum Adopsi Kurikulum AI
Pengamat pendidikan Edi Subkhan mengatakan teknologi AI kini sudah terintegrasi dalam kehidupan masyarakat, baik dunia kerja, aktivitas sosial, berkomunikasi, bahkan belajar. Hanya kemudian, jikalau ingin mengajarkan AI dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum, ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.
Baca juga: Sejarah Kurikulum Pendidikan di Indonesia, dari Rencana 1947 hingga Kurikulum Merdeka
Misal, bagian teknologi kecerdasan artifisial apa saja yang akan diajarkan, seperti apa klasifikasi di setiap jenjang pendidikan, dan apakah pembelajaran juga termasuk pengembangan AI. Kemudian, dia menilai AI sebaiknya hanya dijadikan pelajaran tambahan, bukan mata pelajaran tetap. Kecuali, AI dijadikan alat bantu belajar.
Alasan AI tidak dijadikan mata pelajaran tetap karena peserta didik memiliki minat yang berbeda. “Kita juga perlu memerhatikan soal keragaman minat dan belajar siswa. Barangkali enggak semua siswa kemudian berminat betul-betul dalam dunia AI,” ujarnya saat dihubungi Hypeabis.id, Jumat (2/5/2025).
Adapun untuk pelajaran AI di tingkat SD, menurut Edi yakni lebih kepada pengenalan dasar-dasar dan ekosistem kecerdasan artifisial, seperti coding, pemrograman, atau computational thinking. Para siswa juga dikenalkan dampak positif dan negatif AI dan bagaimana cara menggunakannya. “Bukan lantas kemudian coding membuat program tertentu, enggak, tapi logika berpikirnya yang secara umum,” imbuhnya.
Pada jenjang SMP, pengenalan dan pembelajaran dasar-dasar AI dan ekosistemnya bisa lebih diperdalam. Sementara pada tingkat SMA/SMK, barulah AI dijadikan ekstrakulikuler dengan lebih spesifik mengembangkan AI.
Edi menyebut jika AI diterapkan sebagai mata pelajaran tetap di seluruh satuan pendidikan, tantangannya terbilang berat. Selain minat siswa yang berbeda, infrastruktur di sekolah juga menjadi kendala.
Untuk belajar AI, dibutuhkan sarana yang lebih advanced, mulai dari spesifikasi PC atau laptop yang tinggi, hingga jaringan lancar. “Kan enggak semua sekolah kita mampu. Makanya yang sifatnya fondasional untuk pendidikan dasar itu sebenarnya adalah berpikir komputasional, berpikir logis, penalaran,” jelas Edi.
Baca juga: Komdigi Gandeng Universitas Tokyo Kembangkan Kurikulum AI, Bagaimana Penerapannya di Jepang?
Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian yakni dilakukannya pembatasan. Mengambil contoh langkah pemerintah di sejumlah negara Eropa, penggunaan gawai di luar keperluan pembelajaran, ternyata bisa menurunkan bukan sekadar fokus dan konsentrasi, tetapi juga minat membaca para siswa.
Tidak hanya gawai, Edi menegaskan penggunaan AI harus lebih proporsional agar tidak menurunkan kemampuan siswa dalam cara berpikir maupun pembelajaran. “Itu memang harus dibatasi. Kalau sekiannya penggunaan itu kemudian menurunkan kemampuan dari siswa, memang harus ada pembatasan,” sarannya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.