Cek Penyebab Usia Muda Rentan Terkena Osteoporosis
30 April 2025 |
18:19 WIB
Osteoporosis tidak hanya mengintai para orang lanjut usia alias lansia, tetapi juga usia muda akibat gaya hidup yang tidak sehat. Masalah tulang rapuh ini terjadi bahkan tanpa disadari dan sering disebut sebagai silent epidemic karena datang tanpa gejala yang jelas.
Spesialis Orthopedi & Tulang Belakang Eka Hospital Pekanbaru, dr. Petrus Aprianto, menerangkan osteoporosis menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah, serta seringkali baru terdeteksi setelah terjadi fraktur. Mitos umum yang beredar di masyarakat adalah hanya wanita yang berisiko terkena osteoporosis.
Baca juga: Generasi Muda Makin Berisiko Terkena Osteoporosis, Cek Cara Mencegahnya
Faktanya, semua usia perlu waspada terhadap kesehatan tulang, termasuk generasi milenial yang sering dianggap masih muda dan kuat. Risiko osteoporosis di usia muda terjadi akibat gaya hidup modern yang seringkali kurang sehat.
Petrus menerangkan gaya hidup sedentari yakni kurangnya aktivitas fisik dan terlalu banyak duduk dapat melemahkan tulang. Faktor lainnya yakni kurangnya paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari padahal sangat penting untuk produksi vitamin D, yang berperan penting dalam penyerapan kalsium.
Diet tidak seimbang juga bisa menjadi faktor risiko osteoporosis. Konsumsi makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi penting seperti kalsium dan vitamin D dapat berdampak buruk bagi kesehatan tulang. "Kebiasaan buruk seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan asupan kafein tinggi dapat mengganggu kesehatan tulang," ujar Petrus, Rabu (30/4/2025).
Oleh karena itu, menurutnya penting menjaga kesehatan tulang sejak dini. Tulang adalah fondasi utama tubuh manusia. Selain sebagai penopang, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ vital, tempat produksi sel darah, dan cadangan mineral penting.
Kendati demikian, tulang terus mengalami perubahan sepanjang hidup manusia. Massa tulang mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun. Setelah itu, proses remodelling tulang (pembentukan dan resorpsi tulang) terus berlanjut.
Jika massa tulang yang dicapai saat muda tidak optimal, risiko osteoporosis di usia tua akan meningkat. Untuk itu, perlu beberapa langkah agar tulang kuat sekalipun lanjut usia.
Paling utama yakni mengonsumsi nutrisi yang tepat seperti kalsium yang menjadi mineral utama penyusun tulang. Petrus menyebut sumber kalsium yang baik antara lain susu, produk susu, sayuran hijau, dan ikan.
Kemudian, vitamin D yang dapat membantu tubuh menyerap kalsium. Sumber vitamin D antara lain sinar matahari, ikan berlemak, dan makanan yang diperkaya.
Sementara, protein dinilai penting dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tulang. Sumber protein yang baik antara lain daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, dan produk susu.
Selain makanan yang mendukung kesehatan tulang, Petrus menerangkan ada juga beberapa jenis makanan yang sebaiknya dibatasi atau dihindari karena dapat berdampak negatif pada kesehatan tulang.
Sebut saja soda. Konsumsi soda berlebihan dapat mengganggu penyerapan kalsium dan berdampak buruk bagi kepadatan tulang. Kemudian, asupan kafein yang tinggi dapat meningkatkan ekskresi kalsium melalui urin, yang dapat menyebabkan kehilangan kalsium dari tulang.
Makanan olahan yang seringkali tinggi garam dan fosfat, dapat mengganggu penyerapan kalsium dan berdampak negatif pada kesehatan tulang.
Selain memperhatikan makanan, aktivitas fisik penting untuk membentuk tulang yang kuat. Tulang membutuhkan tekanan untuk menjadi kuat. "Latihan weight-bearing, di mana Anda menahan berat badan Anda, sangat baik untuk kesehatan tulang. Contohmya jalan kaki, jogging, lompat tali," jelas Petrus.
Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin, bervariasi, dan konsisten selama setidaknya 30 menit setiap hari. Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan tulang secara teratur penting untuk mendeteksi masalah tulang sejak dini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Spesialis Orthopedi & Tulang Belakang Eka Hospital Pekanbaru, dr. Petrus Aprianto, menerangkan osteoporosis menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah, serta seringkali baru terdeteksi setelah terjadi fraktur. Mitos umum yang beredar di masyarakat adalah hanya wanita yang berisiko terkena osteoporosis.
Baca juga: Generasi Muda Makin Berisiko Terkena Osteoporosis, Cek Cara Mencegahnya
Faktanya, semua usia perlu waspada terhadap kesehatan tulang, termasuk generasi milenial yang sering dianggap masih muda dan kuat. Risiko osteoporosis di usia muda terjadi akibat gaya hidup modern yang seringkali kurang sehat.
Petrus menerangkan gaya hidup sedentari yakni kurangnya aktivitas fisik dan terlalu banyak duduk dapat melemahkan tulang. Faktor lainnya yakni kurangnya paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari padahal sangat penting untuk produksi vitamin D, yang berperan penting dalam penyerapan kalsium.
Diet tidak seimbang juga bisa menjadi faktor risiko osteoporosis. Konsumsi makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi penting seperti kalsium dan vitamin D dapat berdampak buruk bagi kesehatan tulang. "Kebiasaan buruk seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan asupan kafein tinggi dapat mengganggu kesehatan tulang," ujar Petrus, Rabu (30/4/2025).
Oleh karena itu, menurutnya penting menjaga kesehatan tulang sejak dini. Tulang adalah fondasi utama tubuh manusia. Selain sebagai penopang, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ vital, tempat produksi sel darah, dan cadangan mineral penting.
Kendati demikian, tulang terus mengalami perubahan sepanjang hidup manusia. Massa tulang mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun. Setelah itu, proses remodelling tulang (pembentukan dan resorpsi tulang) terus berlanjut.
Jika massa tulang yang dicapai saat muda tidak optimal, risiko osteoporosis di usia tua akan meningkat. Untuk itu, perlu beberapa langkah agar tulang kuat sekalipun lanjut usia.
Paling utama yakni mengonsumsi nutrisi yang tepat seperti kalsium yang menjadi mineral utama penyusun tulang. Petrus menyebut sumber kalsium yang baik antara lain susu, produk susu, sayuran hijau, dan ikan.
Kemudian, vitamin D yang dapat membantu tubuh menyerap kalsium. Sumber vitamin D antara lain sinar matahari, ikan berlemak, dan makanan yang diperkaya.
Sementara, protein dinilai penting dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tulang. Sumber protein yang baik antara lain daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, dan produk susu.
Makanan yang Sebaiknya Dihindari
Selain makanan yang mendukung kesehatan tulang, Petrus menerangkan ada juga beberapa jenis makanan yang sebaiknya dibatasi atau dihindari karena dapat berdampak negatif pada kesehatan tulang. Sebut saja soda. Konsumsi soda berlebihan dapat mengganggu penyerapan kalsium dan berdampak buruk bagi kepadatan tulang. Kemudian, asupan kafein yang tinggi dapat meningkatkan ekskresi kalsium melalui urin, yang dapat menyebabkan kehilangan kalsium dari tulang.
Makanan olahan yang seringkali tinggi garam dan fosfat, dapat mengganggu penyerapan kalsium dan berdampak negatif pada kesehatan tulang.
Selain memperhatikan makanan, aktivitas fisik penting untuk membentuk tulang yang kuat. Tulang membutuhkan tekanan untuk menjadi kuat. "Latihan weight-bearing, di mana Anda menahan berat badan Anda, sangat baik untuk kesehatan tulang. Contohmya jalan kaki, jogging, lompat tali," jelas Petrus.
Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin, bervariasi, dan konsisten selama setidaknya 30 menit setiap hari. Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan tulang secara teratur penting untuk mendeteksi masalah tulang sejak dini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.