Ilustrasi talenta digital. (Sumber foto: Freepik)

Pengamat: Bukan Soal Jumlah, Talenta Digital Indonesia Butuh Strategi Baru

29 April 2025   |   12:49 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Keberadaan talenta digital di Indonesia saat ini masih dinilai jauh dari memenuhi kebutuhan industri. Namun, dinamika ekonomi global dan gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor membuat penghitungan antara kebutuhan dan ketersediaan talenta digital perlu ditinjau ulang.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia memiliki sekitar 6,5 juta talenta digital. Jumlah ini masih berada di bawah kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 9 juta orang, sehingga terdapat kekurangan sekitar 3 juta talenta.

Lebih jauh lagi, pada 2030, Indonesia diperkirakan akan memiliki sekitar 9 juta talenta digital. Namun, angka ini masih belum mencukupi dibandingkan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai lebih dari 12 juta orang. Meski demikian, Heru mengingatkan bahwa penghitungan tersebut perlu dikritisi lebih dalam.

Baca juga: Indonesia Krisis Talenta Keamanan Siber, Ancaman Serangan Capai 36 Juta Kasus

"Apa benar kebutuhannya sedemikian besar?" ujarnya kepada Hypeabis.id, Senin (28/4/2025).

Heru menilai bahwa kebutuhan akan talenta digital dalam negeri perlu dipertanyakan kembali, mengingat banyak tenaga kerja di sektor ini yang saat ini belum terserap. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya perusahaan rintisan atau startup yang tumbang.

Selain itu, perusahaan-perusahaan digital besar pun turut melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena itu, menurut Heru, perlu dilakukan survei dan perhitungan ulang terhadap permintaan riil agar data antara kebutuhan dan ketersediaan talenta digital benar-benar seimbang.

Dia menambahkan, jangan sampai muncul kesan bahwa kebutuhan talenta digital nasional masih belum terpenuhi, padahal kenyataannya sudah terjadi surplus akibat kondisi global yang bergejolak, termasuk dampak dari perang dagang dan faktor eksternal lainnya yang memengaruhi pasar tenaga kerja.

Terlepas dari kondisi tersebut, talenta digital tetap memegang peran sentral, mengingat penetrasi teknologi digital yang kini merambah hampir semua sektor bisnis dan aspek kehidupan.

Heru mengingatkan, Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam mengangkat ekonomi nasional di masa depan jika kualitas dan keahlian talenta digital dalam negeri tidak segera ditingkatkan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Menurutnya, talenta digital saat ini dituntut untuk bisa hadir di berbagai sektor dengan menguasai beragam keahlian. Dengan begitu, memiliki kompetensi yang kuat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Di satu sisi, para talenta digital harus menguasai keterampilan dasar seperti coding, bisnis digital, dan keamanan siber. Di sisi lain, pendekatan dalam mengembangkan talenta ini juga harus disesuaikan dengan bidang spesifik, keahlian teknis, serta kebutuhan nyata yang ada di industri.

Berbagai pihak telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pengembangan talenta digital di dalam negeri, salah satunya melalui penyelenggaraan kompetisi. Heru menilai bahwa kompetisi bisa menjadi sarana efektif untuk mengasah kemampuan talenta digital, dengan catatan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, kompetisi tidak cukup hanya digelar sebagai acara satu kali. Setelah kompetisi, perlu ada tindak lanjut berupa coaching dan mentorship yang terstruktur, sehingga peserta mendapatkan arahan dan pengembangan berkelanjutan. Selain itu, setiap kompetisi harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur.

Dia mengakui, selama ini sudah ada sejumlah kompetisi pengembangan talenta digital yang cukup bagus. Kompetisi yang dinilai efektif adalah yang berkelanjutan dan mampu menghasilkan talenta yang benar-benar siap pakai di dunia industri.

Namun, tak sedikit pula kompetisi yang sifatnya sekadar seremonial. Setelah acara selesai, tidak ada kelanjutan atau tindak lanjut yang konkret. “Parahnya lagi, hasil dari kompetisi itu tidak digunakan sama sekali, sehingga seperti tidak ada manfaatnya,” ujarnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Bangkit dari Pandemi, Dyah L Fardisa Berdayakan Perempuan Lewat Bolosego

BERIKUTNYA

Ini Fondasi Bisnis UKM Untuk Naik Kelas Lewat Franchise

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: