Kartini di Jalanan Ibu Kota, Ketika Perempuan Mengambil Alih Kemudi
21 April 2025 |
17:33 WIB
Di tengah deru klakson dan padatnya jalanan ibu kota, semangat Kartini hidup dalam wujud yang tak selalu berkebaya atau bersanggul. Ia hadir dalam sosok-sosok seperti Lilly Mulawato, seorang perempuan yang selama lebih dari satu dekade mantap memegang kemudi taksi.
Profesi yang dulu dianggap dunia laki-laki, kini menjadi ruang perjuangan dan pembuktian bagi perempuan untuk tetap melaju, tanpa harus mengorbankan jati dirinya.
Hari Kartini bukan sekadar perayaan sejarah, tapi juga refleksi atas langkah-langkah kecil yang perempuan ambil setiap hari untuk melampaui batasan. Dari balik setir, Lilly dan rekan-rekannya tak hanya mengantar penumpang menuju tujuan, tetapi juga membawa harapan, keberanian, dan kisah tentang bagaimana perempuan bisa, dan layak berada di mana pun, termasuk di jalan-jalan yang dulu tak dirancang untuk mereka.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Nadia Aisza, Sosok 'Kartini' Penjaga Kedaulatan Negeri
Di usianya yang menginjak 54 tahun, Lilly telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun sebagai pengemudi taksi. Profesi ini bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal.
Dulu, ia pernah melontarkan gurauan—kalau ada lowongan untuk sopir perempuan, ia ingin mencoba. Tak disangka, candaan itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang kini dijalaninya dengan penuh keyakinan.
“Waktu itu saya bantu suami di usaha cuci mobil. Ada pelanggan yang kasih tahu kalau pengemudi perempuan bisa daftar. Saya langsung coba, dan ternyata cocok,” tuturnya.
Lilly bukan hanya menemukan ruang untuk bekerja, tapi juga peluang untuk membuka masa depan bagi keluarganya. Anak perempuannya kini sedang kuliah dengan bantuan beasiswa yang dia dapat lewat program perusahaan tempatnya bekerja.
Cerita serupa datang dari Anne Mary (43 tahun) yang memulai kembali dunia kerja setelah lebih dari 20 tahun menjadi ibu rumah tangga. Keputusan itu tak mudah. "Bukan karena enggak bisa, tapi saya ragu, apa saya masih sanggup?” ujarnya.
Namun, waktu dan lingkungan kerja yang suportif membantunya menemukan ritme. “Teman-teman pengemudi banyak membantu. Kita sering saling tukar info, kasih tahu lokasi yang ramai. Jadi saya enggak merasa sendirian,” tambahnya.
Profesi sebagai pengemudi, seperti banyak bidang lain, selama ini didominasi laki-laki. Namun perlahan, gambaran itu mulai bergeser. Kini, tak sedikit perempuan yang mengemudi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga sebagai bentuk kemandirian dan ekspresi diri.
Rentang usia para pengemudi perempuan ini pun beragam, dari yang berusia 20-an hingga 60 tahun. Ada yang baru mencoba, ada pula yang menjadikan profesi ini sebagai bagian dari identitas hidupnya.
Di tengah tantangan pekerjaan yang tak ringan mereka tetap bertahan. Sebab yang mereka bawa bukan sekadar kendaraan, tapi juga harapan, ketangguhan, dan pilihan untuk terus bergerak maju.
“Inklusivitas terhadap perempuan adalah bagian dari identitas kami. Apa pun perannya, perempuan punya kontribusi besar dalam kualitas layanan dan dinamika di sektor transportasi,” ujar Adrianto Djokosoetono, Direktur Utama Bluebird.
Sejak membuka kesempatan bagi pengemudi wanita pada 2010, Bluebird kini memiliki lebih dari 280 Srikandi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, dari Jakarta hingga Palembang.
Lebih dari sekadar profesi, menjadi Srikandi Bluebird adalah jalan untuk tumbuh, mandiri, dan membuktikan bahwa perempuan bisa mengambil peran penting di ruang publik yang selama ini didominasi laki-laki.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Profesi yang dulu dianggap dunia laki-laki, kini menjadi ruang perjuangan dan pembuktian bagi perempuan untuk tetap melaju, tanpa harus mengorbankan jati dirinya.
Hari Kartini bukan sekadar perayaan sejarah, tapi juga refleksi atas langkah-langkah kecil yang perempuan ambil setiap hari untuk melampaui batasan. Dari balik setir, Lilly dan rekan-rekannya tak hanya mengantar penumpang menuju tujuan, tetapi juga membawa harapan, keberanian, dan kisah tentang bagaimana perempuan bisa, dan layak berada di mana pun, termasuk di jalan-jalan yang dulu tak dirancang untuk mereka.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Nadia Aisza, Sosok 'Kartini' Penjaga Kedaulatan Negeri
Di usianya yang menginjak 54 tahun, Lilly telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun sebagai pengemudi taksi. Profesi ini bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal.
Dulu, ia pernah melontarkan gurauan—kalau ada lowongan untuk sopir perempuan, ia ingin mencoba. Tak disangka, candaan itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang kini dijalaninya dengan penuh keyakinan.
“Waktu itu saya bantu suami di usaha cuci mobil. Ada pelanggan yang kasih tahu kalau pengemudi perempuan bisa daftar. Saya langsung coba, dan ternyata cocok,” tuturnya.
Lilly bukan hanya menemukan ruang untuk bekerja, tapi juga peluang untuk membuka masa depan bagi keluarganya. Anak perempuannya kini sedang kuliah dengan bantuan beasiswa yang dia dapat lewat program perusahaan tempatnya bekerja.
Cerita serupa datang dari Anne Mary (43 tahun) yang memulai kembali dunia kerja setelah lebih dari 20 tahun menjadi ibu rumah tangga. Keputusan itu tak mudah. "Bukan karena enggak bisa, tapi saya ragu, apa saya masih sanggup?” ujarnya.
Namun, waktu dan lingkungan kerja yang suportif membantunya menemukan ritme. “Teman-teman pengemudi banyak membantu. Kita sering saling tukar info, kasih tahu lokasi yang ramai. Jadi saya enggak merasa sendirian,” tambahnya.
Profesi sebagai pengemudi, seperti banyak bidang lain, selama ini didominasi laki-laki. Namun perlahan, gambaran itu mulai bergeser. Kini, tak sedikit perempuan yang mengemudi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga sebagai bentuk kemandirian dan ekspresi diri.
Rentang usia para pengemudi perempuan ini pun beragam, dari yang berusia 20-an hingga 60 tahun. Ada yang baru mencoba, ada pula yang menjadikan profesi ini sebagai bagian dari identitas hidupnya.
Di tengah tantangan pekerjaan yang tak ringan mereka tetap bertahan. Sebab yang mereka bawa bukan sekadar kendaraan, tapi juga harapan, ketangguhan, dan pilihan untuk terus bergerak maju.
“Inklusivitas terhadap perempuan adalah bagian dari identitas kami. Apa pun perannya, perempuan punya kontribusi besar dalam kualitas layanan dan dinamika di sektor transportasi,” ujar Adrianto Djokosoetono, Direktur Utama Bluebird.
Sejak membuka kesempatan bagi pengemudi wanita pada 2010, Bluebird kini memiliki lebih dari 280 Srikandi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, dari Jakarta hingga Palembang.
Lebih dari sekadar profesi, menjadi Srikandi Bluebird adalah jalan untuk tumbuh, mandiri, dan membuktikan bahwa perempuan bisa mengambil peran penting di ruang publik yang selama ini didominasi laki-laki.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.