Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa. (Sumber gambar: Istimewa)

Lebih Dekat dengan Nadia Aisza, Sosok 'Kartini' Penjaga Kedaulatan Negeri

21 April 2025   |   17:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Napas emansipasi yang dibawa Raden Ayu Adipati Kartini Djojoadhiningrat alias R.A. Kartini telah membuat perempuan di Indonesia lebih percaya diri bekerja dan memilih profesi, termasuk dalam menjaga pertahanan dan keamanan. Sektor-sektor yang biasanya digeluti pria ini ternyata bisa dikerjakan wanita juga. 

Bahkan, tidak sedikit yang menempati jabatan strategis. Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa salah satunya. Perempuan asal Cimahi ini menjadi beberapa dari penerbang andal Tentara Nasional Indonesia (TNI), matra Angkatan Laut (AL).  

Baca juga: Ucapan Hari Kartini yang Diperingati Setiap 21 April
 

Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa. (Sumber gambar: Istimewa)

Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa. (Sumber gambar: Istimewa)

Bermula dari niat tidak mau membebani orang tua dengan biaya pendidikan lalu memutuskan masuk Akademi Angkatan Laut (AAL) tanpa ada latar keluarga militer, kini, Nadia memiliki posisi penting sebagai Wakil Komandan Pesawat Udara 10 Flight 2 Satap Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 di Angkatan Laut (AL) Indonesia. 

Skuadron Udara 200 diketahui memiliki fungsi sebagai skuadron latih yang membentuk pilot-pilot baru maupun menghidupkan kembali pilot yang sudah tidak aktif setiap tahunnya. “Di Angkatan Laut ini, wanita dan pria diberikan kesempatan yang sama buat merasakan tugas di berbagai belahan Indonesia,” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id melalui panggilan video beberapa waktu lalu. 

Meskipun belum bisa menjadi instruktur karena baru mencapai sekitar 200 jam terbang, Nadia cukup berpengalaman dalam menerbangkan alutsista udara TNI. Selain membantu mencetak pilot baru di kesatuan, dia juga bertugas melakukan patroli maritim, mengamankan perairan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. 

Saat bergabung di Skuadron Udara 800, dia kerap berpatroli selama 6-9 jam. Perempuan yang saat ini berpangkat Letnan Satu (Lettu) Laut tersebut mengitari perairan Indonesia untuk memantau dan menjaga Ibu Pertiwi dari kapal-kapal asing atau kapal ilegal melalui udara. 

Kendati demikian, waktu 6-9 jam yang dihabiskan menurutnya tidak sebanding dengan wilayah Indonesia yang lautnya begitu luas dan “seksi” bagi negara-negara sekitar. Sayangnya, alutsista TNI masih belum memadai untuk mengawasinya dengan saksama.

Terlepas dari itu, tugasnya menjaga kedaulatan dari udara memiliki risiko keselamatan tinggi. Musuh utamanya adalah cuaca di perairan Indonesia yang tidak menentu sehingga kerap menjadi kendala dalam pemantauan, juga penerbangan. 

Ngeri-ngeri sedap, kata Nadia, jika berhadapan dengan cuaca di udara. Sebagai manusia, rasa takut terkadang menghampiri ketika menghadapi cuaca buruk ini. Cuaca sempat membuat pesawat yang dikendarainya seakan terlempar. Bisa dikatakan, setiap detik di udara sangat berarti buat nyawa seorang pilot dan kru pesawat patroli. 
 

Nadia saat menerbangkan pesawat TNI AL. (Sumber gambar: Istimewa)

Nadia saat menerbangkan pesawat TNI AL. (Sumber gambar: Istimewa)

Sebagai perwira penerbang yang mengomandoi kapal dengan tanggung jawab besar atas keselamatan, stres dan tekanan selalu ada. Akan tetapi, dengan keyakinan atas ilmu yang dipelajari selama memilih menjadi penerbang sejak 2019, serta percaya akan kemampuan tim, membuat Nadia selalu berupaya menemukan solusi atas tantangan dan risiko yang dihadapi.

Pernah suatu ketika, saat patroli malam dan ingin mendarat di Jakarta, seekor burung menabrak baling-baling pesawatnya. Burung selama ini dikenal sebagai penyebab pesawat mengalami kecelakaan. 

Dengan kondisi itu, ditambah gelapnya suasana malam di udara, Nadia berupaya tetap tenang dan akhirnya berpatokan pada lampu indikator yang ada di runway, sehingga pesawatnya tetap bisa mendarat dengan mulus.

“Deg-degan juga, tetapi kita tidak bisa menunjukkan ekspresi panik karena nanti otomatis anggota juga ikut panik. Jadi saya pura-pura stay cool saja,” kenang Nadia seraya tertawa. 

Dedikasinya dalam institusi memang butuh pengorbanan, terutama dalam hal waktu bersama keluarga. Nadia bisa meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan ketika bertugas. Untung saja, keluarganya selalu memberi dukungan serta menjalin komunikasi dengan baik. 

Sang suami yang juga seorang TNI mengatakan bahwa seorang perwira harus melaksanakan tugas yang diberikan. Pun orang tua maupun mertua yang selalu siap dititipkan anak ketika Nadia bertugas. “Jadi walaupun berat meninggalkan keluarga, tapi ini adalah sebuah perintah. Kembali lagi, tentara harus melaksanakan perintah,” tegasnya. 

Kendati demikian, jika ada waktu bersama keluarga, Nadia selalu memaksimalkannya, walaupun rasa lelah sebagai ibu pekerja terus membayangi. Sebisa mungkin, perempuan yang saat ini berdomisili di Sidoarjo itu berupaya berperan dalam kegiatan domestik di rumah. Termasuk menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar dengan cara yang dia bisa. 

Baca juga: Zetryana Puteri, 'Kartini' Peneliti yang Tak Henti Menggali Potensi
 

Nadia (baju biru) bersama rekan-rekannya di kesatuan. (Sumber gambar: Istimewa)

Nadia (baju biru) bersama rekan-rekannya di kesatuan. (Sumber gambar: Istimewa)

Institusi militernya juga cukup mendukung statusnya sebagai seorang perempuan dan ibu. Nadia mengaku sangat beruntung bergabung di TNI AL. Pasalnya, matra ini selalu membuka peluang untuk para perempuan untuk memiliki posisi yang setara dengan pria. 

Pada 2024, Nadia pun diberi kesempatan dan lolos seleksi untuk mengikuti kursus penerbangan di Amerika Serikat. Di satu sisi, wanita yang kini tergabung dengan tim aerobatik Pusat Penerbangan TNI AL, Rajawali Laut Flight, ini juga diberi keleluasaan untuk memilih dan didengarkan pendapatnya. 

Akan tetapi Nadia berpesan, untuk semua wanita yang menjadi pekerja, jangan melulu menuntut adanya kesetaraan gender. Para perempuan juga harus menunjukkan kemampuan kalau mereka memang layak untuk disetarakan. “Kita juga harus memantaskan diri,” imbaunya. 

Stigma bahwa perempuan hanya bisa berurusan dengan dapur, sumur, dan kasur juga harus dihilangkan. Menurutnya, para wanita bisa menempuh pendidikan tinggi dan menggapai cita-citanya. Setidaknya, mereka bisa menjadi ibu yang berpendidikan agar anak-anaknya menjadi generasi emas bangsa. 

Prinsip ini yang dipegang Nadia. Alhasil, perempuan yang juga mahir berbahasa asing ini mengaku akan kuliah lagi dan mencapai jam terbang lebih banyak agar bisa menempati posisi lebih tinggi di institusi TNI. 
 

Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa. (Sumber gambar: Istimewa)

Nadia Aisza Siti Sakinatunnisa. (Sumber gambar: Istimewa)

Komandan Skuadron udara 200 Wing Udara 2 Puspenerbal Letkol laut (P) Erich Yuliontirta menerangkan, inilah waktunya perempuan Indonesia untuk terbang lebih tinggi. Hari Kartini membuktikan bahwa kekuatan dan keberanian perempuan tak terbatas. 

Dia mengajak para perempuan bergabung sebagai penerbang TNI AL dan menjadi bagian dari kekuatan yang menjaga kedaulatan bangsa. “RA kartini mengubah stigma perempuan melalui ruang baca, Anda mengubah stigma perempuan dari ruang cockpit pesawat,” tegasnya. 

Baca juga: Biografi R.A. Kartini, Pejuang Emansipasi Wanita Indonesia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

5 Penampilan Terbaik Coachella 2025 Minggu Ke-2, Ada Lady Gaga, Benson Boone hingga Lisa

BERIKUTNYA

5 Film Bertema Perjuangan Perempuan yang Cocok Ditonton pada Momen Hari Kartini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: