Ilustrasi pendidikan kanker serviks (dok. Pexels)

Ladies, Kenali Risiko Kanker Serviks dan Cara Mencegahnya Yuk

09 September 2021   |   13:38 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Ladies, menjaga kebersihan organ intim penting loh untuk menjaga kita dari risiko penyakit kelamin, salah satunya adalah kanker leher rahim alias serviks. Apalagi seiring berjalannya waktu, kanker ini sudah ditemukan pada usia remaja dan masih bertengger di posisi kedua angka kejadian kanker paling banyak di Indonesia.

Menurut data Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, terdapat 36.633 pasien yang terdiagnosis kanker serviks dengan 21.003 kematian. 

Tigginya angka kanker serviks di Indonesia tak lepas dari kurangnya kesadaran dan pendidikan wanita pada kesehatan organ intimnya. Tidak adanya gejala pada tahap awal kanker, ditambah lagi banyak yang takut, malu, dan khawatir sakit ketika melakukan pemeriksaan, juga menjadi pemicunya. Padahal kanker ini 99,7 persen bisa dicegah dan disembuhkan, terutama pada stadium awal. 

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Gatot N.A. Winarno mengatakan penyebab kanker serviks adalah human papillomavirus (HPV). Virus ini terbilang umum dan terdapat di sekitar kita.

Namun infeksi virus HPV dapat terjadi karena adanya hubungan seksual. Diyakini 80 persen wanita yang sudah berhubungan seksual pernah terinfeksi virus ini dan tidak menimbulkan gejala.

Kendati demikian, tidak semua virus HPV yang masuk ke organ intim wanita bisa menjadi kanker. Kecuali, ada faktor lingkungan dan kebiasan buruk yang memicunya berkembang seperti banyak anak, kebiasaan merokok, multi partner, hingga keputihan yang tidak diobati. 

"Virus masuk ke daerah mulut rahim, tiga bulan berubah menjadi lesi prakanker, lalu berubah jadi kanker 3-15 tahun berikutnya," jelas Gatot.
 
Kanker/telegraph.co.uk
Untuk itu, penting bagi kita melakukan pencegahan. Ada sejumlah langkah yang bisa kita dilakukan agar virus HPV tidak berkembang menjadi kanker serviks. 

Pertama, pencegahan primer melalui edukasi dan vaksin HPV. Gatot menyebut vaksin HPV bisa diberikan pada usia kurang dari 9 tahun untuk laki-laki dan perempuan. Sangat efektif jika diberikan sebelum hubungan seksual.

Namun Gatot menyebut vaksin saja tidak cukup. Wanita harus menerapkan gaya hidup sehat dan rajin melakukan deteksi dini. "Vaksin tidak mencegah 100 persen," tegasnya.

Kedua, pencegahan sekunder atau deteksi dini dengan inspeksi visual asal asetat (IVA), papsmear, dan tes HPV. Deteksi dini dengan IVA kata Gatot sangat sederhana dan murah karena hanya butuh asam cuka. Namun, hal ini harus dilakukan petugas medis yang sudah ahli untuk menginterpretasikan hasilnya. 

Sementara melalui papsmear, bisa dilihat perubahan sel normal, pra kanker, dan kanker. Metode ini memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada IVA dan hanya bisa dilakukan dokter spesialis patologi anatomi untuk menilaiya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan papsmear dilakukan 3 tahun sekali. 

"Papsmear untuk melihat lesi prakanker. Apakah derajat rendah atau tinggi," jelasnya.

Sedangkan tes HPV DNA menjadi tes yang paling sensitif karena bisa menetapkan risiko sejak awal infeksi. Tes ini dikerjakan dengan metode PCR sehingga hasil lebih akurat dan dapat menentukan subtipe HPV DNA. "Tes HPV DNA untuk melihat adakah infeksi HPV yang menetap dan berpotensi menyebabkan kanker serviks," tutur Gatot.

Editor: M R Purboyo

SEBELUMNYA

Khawatir Serangan jantung? Ini 3 Metode Mengatasinya

BERIKUTNYA

Tak Perlu Takut Tertular Covid-19 di Toilet Umum. Ini Alasannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: