ilustrasi (sumber gambar : tima miroshnichenko/pexels)

Jangan Panik, Pasang Strategi Finansial Ini saat Pasar Bergejolak

08 April 2025   |   16:50 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Genhype, setelah menikmati momen libur panjang Lebaran, investor disambut oleh kabar kurang menyenangkan dari pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi lebih dari 9 persen pada awal perdagangan, serta mata uang rupiah terus melemah hingga menyentuh angka Rp17.200.

Cakra Praditya Himawan, Founder Cak Investment Club menjelaskan bahwa penurunan tajam ini sebenarnya merupakan respons tertunda dari pasar terhadap dinamika global yang sudah lebih dulu bergejolak.

“Pasar saham dunia sudah terkoreksi karena memanasnya perang dagang. IHSG baru bereaksi saat ini, karena sebelumnya libur nasional. Kemungkinan ini belum merupakan akhir dari koreksi pasar,” jelasnya.

Baca juga: Bukan Jalan Pintas Jadi Kaya, Ini Tips Cerdas Anak Muda Berinvestasi

Kenapa Dolar AS menguat?
Ketika situasi ekonomi global diliputi ketidakpastian, investor cenderung memilih untuk memegang uang tunai sehingga permintaa terhadap Dolar AS pun ikut meningkat. Terlebih lagi, banyak dana asing yang ditarik dari negara berkembang dan dikonversi ke mata uang asal mereka.

“Dalam situasi ini, mata uang seperti rupiah menjadi rentan karena kekhawatiran terhadap arus keluar modal dan melemahnya kepercayaan investor,” ujar Cakra.

Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian saat ini, Cakra menyarankan agar investor tetap tenang dan lebih mengutamakan likuiditas. “Pegang uang tunai. Jangan buru-buru masuk ke emas sekarang, karena harganya sudah di level tertinggi,” tuturnya.

Sebaiknya siapkan dana untuk membeli saham-saham berkualitas saat harganya sedang diskon besar dan berpotensi naik tinggi saat memasuki periode pemangkasan suku bunga.

Bagi investor yang saat ini portofolionya sepenuhnya saham, maka jangan buru-buru panic sell. Lihat terlebih dahulu komposisi portofolionya. Jika mayoritas terdiri dari saham blue chip jangka panjang, sebaiknya tetap tahan.

“Saham-saham tersebut cenderung pulih lebih cepat dibandingkan dengan saham lainnya, terutama jika masuk dalam LQ45 atau MSCI Indonesia,” tuturnya.

Namun jika portofolio didominasi oleh saham yang tidak termasuk dalam indeks-indeks besar tersebut, pertimbangkan untuk beralih ke uang tunai guna menghindari risiko lebih besar.

Menanti peluang saat suku bunga turun
Menurut Cakra, peluang besar bisa muncul saat pasar memasuki periode pemangkasan suku bunga. “Biasanya, saat suku bunga mulai turun, investor kembali agresif masuk ke instrumen berisiko. Itu saat yang tepat untuk masuk kembali ke pasar saham,” ujarnya.

Sambil menunggu pasar kembali pulih, maka jika Genhype seorang trader bisa mempertimbangkan untuk melakukan scalping atau day trading, meskipun risikonya masih cukup tinggi karena arah pasar belum jelas. “Lihat pergerakan indeks saham Asia lainnya bisa menjadi acuan apakah layak untuk melakukan trading jangka pendek,” ucapnya.

Baca juga: 7 Strategi Jitu Investasi Emas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Sementara itu, bagi yang bukan trader aktif, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi pilihan bijak. “Teruslah berinvestasi secara berkala di saham-saham unggulan. Anggap saja kondisi ini sebagai peluang langka untuk beli di harga murah,” ujarnya.

Menurut Cakra, situasi seperti ini seharusnya menjadi pengingat penting bahwa investasi di pasar saham memang termasuk dalam kategori berisiko tinggi. Maka penting untuk membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum terjun ke pasar.
 

SEBELUMNYA

Tip Terhindar dari Pelecehan Seksual saat Menggunakan Commuter Line

BERIKUTNYA

Rupiah Melemah, Ini 4 Instrumen Investasi yang Bisa Jadi Pilihan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: