ilustrasi (sumber : Michael Steinberg/pexels)

7 Strategi Jitu Investasi Emas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

07 April 2025   |   19:30 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Emas bukan sekadar logam berkilau—bagi banyak orang, ini adalah lambang ketenangan dalam menghadapi gejolak dunia. Jauh sebelum istilah seperti inflasi atau depresiasi dikenal luas, masyarakat sudah percaya bahwa emas adalah penyelamat saat keadaan ekonomi tak menentu.

Kepercayaan ini bukan tanpa alasan. Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, emas tetap bertahan sebagai primadona investasi karena sifatnya yang bisa “dipegang”—harfiah maupun secara emosional. Ketika berita buruk menghantam ekonomi global, banyak orang secara naluriah melirik emas sebagai pelindung aset dari badai ketidakpastian.

Baca juga: Begini Kata Investor dan Perencana Keuangan Soal Potensi Investasi Emas yang Tengah Melesat

Namun jangan salah, harga emas pun naik-turun mengikuti irama dunia. Perang dagang, konflik antarnegara, hingga kebijakan bank sentral bisa membuat harga melonjak atau sebaliknya—turun drastis. Di sinilah pentingnya pemahaman: investasi emas bukan sekadar ikut tren, tapi soal waktu yang tepat, strategi yang matang, dan kesabaran yang tak tergoyahkan.


1. Emas Bukan Tren Musiman

Kebiasaan menyimpan emas telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat, bahkan sejak sebelum istilah seperti “inflasi” dan “depresiasi mata uang” dikenal luas. Secara naluriah, emas sudah lama dipercaya sebagai sarana penyimpanan nilai yang andal. Tidak hanya dalam bentuk batangan, emas juga diwariskan dalam wujud perhiasan antargenerasi.

Menurut Ibrahim, kekuatan utama emas terletak pada ketahanannya terhadap gejolak ekonomi. Walau mengalami fluktuasi dalam jangka pendek, emas tetap dianggap sebagai aset berwujud yang memberikan rasa aman secara emosional maupun finansial bagi pemiliknya.


2. Harga Emas Fluktuatif

Banyak yang berasumsi bahwa harga emas selalu mengalami kenaikan, padahal kenyataannya sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Saat terjadi perang dagang antarnegara besar, konflik geopolitik seperti antara Rusia dan Ukraina, atau ketegangan di kawasan Timur Tengah, harga emas cenderung melonjak karena investor mencari aset lindung nilai yang lebih aman.

Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi menunjukkan pemulihan dan bank sentral memilih untuk menahan atau menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas, harga emas bisa terkoreksi. “Saat inflasi meningkat, harga emas ikut terdongkrak. Namun, ketika bank sentral mengambil langkah pengetatan untuk menekan inflasi, harga emas justru berpotensi melemah,” ujar Ibrahim.


3. Beli Saat Tenang, Bukan Saat Panik

Kesalahan yang sering terjadi adalah membeli emas ketika harganya sudah melonjak tinggi akibat dorongan FOMO (fear of missing out). Padahal, momen yang lebih tepat untuk berinvestasi emas justru saat kondisi ekonomi relatif stabil dan harga cenderung menurun.

Saat ini, harga emas telah mencapai US$2.956 per ons troi—hampir menembus batas psikologis US$3.000. Namun, bila tiba-tiba tercapai kesepakatan damai dalam konflik global, harga bisa merosot tajam dalam waktu singkat. Karena itu, penting untuk menyadari bahwa pergerakan harga emas pun mengikuti siklus tertentu yang perlu dipahami dengan cermat.


4. Emas Fisik, Perhiasan, atau Digital

Genhype bisa memilih tiga jenis investasi emas sesuai dengan kenyamanan dan tujuanmu:
  • Emas Batangan (Logam Mulia): Ini adalah bentuk paling populer karena lebih stabil dan minim risiko. Genhype bisa membelinya dari Antam, Pegadaian, atau bank syariah, dan menyimpannya di tempat yang aman.
  • Perhiasan Emas: Banyak disukai karena bisa dipakai sekaligus disimpan sebagai aset. Tapi ingat, harga jualnya bisa lebih rendah karena dipotong ongkos pembuatan.
  • Emas Digital: Bisa dibeli mulai dari nominal kecil lewat aplikasi. Cocok untuk investor generasi digital, tapi investor tetap harus waspada terhadap fluktuasi harga dan pastikan platform-nya terpercaya.


5. Investasi Emas Butuh Kesabaran

Emas bukanlah instrumen yang cocok untuk mengejar kekayaan secara instan. Dalam perjalanannya, harga emas bisa mengalami penurunan terlebih dahulu sebelum kembali naik. Oleh karena itu, penyimpanan dalam jangka waktu panjang menjadi hal yang penting untuk diperhitungkan. Menjual emas terlalu cepat hanya karena tergiur keuntungan jangka pendek justru berisiko merugi jika harganya belum pulih.

Ibrahim menyebut bahwa masih banyak masyarakat yang berharap emas bisa langsung menghasilkan keuntungan besar dalam beberapa bulan. Padahal, karakter emas lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Kesabaran dan konsistensi menjadi kunci utama. Dengan menyimpan emas selama lima hingga sepuluh tahun, potensi keuntungan yang diperoleh bisa jauh lebih signifikan.


6. Hindari Menggunakan Dana Harian untuk Membeli Emas

Salah satu prinsip dasar dalam investasi emas adalah tidak menggunakan dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat. Ketika ada kebutuhan mendesak dan harus menjual emas secara tiba-tiba, besar kemungkinan harga jual belum berada dalam posisi menguntungkan—dan hal ini bisa memicu kerugian.

Idealnya, emas dibeli menggunakan “uang dingin”, yaitu dana yang memang telah disisihkan khusus untuk investasi jangka panjang. Ibrahim menekankan pentingnya perencanaan dalam membeli emas, agar tidak terpaksa melepasnya ketika harga sedang turun hanya karena kebutuhan mendesak.


7. Mulai dari Skala Kecil, Lakukan Secara Bertahap

Tidak perlu langsung membeli dalam jumlah besar. Investasi emas bisa dimulai secara perlahan dengan menyisihkan Rp100.000 hingga Rp300.000 setiap bulan. Skema ini bisa diterapkan melalui tabungan emas digital atau program cicilan logam mulia di Pegadaian maupun bank syariah.

Dalam jangka panjang, metode ini dapat membantu mengumpulkan emas dalam jumlah signifikan tanpa membebani keuangan. Cara ini sangat cocok diterapkan oleh pekerja atau pemula yang ingin mulai berinvestasi secara aman dan terjangkau.

Lebih dari sekadar membeli dan menjual, investasi emas adalah soal membangun disiplin, memahami dinamika ekonomi, dan menyusun strategi keuangan secara berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, emas bisa menjadi mitra setia dalam menjaga nilai kekayaan.

Baca juga: Investasi Emas Kembali Jadi Primadona di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

 

SEBELUMNYA

Resensi Buku Garda Detak: Antologi Gawat Darurat, Kisah Menyentuh dari Ruang IGD

BERIKUTNYA

Band Jepang Ryokuoushoku Shakai Bakal Gelar Konser Perdana di Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga