Pia Legendaris Khas Malang Ini Hadirkan Sentuhan Pistachio Kunafa di Momen Ramadan
18 March 2026 |
11:08 WIB
Tren pistachio belakangan makin terasa di dunia kuliner. Rasa kacang yang lembut dengan perpaduan gurih dan manis ini banyak digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kue, dessert, hingga minuman. Momentum Ramadan hingga Lebaran menjadi salah satu pendorong tren ini kian kuat.
Pada periode tersebut, konsumsi makanan manis cenderung meningkat, baik untuk berbuka puasa maupun sebagai sajian saat bersilaturahmi.
Baca juga: Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
Kondisi ini menginspirasi pelaku usaha kuliner menyesuaikan produk mereka dengan tren tersebut, salah satunya Pia Cap Mangkok yang selama ini dikenal sebagai ikon oleh-oleh khas Malang sejak 1959.
Pia legendaris tersebut menghadirkan kembali varian Pistachio Kunafa selama Ramadan yang menggabungkan pia dengan inspirasi kunafa, dessert Timur Tengah.
Pia Cap Mangkok sendiri bukan nama baru di dunia oleh-oleh. Berdiri sejak 1959, produk ini telah menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Malang selama lebih dari enam dekade.
Pia Cap Mangkok telah menjadi bagian dari tradisi wisata ke Malang. Menariknya, brand ini tetap mempertahankan konsep distribusi yang terbatas. Produknya tidak dipasarkan secara luas di berbagai kota, melainkan hanya bisa didapatkan langsung di Malang.
Pendekatan ini membuatnya tetap lekat dengan pengalaman wisata, sekaligus menjaga kesan autentik sebagai oleh-oleh khas daerah.
Direktur Pia Cap Mangkok, Eunike Christian mengatakan bahwa inovasi rasa dilakukan agar produk tetap relevan dengan perkembangan selera konsumen sekaligus menjembatani selera lintas generasi, menggabungkan karakter khas pia legendaris dengan sentuhan rasa Timur Tengah yang tengah digemari secara global.
Varian tersebut dirancang sebagai limited modern edition yang tetap menjaga standar kualitas dan resep yang telah diwariskan turun-temurun. “Inovasi ini bukan sekadar menghadirkan rasa baru, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami untuk menjaga relevansi tanpa meninggalkan akar sejarah,” ujarnya.
Dalam konteks Lebaran, kehadiran varian seperti Pistachio Kunafa bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin membawa oleh-oleh dengan sentuhan berbeda. Apalagi, tradisi berbagi makanan saat Lebaran masih menjadi bagian penting dari budaya masyarakat, sehingga pilihan produk pun semakin beragam.
Peluncuran Pistachio Kunafa menunjukkan bahwa heritage bukanlah sesuatu yang statis. Ia hidup, berkembang, dan mampu berdialog dengan selera generasi masa kini tanpa kehilangan identitasnya sebagai ikon kuliner dan oleh-oleh kota Malang.
Sebagai bagian dari strategi penguatan awareness nasional, langkah ini juga menegaskan komitmen Pia Cap Mangkok untuk terus menjadi representasi rasa Malang yang relevan lintas zaman.
Baca juga: Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
Pada periode tersebut, konsumsi makanan manis cenderung meningkat, baik untuk berbuka puasa maupun sebagai sajian saat bersilaturahmi.
Baca juga: Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
Kondisi ini menginspirasi pelaku usaha kuliner menyesuaikan produk mereka dengan tren tersebut, salah satunya Pia Cap Mangkok yang selama ini dikenal sebagai ikon oleh-oleh khas Malang sejak 1959.
Pia legendaris tersebut menghadirkan kembali varian Pistachio Kunafa selama Ramadan yang menggabungkan pia dengan inspirasi kunafa, dessert Timur Tengah.
Pia Cap Mangkok sendiri bukan nama baru di dunia oleh-oleh. Berdiri sejak 1959, produk ini telah menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Malang selama lebih dari enam dekade.
Pia Cap Mangkok telah menjadi bagian dari tradisi wisata ke Malang. Menariknya, brand ini tetap mempertahankan konsep distribusi yang terbatas. Produknya tidak dipasarkan secara luas di berbagai kota, melainkan hanya bisa didapatkan langsung di Malang.
Pendekatan ini membuatnya tetap lekat dengan pengalaman wisata, sekaligus menjaga kesan autentik sebagai oleh-oleh khas daerah.
Direktur Pia Cap Mangkok, Eunike Christian mengatakan bahwa inovasi rasa dilakukan agar produk tetap relevan dengan perkembangan selera konsumen sekaligus menjembatani selera lintas generasi, menggabungkan karakter khas pia legendaris dengan sentuhan rasa Timur Tengah yang tengah digemari secara global.
Varian tersebut dirancang sebagai limited modern edition yang tetap menjaga standar kualitas dan resep yang telah diwariskan turun-temurun. “Inovasi ini bukan sekadar menghadirkan rasa baru, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami untuk menjaga relevansi tanpa meninggalkan akar sejarah,” ujarnya.
Dalam konteks Lebaran, kehadiran varian seperti Pistachio Kunafa bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin membawa oleh-oleh dengan sentuhan berbeda. Apalagi, tradisi berbagi makanan saat Lebaran masih menjadi bagian penting dari budaya masyarakat, sehingga pilihan produk pun semakin beragam.
Peluncuran Pistachio Kunafa menunjukkan bahwa heritage bukanlah sesuatu yang statis. Ia hidup, berkembang, dan mampu berdialog dengan selera generasi masa kini tanpa kehilangan identitasnya sebagai ikon kuliner dan oleh-oleh kota Malang.
Sebagai bagian dari strategi penguatan awareness nasional, langkah ini juga menegaskan komitmen Pia Cap Mangkok untuk terus menjadi representasi rasa Malang yang relevan lintas zaman.
Baca juga: Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.