Hypereport: Saatnya Film Animasi Indonesia Jadi Juara di Negeri Sendiri
01 April 2025 |
16:00 WIB
Pasar Indonesia untuk film animasi sangat menjanjikan. Namun, potensi itu belum mampu tergarap secara maksimal, sehingga berujung kepada penerimaan masyarakat. Untuk itu, perlu komitmen bersama semua pihak agar konsisten menciptakan karya film animasi.
Film Jumbo karya dari rumah produksi Visinema menjadi salah satu karya yang rilis pada Libur lebaran 2025 di banyak jaringan bioskop. Karya yang mendapatkan arahan dari sutradara Ryan Adriandhy itu juga memberikan kesegaran dalam perfilman Indonesia.
Ya, perfilman Indonesia memang lebih banyak di dominasi oleh film non animasi. Film-film animasi yang tayang di bioskop-bioskop di dalam negeri bisa dikatakan masih sangat minim.
Baca Juga: Review Film Animasi Jumbo: Menghadapi Kehilangan dari Perspektif Anak-anak
Sebelum jumbo, film animasi yang pernah menghiasi layar bioskop Indonesia seperti Kiko In The Deep Sea (2023), Nussa (2021), Adit Sopo Jarwo: The Movie (2021), dan sebagainya. Dari film-film tersebut, belum ada satu pun yang menembus box office atau jutaan penonton.
Meskipun begitu, Angga Dwimas Sasongko, Founder & Chief Executive Officer at Visinema, Chief Executive Officer Base Entertainment Shanty Harmayn, dan sutradara Faza Meonk sepakat bahwa potensi pasar untuk film animasi di dalam negeri tidak lah kecil.
Keluarga Indonesia – tidak bisa dimungkiri – kerap menonton film animasi asal luar negeri yang kerap menghiasi layar bioskop Indonesia. Contoh film itu adalah Inside Out dan Frozen yang mampu menghasilkan jutaan penonton.
Berdasarkan data Box Office Mojo yang dilihat oleh Hypeabis.id, perkiraan penghasilan kotor Inside Out 2 yang tayang pada 2024 berhasil mencapai US$5,7 juta dengan opening senilai US$1,3 juta. Jika dikonversi dalam nilai rupiah, karya dari sutradara Kelsey Mann itu berhasil meraup Rp95 miliar dengan US$1 sama dengan Rp16.566.
Sementara itu, laman Box Office Mojo mencatat perkiraan penghasilan kotor film Frozen II yang rilis pada 2019 lebih besar lagi, yakni US$14.885.131 di Indonesia.
Dengan potensi yang ada, Angga meyakini bahwa pasar Indonesia membutuhkan karya yang bisa bersaing dengan film animasi global. “Dan Jumbo dibuat untuk berkompetisi dengan animasi global,” katanya kepada Hypeabis.id seusai acara screening film Jumbo di Jakarta.
Dia mengatakan bahwa Jumbo adalah film animasi dengan cerita yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Dengan kata lain, karya ini untuk segala usia, yakni dewasa, remaja, dan anak-anak.
Keluarga dapat pergi ke bioskop untuk menyaksikan film Jumbo untuk merasakan perasaan senang, menangis bareng, dan petualangan. “Karena film ini dibikin untuk semua orang di Indonesia,” tegasnya.
Angga yang percaya Indonesia tidak boleh hanya sekadar menjadi pasar dan harus memiliki produk film animasi yang mampu menjadi pemenang di dalam negeri, berupaya maksimal dalam penggarapan film Jumbo – terlebih belum bisa ada yang juara dalam jumlah penonton terkait film animasi.
“Belum ada yang menang. Maka we don't hesitate, we don't feel takut tentang ini. Ini malah buat kami adalah salah satu cara untuk bisa menjadi game changer dan winner sekaligus. (1:49) Kami all out di animasi,” katanya.
Dalam pembuatannya, dia mengaku melakukannya dengan cara yang proper, menggunakan teknologi yang luar biasa, dan mengundang bakat-bakat hebat dalam animasi. Semua itu dilakukan untuk menghasilkan film animasi terbaik yang pernah ada, tidak cuma di Indonesia.
Bagi Shanty, tinggi potensi penonton film animasi yang ada di dalam negeri belum mampu diimbangi dengan pasokannya. Tidak bisa dimungkiri, jumlah film animasi yang tayang di bioskop-bioskop Indonesia masih terhitung sangat minim jika dibandingkan dengan karya non animasi.
Dengan begitu, dalam rangka memajukan industri film animasi, penting bagi para studio film di dalam negeri mulai memproduksinya. Dengan begitu, penonton film animasi di Indonesia dapat terbentuk.
Dia pun menilai, setidaknya ada satu film animasi yang rilis di bioskop dalam satu tahun guna membentuk penonton Indonesia.
“Jika sudah pasti ada film animasi [Setiap libur sekolah atau lebaran], akhirnya penontonnya juga akan terbentuk. Oh, Lebaran ini Jumbo, lebaran tahun depan, film apa ya? Lebaran tahun depannya lagi, film apa ya? Jadi, sudah menjadi sesuatu yang ditunggu,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah studio film di dalam negeri sudah mulai memproduksi film animasi. Kondisi menjadi pertanda baik bagi perfilman animasi Indonesia. Jumlah produser yang memproduksi film animasi harus lebih banyak dalam memajukan karya ini, seperti jumlah produser non animasi.
Dia menuturkan, industri film animasi yang sudah terbangun akan memiliki dampak yang berkelanjutan. Salah satu di antaranya adalah pembukaan lapangan pekerjaan. Bukan tanpa alasan, pada saat ini, Indonesia memiliki banyak talenta. Namun, supply production service ke negara-negara lain.
Talenta-talenta yang kerap menjadi bagian dari negara lain bisa ikut berpartisipasi dalam film animasi yang ada di dalam negeri jika jumlah produksi film juga mengalami peningkatan.
Meskipun begitu, baik Angga, Shanty, maupun Faza mengungkapkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dilalui ketika memproduksi film animasi – terutama untuk komersial. Ketiganya kompak bahwa biaya menjadi tantangan utama.
Angga mengungkapkan bahwa butuh biaya yang tidak kecil untuk membuat film animasi dengan skala dan kualitas seperti Jumbo. Dia enggan menyebutkan pasti nilai yang dikeluarkannya. Namun, biaya yang harus dikeluarkan jauh di atas Rp20 miliar.
Jumlah orang yang terlibat dalam produksi film Jumbo tidak lah sedikit. Dari kreator animasi saja, film Jumbo telah melibatkan 400. Selain itu, pembuatan film tersebut juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, yakni 5 tahun.
“Jadi, butuh kegilaan untuk investasi di [film] animasi,” katanya.
Shanty mengungkapkan, biaya yang tinggi untuk memproduksi film animasi dan waktu yang tidak sebentar dapat terjadi lantaran sifat alami medium yang ada. Produser film animasi Garuda di Dadaku itu harus mencari titik terkait besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proyek demi keberlanjutan bisnis.
Medium animasi dalam membuat film sangat imaginatif, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan mencari nilai keseimbangan yang dirasa cukup dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti pangsa pasar yang ingin dituju atau risiko yang akan diambil.
Tantangan lain adalah terkait penulisan naskah atau cerita. Tidak bisa dimungkiri bahwa cerita adalah segalanya. Penulisan naskah untuk animasi sangat berbeda dengan script untuk live action. Perbedaan itu terletak pada urutan, komponen, dan sebagainya.
Sementara itu, Faza Ibnu Ubaydillah atau yang kerap disapa Faza Meonk, Sutradara film animasi Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir (2017), mengungkapkan bahwa durasi pengerjaan yang lama merupakan tantangan lain selain biaya.
“Kami membutuhkan waktu 5 tahun buat mengerjakan film animasi 2D seperti itu. Jadi, sebagai sutradara, saya juga harus bersabar - mengikuti tahap demi tahap,” katanya.
Dia menambahkan, durasi yang panjang menjadi tantangan tersendiri karena ada pekerjaan lain juga yang harus dikerjakan olehnya. Selain itu, tantangan lain yang ada terkait dengan film animasi adalah cara meyakinkan penonton untuk menonton film animasi Indonesia dan kuantitas. Bukan tanpa alasan, pembuatan film animasi membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Memperbanyak jumlah produksinya dahulu. Baru kemudian nanti kualitas pasti akan mengikuti,” katanya.
Dengan tantangan yang ada, Faza menilai penting bagi pemerintah menghadirkan akses pembiayaan jika industri film animasi Indonesia mau maju dan kualitasnya mengalami peningkatan. Pada saat ini, banyak talenta di Indonesia yang memiliki kualitas dan mampu membuat karya yang bagus. Namun, biasanya terkendala dengan urusan pendanaan.
Pemerintah di Indonesia dapat melihat Malaysia yang memiliki lembaga yang kerap memberikan modal untuk proyek-proyek kreatif yang bertujuan menaikkan kualitas.
Baca Juga: 9 Kali Revisi, Perjalanan Ryan Adriandhy Menyempurnakan Naskah Jumbo
Film Jumbo karya dari rumah produksi Visinema menjadi salah satu karya yang rilis pada Libur lebaran 2025 di banyak jaringan bioskop. Karya yang mendapatkan arahan dari sutradara Ryan Adriandhy itu juga memberikan kesegaran dalam perfilman Indonesia.
Ya, perfilman Indonesia memang lebih banyak di dominasi oleh film non animasi. Film-film animasi yang tayang di bioskop-bioskop di dalam negeri bisa dikatakan masih sangat minim.
Baca Juga: Review Film Animasi Jumbo: Menghadapi Kehilangan dari Perspektif Anak-anak
Sebelum jumbo, film animasi yang pernah menghiasi layar bioskop Indonesia seperti Kiko In The Deep Sea (2023), Nussa (2021), Adit Sopo Jarwo: The Movie (2021), dan sebagainya. Dari film-film tersebut, belum ada satu pun yang menembus box office atau jutaan penonton.
Meskipun begitu, Angga Dwimas Sasongko, Founder & Chief Executive Officer at Visinema, Chief Executive Officer Base Entertainment Shanty Harmayn, dan sutradara Faza Meonk sepakat bahwa potensi pasar untuk film animasi di dalam negeri tidak lah kecil.
Keluarga Indonesia – tidak bisa dimungkiri – kerap menonton film animasi asal luar negeri yang kerap menghiasi layar bioskop Indonesia. Contoh film itu adalah Inside Out dan Frozen yang mampu menghasilkan jutaan penonton.
Berdasarkan data Box Office Mojo yang dilihat oleh Hypeabis.id, perkiraan penghasilan kotor Inside Out 2 yang tayang pada 2024 berhasil mencapai US$5,7 juta dengan opening senilai US$1,3 juta. Jika dikonversi dalam nilai rupiah, karya dari sutradara Kelsey Mann itu berhasil meraup Rp95 miliar dengan US$1 sama dengan Rp16.566.
Sementara itu, laman Box Office Mojo mencatat perkiraan penghasilan kotor film Frozen II yang rilis pada 2019 lebih besar lagi, yakni US$14.885.131 di Indonesia.
Dengan potensi yang ada, Angga meyakini bahwa pasar Indonesia membutuhkan karya yang bisa bersaing dengan film animasi global. “Dan Jumbo dibuat untuk berkompetisi dengan animasi global,” katanya kepada Hypeabis.id seusai acara screening film Jumbo di Jakarta.
Dia mengatakan bahwa Jumbo adalah film animasi dengan cerita yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Dengan kata lain, karya ini untuk segala usia, yakni dewasa, remaja, dan anak-anak.
Keluarga dapat pergi ke bioskop untuk menyaksikan film Jumbo untuk merasakan perasaan senang, menangis bareng, dan petualangan. “Karena film ini dibikin untuk semua orang di Indonesia,” tegasnya.
Angga yang percaya Indonesia tidak boleh hanya sekadar menjadi pasar dan harus memiliki produk film animasi yang mampu menjadi pemenang di dalam negeri, berupaya maksimal dalam penggarapan film Jumbo – terlebih belum bisa ada yang juara dalam jumlah penonton terkait film animasi.
“Belum ada yang menang. Maka we don't hesitate, we don't feel takut tentang ini. Ini malah buat kami adalah salah satu cara untuk bisa menjadi game changer dan winner sekaligus. (1:49) Kami all out di animasi,” katanya.
Dalam pembuatannya, dia mengaku melakukannya dengan cara yang proper, menggunakan teknologi yang luar biasa, dan mengundang bakat-bakat hebat dalam animasi. Semua itu dilakukan untuk menghasilkan film animasi terbaik yang pernah ada, tidak cuma di Indonesia.
Bagi Shanty, tinggi potensi penonton film animasi yang ada di dalam negeri belum mampu diimbangi dengan pasokannya. Tidak bisa dimungkiri, jumlah film animasi yang tayang di bioskop-bioskop Indonesia masih terhitung sangat minim jika dibandingkan dengan karya non animasi.
Dengan begitu, dalam rangka memajukan industri film animasi, penting bagi para studio film di dalam negeri mulai memproduksinya. Dengan begitu, penonton film animasi di Indonesia dapat terbentuk.
Dia pun menilai, setidaknya ada satu film animasi yang rilis di bioskop dalam satu tahun guna membentuk penonton Indonesia.
“Jika sudah pasti ada film animasi [Setiap libur sekolah atau lebaran], akhirnya penontonnya juga akan terbentuk. Oh, Lebaran ini Jumbo, lebaran tahun depan, film apa ya? Lebaran tahun depannya lagi, film apa ya? Jadi, sudah menjadi sesuatu yang ditunggu,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah studio film di dalam negeri sudah mulai memproduksi film animasi. Kondisi menjadi pertanda baik bagi perfilman animasi Indonesia. Jumlah produser yang memproduksi film animasi harus lebih banyak dalam memajukan karya ini, seperti jumlah produser non animasi.
Dia menuturkan, industri film animasi yang sudah terbangun akan memiliki dampak yang berkelanjutan. Salah satu di antaranya adalah pembukaan lapangan pekerjaan. Bukan tanpa alasan, pada saat ini, Indonesia memiliki banyak talenta. Namun, supply production service ke negara-negara lain.
Talenta-talenta yang kerap menjadi bagian dari negara lain bisa ikut berpartisipasi dalam film animasi yang ada di dalam negeri jika jumlah produksi film juga mengalami peningkatan.
Butuh Investasi Besar
Meskipun begitu, baik Angga, Shanty, maupun Faza mengungkapkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dilalui ketika memproduksi film animasi – terutama untuk komersial. Ketiganya kompak bahwa biaya menjadi tantangan utama.
Angga mengungkapkan bahwa butuh biaya yang tidak kecil untuk membuat film animasi dengan skala dan kualitas seperti Jumbo. Dia enggan menyebutkan pasti nilai yang dikeluarkannya. Namun, biaya yang harus dikeluarkan jauh di atas Rp20 miliar.
Jumlah orang yang terlibat dalam produksi film Jumbo tidak lah sedikit. Dari kreator animasi saja, film Jumbo telah melibatkan 400. Selain itu, pembuatan film tersebut juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, yakni 5 tahun.
“Jadi, butuh kegilaan untuk investasi di [film] animasi,” katanya.
Shanty mengungkapkan, biaya yang tinggi untuk memproduksi film animasi dan waktu yang tidak sebentar dapat terjadi lantaran sifat alami medium yang ada. Produser film animasi Garuda di Dadaku itu harus mencari titik terkait besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proyek demi keberlanjutan bisnis.
Medium animasi dalam membuat film sangat imaginatif, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan mencari nilai keseimbangan yang dirasa cukup dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti pangsa pasar yang ingin dituju atau risiko yang akan diambil.
Tantangan lain adalah terkait penulisan naskah atau cerita. Tidak bisa dimungkiri bahwa cerita adalah segalanya. Penulisan naskah untuk animasi sangat berbeda dengan script untuk live action. Perbedaan itu terletak pada urutan, komponen, dan sebagainya.
Sementara itu, Faza Ibnu Ubaydillah atau yang kerap disapa Faza Meonk, Sutradara film animasi Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir (2017), mengungkapkan bahwa durasi pengerjaan yang lama merupakan tantangan lain selain biaya.
“Kami membutuhkan waktu 5 tahun buat mengerjakan film animasi 2D seperti itu. Jadi, sebagai sutradara, saya juga harus bersabar - mengikuti tahap demi tahap,” katanya.
Dia menambahkan, durasi yang panjang menjadi tantangan tersendiri karena ada pekerjaan lain juga yang harus dikerjakan olehnya. Selain itu, tantangan lain yang ada terkait dengan film animasi adalah cara meyakinkan penonton untuk menonton film animasi Indonesia dan kuantitas. Bukan tanpa alasan, pembuatan film animasi membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Memperbanyak jumlah produksinya dahulu. Baru kemudian nanti kualitas pasti akan mengikuti,” katanya.
Dengan tantangan yang ada, Faza menilai penting bagi pemerintah menghadirkan akses pembiayaan jika industri film animasi Indonesia mau maju dan kualitasnya mengalami peningkatan. Pada saat ini, banyak talenta di Indonesia yang memiliki kualitas dan mampu membuat karya yang bagus. Namun, biasanya terkendala dengan urusan pendanaan.
Pemerintah di Indonesia dapat melihat Malaysia yang memiliki lembaga yang kerap memberikan modal untuk proyek-proyek kreatif yang bertujuan menaikkan kualitas.
Baca Juga: 9 Kali Revisi, Perjalanan Ryan Adriandhy Menyempurnakan Naskah Jumbo
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.