Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Review Film Animasi Jumbo: Menghadapi Kehilangan dari Perspektif Anak-anak

31 March 2025   |   07:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Meski tampak seperti film keluarga yang ringan, Jumbo (2025) menyimpan lapisan cerita yang kompleks. Dengan pendekatan yang penuh kepekaan dan emosional, film ini mampu menggambarkan bagaimana seorang anak berusaha memahami duka, menghadapi rasa sakit, dan menemukan cara untuk melanjutkan hidup. 

Perasaan duka sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam narasi cerita film Indonesia. Kisahnya telah banyak dieksplorasi. Akan tetapi, kebanyakan cerita duka berasal dari perspektif orang dewasa. Film ini menawarkan sebaliknya, bagaimana ketika perasaan duka direspons oleh anak-anak.

Film Jumbo akan berfokus pada Don (Pengisi suara Prince Poetiray dan Den Bagus Sasono), seorang anak bertubuh besar yang kerap diejek temannya dengan panggilan Jumbo. Setelah orang tuanya tiada, dia tinggal bersama neneknya, Oma (Ratna Riantiarno). 

Baca juga: Film Jumbo Tayang di 17 Negara, Mayoritas Sasar Bioskop Eropa
 

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Walaupun tumbuh tanpa orang tua, Don tetap merasakan kehadiran mereka melalui buku dongeng yang ditinggalkan orang tuanya. Don bahkan ingin mementaskan isi cerita buku tersebut menjadi sebuah lomba pertunjukan. 

Namun, segalanya berubah ketika buku itu dicuri oleh Atta (M. Adhiyat), teman yang selalu mengganggunya. Bersama dua sahabatnya, Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail), Don berusaha merebut kembali bukunya.

Di tengah usahanya mendapatkan buku tersebut, Don bertemu dengan Meri (Quinn Salman), seorang anak misterius yang meminta bantuannya untuk bersatu kembali dengan orang tuanya.

Dari sini, konflik mulai memuncak. Don tak hanya menghadapi tantangan untuk menampilkan pertunjukan bakat, tetapi juga membantu sosok bernama Meri, kawan barunya. Jumbo berubah jadi sebuah film petualangan yang seru.
 

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Sebagai sutradara sekaligus penulis, Ryan Adriandhy merancang film ini dengan pendekatan yang menggugah. Dia berupaya meluruskan anggapan keliru bahwa animasi adalah sebuah genre, padahal sebenarnya animasi hanyalah medium untuk bercerita. 

Dalam film ini, alur cerita, sinematografi, serta emosi yang disampaikan tidak berbeda dengan film live-action pada umumnya. Namun, sebagai medium, animasi menawarkan fleksibilitas penceritaan yang lebih luas, termasuk dalam menghadirkan unsur imajinatif dengan cara yang luar biasa.

Struktur penceritaan memang jadi salah satu elemen pertama yang mencuri perhatian. Alur ceritanya disusun rapi, mulai dari konflik khas anak-anak, seperti yang muncul saat adegan Don dirundung oleh Atta, hingga Don yang mencoba membuktikan diri melalui pertunjukan bakat.

Namun, meski Don sering dirundung, karakternya dipoles sedemikian rupa untuk merespons hal tersebut dengan menarik. Dia ‘melawan’ dengan karya, alih-alih berakhir menjadi murung dan terkucilkan. 

Ya, memang, perundungan selalu punya dampak. Ada kalanya Don sedih dan ditinggalkan teman. Akan tetapi, Don, lewat dua temannya, menunjukkan bahwa dia punya support system yang kuat untuk bertahan dengan cara yang menggugah.
 

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)


Dalam film ini, Ryan juga tak ragu untuk memberi porsi latar belakang terhadap karakter-karakternya. Hal ini membuat setiap karakter yang ada memiliki motivasi yang jelas dalam tindakan dan respons mereka terhadap suatu hal.

Misalnya, karakter Atta. Meski sekilas dia suka merundung, Ryan tak serta merta mengecap karakter tersebut sebagai sosok antagonis. Ryan dengan cermat menggambarkan kompleksitas karakter ini dan membuat penonton memahami alasan di balik setiap perilaku tokohnya.

Hal ini juga berlaku bagi karakter lain yang juga punya latar belakang kuat. Tidak hanya karakter anak-anak saja, karakter orang dewasa pun diberi ruang latar belakang yang cukup kuat. 

Baca juga: Tantangan Baru, Ariel NOAH Debut Dubbing di Film Animasi Jumbo

Dari kepingan-kepingan detail ini, Ryan kemudian membangun dunia filmnya dengan cara yang sangat menarik. Ada benang merah yang muncul, yakni hampir semua karakter punya orang tua yang tak lengkap. Semua karakter yang ada di film ini kemudian terkoneksi dengan duka yang sama. 

Namun, setiap duka tentu akan direspons dengan cara berbeda dari setiap orang. Film ini membawa penonton ke dalam perspektif anak-anak, yang sering kali mengalami kehilangan, tetapi tetap punya cara untuk melanjutkan hidup. 

Keberanian Jumbo dalam mengangkat tema ini terasa autentik dan relevan. Meskipun dikemas dalam bentuk animasi yang sering kali dianggap ringan, film ini justru berhasil menampilkan emosi yang mendalam.

Dari perasaan kesepian, amarah, hingga penerimaan, semuanya dikemas dengan narasi yang menggugah dan mudah dipahami oleh berbagai usia. Hal ini mengingatkan kita bahwa animasi bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium bercerita yang mampu menyampaikan pesan-pesan penting. 
 

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios) 

Salah satu kekuatan utama film ini adalah bagaimana dia menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menghadapi duka. Setiap anak memiliki caranya sendiri dalam menavigasi perasaan kehilangan, entah melalui imajinasi, pertemanan, atau bahkan keheningan.

Jumbo tidak memberikan solusi instan, melainkan mengajak penonton untuk memahami bahwa proses berduka adalah perjalanan yang perlu dijalani dengan penuh kesabaran dan dukungan.

Dalam film ini, kehilangan tidak hanya digambarkan sebagai kesedihan semata. Justru dari kehilangan, setiap individu mengalami pertumbuhan. Kehilangan juga membuka jalan bagi terciptanya hubungan baru serta menghadirkan cinta yang abadi, terutama antara orang tua dan anak.

Meski Don dan orang tuanya telah berpisah lama, menarik melihat bagaimana keduanya tetap terkoneksi satu sama lain dengan sebuah buku dongeng. Memang, terkadang ingatan punya cara yang ajaib untuk mendekatkan dengan orang yang kita sayang. 

Dari aspek animasi, Jumbo tampil memukau dengan detail yang kaya. Penggunaan warna pastel dan palet cerah menciptakan suasana hangat, layaknya dongeng sebelum tidur. Setiap adegan dikerjakan dengan cermat, mulai dari tekstur kain, rambut, dan kulit, hingga pantulan cahaya di genangan air di gang sempit.

Secara gaya, animasi Jumbo memiliki kemiripan dengan film-film Pixar, tapi tetap mempertahankan sentuhan khas Indonesia. Film ini juga dengan tegas membedakan gaya animasi saat di kehidupan nyata dan di alam mimpi, yang eksekusinya menarik. 

Sebagai animasi asli buatan Indonesia, film ini juga menyajikan banyak detail menarik di sepanjang ceritanya. Film yang mengambil latar era 2000-an ini akan mengajak penonton bernostalgia dengan hidupan pada masa itu. 

Misanya, saat anak-anak lebih sering bermain di luar tanpa terhubung dengan gadget. Selain itu, kehidupan masyarakat di Kampung Seruni juga tergambar kuat, dari budaya gotong-royong, perayaan 17 Agustus yang meriah, hingga sajian sederhana seperti nasi telur kecap yang membangkitkan kenangan masa kecil. Semua elemen ini menciptakan suasana hangat saat menonton. 
 

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Still foto Jumbo (Sumber gambar: Visinema Studios)

Oh, ya, setting tempat lapangan kosong tempat Don dan kawan-kawannya main juga tak kalah menarik. Latar tempat itu seperti sebuah tribute untuk film Doraemon, ketika Nobita dan kawan-kawan juga punya latar yang mirip.

Tak kalah menarik juga momen menghangatkan yang muncul saat musik dan lagu-lagu ramah anak mengiringi adegan-adegan penting. Khususnya, lagu "Kumpul Bocah" yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata berhasil membangkitkan nostalgia.

Dengan durasi 1 jam 42 menit, Jumbo menawarkan lebih dari sekadar animasi berkualitas. Ini adalah tonggak sejarah baru dari perkembangan animasi di Indonesia. Tak mengherankan bila film ini diproyeksikan juga tayang di 17 negara lain. Akan tetapi, sebelum langkah besar tersebut, film ini akan tayang terlebih dahulu di momen Lebaran 2025.

Baca juga: Review Mufasa: The Lion King, Kilas Balik Masa Kecil Si Raja Hutan

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

6 Alasan Drakor The Divorce Insurance Menarik untuk Ditonton

BERIKUTNYA

5 Rekomendasi Film Sutradara Charles Gozali, Ada Qodrat 2 yang Tayang Lebaran 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: