World Bipolar Day (WBD) atau Hari Bipolar Sedunia diperingati pada 30 Maret tiap tahunnya. (Sumber gambar: Michele Henderson/Unsplash)

Sejarah Hari Bipolar Sedunia yang Diperingati Tiap 30 Maret

30 March 2025   |   09:09 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

World Bipolar Day (WBD) atau Hari Bipolar Sedunia diperingati pada 30 Maret tiap tahunnya. Peringatan ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran dunia terhadap gangguan bipolar, serta menghilangkan stigma dan diskriminasi sosial terhadap penderita gangguan kesehatan tersebut. 

Gangguan bipolar yang sebelumnya dikenal sebagai penyakit manik-depresif, adalah gangguan otak yang menyebabkan perubahan tidak biasa atau ekstrem pada suasana hati, energi, dan kemampuan seseorang untuk beraktivitas.

Mengutip dari WHO, selama episode manik, penderita bipolar umumnya mengalami suasana hati yang sangat tinggi dengan banyak energi (merasa sangat bahagia, bersemangat, terlalu aktif). 

Baca juga: Mengenal Bipolar, Penyebab, & Cara Pemulihannya

Setelah itu, mereka mungkin merasakan euforia, perubahan suasana hati yang tiba-tiba atau emosi yang berlebihan (tertawa tak terkendali atau merasa jauh lebih mudah tersinggung, gelisah atau gelisah dari biasanya). 

Sebaliknya, selama episode depresi, seseorang mengalami suasana hati yang tertekan yakni merasa sedih, mudah tersinggung, hampa. Mereka mungkin merasa kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang sebelumnya mereka nikmati.

Episode depresi berbeda dari fluktuasi suasana hati yang umum dialami kebanyakan orang, karena gejalanya berlangsung hampir sepanjang hari, setiap hari, dan setidaknya selama dua minggu.

Gangguan bipolar biasanya berkembang pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Akan tetapi, beberapa orang mengalami gejala pertama mereka selama masa kanak-kanak, dan beberapa lainnya mengalaminya di usia lanjut.

Bipolar sering kali tidak dikenali sebagai penyakit, dan orang-orang mungkin menderita selama bertahun-tahun sebelum didiagnosis dan diobati dengan tepat. Seperti diabetes atau penyakit jantung, gangguan bipolar adalah penyakit jangka panjang yang harus dikelola dengan hati-hati sepanjang hidup seseorang.

Pasalnya, gangguan bipolar merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia karena dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan. Orang dengan gangguan bipolar dapat mengalami hubungan yang tegang, masalah di sekolah atau tempat kerja, serta kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk, meningkatkan risiko bunuh diri dan timbulnya gangguan kecemasan serta penyalahgunaan zat. 

Menurut data WHO, diperkirakan sebanyak 40 juta orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan bipolar pada 2019. Kondisi ini terutama ditemukan pada orang usia kerja, tetapi juga pada kaum muda. Meskipun prevalensi gangguan bipolar pada pria dan wanita hampir sama, data yang tersedia menunjukkan bahwa wanita lebih sering didiagnosis bipolar.  

Di seluruh dunia, cakupan perawatan untuk penderita gangguan bipolar masih rendah. Baik pria maupun wanita sering kali salah didiagnosis. Banyak yang tidak memiliki akses ke layanan dan intervensi yang direkomendasikan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Di sisi lain, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan bipolar juga masih terjadi baik di masyarakat maupun layanan kesehatan. Hal ini dapat menghambat akses bagi penderita bipolar ke perawatan kesehatan. Hal ini juga memicu pengucilan sosial dan dapat membatasi kesempatan mereka mengakses pendidikan, pekerjaan, dan perumahan.


Sejarah Hari Bipolar Sedunia

Untuk mengatasi stigma dan diskriminasi sosial yang dialami oleh para penderita bipolar, sejumlah organisasi internasional yakni International Society for Bipolar Disorders (ISBD), International Bipolar Foundation (IBPF), dan Asian Network of Bipolar Disorder (ANBD), bersatu dengan menginisiasi Hari Bipolar Sedunia.

Mengutip laman resmi IBPF, Hari Bipolar Sedunia pertama kali diperingati pada 30 Maret 2014. Pemilihan tanggal tersebut  merujuk pada hari ulang tahun pelukis kenamaan dunia Vincent Van Gogh, yang didiagnosis menderita gangguan bipolar.

Tujuan dibuatnya Hari Bipolar Sedunia adalah untuk meningkatkan kesadaran dunia terhadap gangguan bipolar dan menghilangkan stigma sosial. Melalui kerja sama internasional, peringatan ini dibuat untuk memberikan informasi kepada masyarakat dunia tentang gangguan bipolar yang akan mendidik dan meningkatkan kepekaan terhadap penyakit tersebut. 

Gangguan bipolar adalah penyakit mental yang menjadi tantangan besar bagi pasien, petugas kesehatan, anggota keluarga, dan masyarakat. Meskipun gangguan bipolar termasuk kondisi medis yang telah diterima di beberapa belahan dunia, sayangnya stigma yang terkait dengan penyakit ini menjadi penghalang untuk mendapatkan perawatan serta terus menghambat diagnosis dini dan pengobatan yang efektif bagi penderitanya.

Bagi mereka yang hidup dengan gangguan bipolar, Hari Bipolar Sedunia menawarkan kesempatan untuk terhubung dengan orang lain serta bantuan dalam memperoleh akses ke sumber daya dan hubungan berharga yang dapat meningkatkan kehidupan mereka melalui pengobatan.

Pada Hari Bipolar Sedunia, para pengidap bipolar bisa mulai menjalin hubungan dan ingatkan orang-orang bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi apa yang mereka alami. Dengan berbagi cerita secara daring dengan tagar seperti #BipolarStrong dan #WorldBipolarDay, peringatan ini dapat membuat masyarakat dunia bersatu untuk mendidik, berempati, dan memberdayakan orang lain.

Baca juga: Anak-anak Bisa Kena Gangguan Bipolar, Kenali Ciri-cirinya

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Rekomendasi Hotel untuk Staycation di Jakarta saat Libur Lebaran 2025

BERIKUTNYA

APFI: Film Lebaran Berpotensi Sumbang 20-30 Persen dari Total Penonton Tahunan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga