Hari Nyepi (Sumber Foto: Pemkot Denpasar)

Tradisi Umat Hindu di Bali saat Nyepi Sebagai Simbol Penyucian

29 March 2025   |   08:32 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Hari Raya Nyepi jatuh pada Sabtu, 29 Maret 2025. Perayaan ini menandai Tahun Baru Saka 1947 dalam kalender Hindu. Nyepi berasal dari kata sepi atau sunyi dan senyap. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas yang dilakukan masyarakat seperti biasanya saat Hari Raya Nyepi.

Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, kecuali rumah sakit. Tujuan utama perayaan ini adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Baca juga: Etika Berwisata di Bali Saat Hari Raya Nyepi

Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali dengan serangkaian tradisi yang sarat makna spiritual. Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Denpasar, berikut adalah beberapa tradisi utama yang dilakukan dalam rangkaian perayaan Nyepi.
 

1. Upacara Melasti

Beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti, yaitu ritual penyucian diri dan alam semesta. Upacara ini biasanya dilakukan di pantai atau sumber air lainnya, yang dianggap sebagai tirta amerta atau air kehidupan, dengan tujuan membersihkan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu. Selama upacara, para peserta mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian.


2. Upacara Tawur Kesanga dan Tradisi Ogoh-ogoh

Sehari sebelum Nyepi, dilaksanakan upacara Tawur Kesanga yang bertujuan untuk menyeimbangkan dan menyucikan alam semesta dari pengaruh negatif. Upacara ini diakhiri dengan Tradisi Pangrupukan, yaitu pawai ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan sifat-sifat buruk manusia. Setelah diarak keliling desa, ogoh-ogoh biasanya dibakar sebagai simbol penghancuran sifat-sifat negatif tersebut.


3. Catur Brata Penyepian

Catur Brata Penyepian adalah empat pantangan utama yang dijalankan oleh umat Hindu di Bali selama Hari Raya Nyepi. Tujuan dari pelaksanaannya adalah untuk mencapai keseimbangan dan harmoni dalam diri sendiri, masyarakat, dan alam semesta melalui introspeksi dan pengendalian diri. Berikut empat pantangan dalam Catur Brata Penyepian.
  • Amati Geni: Tidak menyalakan api atau cahaya, termasuk penggunaan listrik. Hal ini melambangkan pengendalian diri dan pengekangan hawa nafsu.
  • Amati Karya: Tidak melakukan aktivitas kerja atau kegiatan fisik, memberikan kesempatan untuk merenung dan melakukan introspeksi diri.
  • Amati Lelungan: Tidak bepergian atau meninggalkan rumah, yang memungkinkan individu untuk fokus pada meditasi dan refleksi spiritual.
  • Amati Lelanguan: Tidak menikmati hiburan atau kesenangan duniawi, mendorong fokus pada peningkatan spiritual dan pemurnian diri.

Pelaksanaan Catur Brata Penyepian berlangsung selama 24 jam, mulai dari matahari terbit hingga matahari terbit keesokan harinya. Selama periode ini, seluruh aktivitas di Bali terhenti yang menciptakan suasana hening dan damai. Melalui penerapan Catur Brata Penyepian, umat Hindu di Bali berupaya mencapai keseimbangan batin, memperkuat disiplin diri, dan memperdalam hubungan spiritual mereka dengan Tuhan dan alam semesta.


4. Ngembak Geni

Sehari setelah Nyepi, umat Hindu merayakan Ngembak Geni, yang merupakan momen untuk bersilaturahmi, memaafkan satu sama lain, dan mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Rangkaian tradisi ini mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam dalam kehidupan umat Hindu di Bali, dengan tujuan mencapai keseimbangan dan harmoni dalam diri sendiri, masyarakat, dan alam semesta. 

Baca juga: Hari Raya Nyepi, Candi Prambanan Bakal Ditutup Pada 29 Maret 2025

Para pemuda dan pemudi juga akan melakukan omed-omedan usai tradisi Ngembak Geni. Festival saling mencium ini dilakukan untuk mempererat keakraban antar umat Hindu. Tradisi ini menjadi simbol persatuan dan doa bersama untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Omed-omedan juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan.

SEBELUMNYA

Cara Membuat Ketupat Lebaran yang Lembut dan Kenyal

BERIKUTNYA

5 Masjid Termegah di Dunia yang Kaya Sejarah Peradaban Islam

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga