Jumlah Pemudik Menurun, Ekonom Imbau Masyarakat Dukung Belanja di Daerah
26 March 2025 |
16:45 WIB
Pekan ini, arus mudik mulai mengalir ke berbagai daerah di Indonesia. Mudik merupakan pergerakan pulang kampung yang telah menjadi tradisi tahunan sekaligus penyumbang ekonomi negara. Sebab mudik juga merekam daya beli masyarakat dan pergerakan inflasi.
Tahun ini jumlah pemudik memang tidak sebanyak tahun lalu. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran 2025 sebanyak 146,48 juta orang, alias turun 24,4 persen dari proyeksi 2024 dengan 193,6 juta pemudik.
Baca juga: Fenomena Unik dari Tradisi Mudik Lebaran Menurut Sosiolog
Kendati begitu, pemerintah juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi lewat berbagai kebijakan strategis guna mencapai target pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada 2025. Salah satunya dengan menyalurkan bansos hingga stimulus khusus untuk Lebaran.
Belum lama ini, negara telah menurunkan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13-14 persen selama masa angkutan Lebaran 2025. Ketetapan ini dibuat guna memberikan kemudahan transportasi untuk bepergian selama libur Idulfitri.
Peneliti Ekonomi Digital Nailul Huda mengatakan, sebagai sebuah siklus tingkat konsumsi masyarakat memang meningkat saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Salah satu faktornya adalah masyarakat mendapat tunjangan hari raya (THR).
Momen inilah yang menurutnya berdampak pada pendapatan disposable masyarakat sehingga lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Walhasil, ketika ada tambahan pendapatan, masyarakat juga cenderung meningkatkan konsumsi.
"Saat Lebaran, konsumsi rumah tangga akan meningkat, di tempat perbelanjaan akan ramai dan begitu juga untuk belanja-belanja secara online, ada kecenderungan akan meningkat," katanya.
Menyikapi pemberian diskon tiket pesawat, Nailul mengatakan hal itu sedikit banyak akan menggerakkan masyarakat untuk menggunakan transportasi tersebut. Namun, dia juga menekankan agar pemerintah memeriksa harga ketika peak season yang kadang tidak wajar.
Lain dari itu, alih-alih di kota, para pemudik juga bisa membelanjakan uang di daerah asal. Sebab dengan ini perputaran dan pertumbuhan ekonomi ketika Lebaran bisa lebih cepat lagi di daerah tempat mereka berasal. Terutama untuk pelaku UMKM dan pariwisata.
Lebih lanjut Nailul mengungkap pemerintah juga perlu menyediakan stok barang bahan makanan untuk memenuhi permintaan ketika Ramadan dan Lebaran. Termasuk juga di pasar tradisional yang di beberapa daerah masih dipergunakan untuk berbelanja kebutuhan Lebaran, mulai dari makanan hingga sandang.
"Stok di pasar tradisional maupun modern harus dijaga dengan baik sehingga tidak ada kelangkaan pasokan. Ketika pasokan langka, harga menjadi tidak terkendali. Inflasi menjadi tidak wajar," katanya.
Sebagai tambahan informasi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama libur Lebaran 2025 menurun dibanding tahun lalu. Penurunan ini terjadi seiring dengan jumlah pemudik yang mengalami penurunan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menyampaikan, sari pergerakan para pemudik, perputaran uang pada Lebaran 2025 diasumsikan mencapai Rp137,97 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dari asumsi 2024 yang mencapai Rp157,3 triliun, atau mengalami penurunan sekitar 12,3 persen.
"Prediksi tersebut dihitung dari jumlah pemudik tahun ini sejumlah 146,48 juta atau setara dengan 36,26 juta keluarga dengan asumsi per keluarga 4 orang,” ujarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tahun ini jumlah pemudik memang tidak sebanyak tahun lalu. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran 2025 sebanyak 146,48 juta orang, alias turun 24,4 persen dari proyeksi 2024 dengan 193,6 juta pemudik.
Baca juga: Fenomena Unik dari Tradisi Mudik Lebaran Menurut Sosiolog
Kendati begitu, pemerintah juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi lewat berbagai kebijakan strategis guna mencapai target pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada 2025. Salah satunya dengan menyalurkan bansos hingga stimulus khusus untuk Lebaran.
Belum lama ini, negara telah menurunkan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13-14 persen selama masa angkutan Lebaran 2025. Ketetapan ini dibuat guna memberikan kemudahan transportasi untuk bepergian selama libur Idulfitri.
Peneliti Ekonomi Digital Nailul Huda mengatakan, sebagai sebuah siklus tingkat konsumsi masyarakat memang meningkat saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Salah satu faktornya adalah masyarakat mendapat tunjangan hari raya (THR).
Momen inilah yang menurutnya berdampak pada pendapatan disposable masyarakat sehingga lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Walhasil, ketika ada tambahan pendapatan, masyarakat juga cenderung meningkatkan konsumsi.
"Saat Lebaran, konsumsi rumah tangga akan meningkat, di tempat perbelanjaan akan ramai dan begitu juga untuk belanja-belanja secara online, ada kecenderungan akan meningkat," katanya.
Menyikapi pemberian diskon tiket pesawat, Nailul mengatakan hal itu sedikit banyak akan menggerakkan masyarakat untuk menggunakan transportasi tersebut. Namun, dia juga menekankan agar pemerintah memeriksa harga ketika peak season yang kadang tidak wajar.
Lain dari itu, alih-alih di kota, para pemudik juga bisa membelanjakan uang di daerah asal. Sebab dengan ini perputaran dan pertumbuhan ekonomi ketika Lebaran bisa lebih cepat lagi di daerah tempat mereka berasal. Terutama untuk pelaku UMKM dan pariwisata.
Lebih lanjut Nailul mengungkap pemerintah juga perlu menyediakan stok barang bahan makanan untuk memenuhi permintaan ketika Ramadan dan Lebaran. Termasuk juga di pasar tradisional yang di beberapa daerah masih dipergunakan untuk berbelanja kebutuhan Lebaran, mulai dari makanan hingga sandang.
"Stok di pasar tradisional maupun modern harus dijaga dengan baik sehingga tidak ada kelangkaan pasokan. Ketika pasokan langka, harga menjadi tidak terkendali. Inflasi menjadi tidak wajar," katanya.
Sebagai tambahan informasi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama libur Lebaran 2025 menurun dibanding tahun lalu. Penurunan ini terjadi seiring dengan jumlah pemudik yang mengalami penurunan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menyampaikan, sari pergerakan para pemudik, perputaran uang pada Lebaran 2025 diasumsikan mencapai Rp137,97 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dari asumsi 2024 yang mencapai Rp157,3 triliun, atau mengalami penurunan sekitar 12,3 persen.
"Prediksi tersebut dihitung dari jumlah pemudik tahun ini sejumlah 146,48 juta atau setara dengan 36,26 juta keluarga dengan asumsi per keluarga 4 orang,” ujarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.