Sejumlah karya Gatot Pujiarto dalam pameran Stitching Gesture di Jagad Gallery (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menikmati Seni Tapestri Gatot Pujiarto dalam Pameran Stitching Gesture 

10 March 2025   |   21:53 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah kanvas tanpa bingkai berukuran gigantik menyirap mata pengunjung. Di bidangnya gambar-gambar acak dengan warna kontras saling bertubrukan. Ada figur gambar manusia, hewan, pohon, hingga burung dengan corak lukisan arkaik.

Namun, garis, lengkung, dan guratan figur itu tidak terbuat dari cat atau pensil. Mereka terbuat dari benang yang dijahit sedemikian rupa. Berjejalin dengan kain perca, benang beraneka warna, lalu terbentanglah narasi. Sebuah luikisan yang bercerita.

Lukisan bertajuk Mimpi, itu adalah karya seniman Gatot Pujiarto. Berdimensi 220 x 400 cm, ini adalah satu dari sekian karyanya dalam seteleng Stitching Gesture. Dihelat di Jagad Gallery, pameran ini berlangsung hingga 23 Maret 2025.

Baca juga: Musikal Mar: Ketika Sejarah dan Fiksi Diramu lewat Karya Ismail Marzuki

Di lanskap seni kontemporer Indonesia, nama Gatot memang sering luput dari publik seni lokal. Seniman asal Malang, Jawa Timur itu justru harum di kancah internasional. Karya-karyanya banyak dikoleksi kolektor Asia, Eropa dan Amerika.

"Karya-karya saya sebenarnya hampir mirip garis dan sektsa, tapi dibuat dengan benang. Di dunia seni rupa pola menjahit ini dikenal dengan nama tapestri," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.

Lukisan bertajuk Mimpi  karya Gatot Pujiarto dalam pameran Stitching Gesture di Jagad Gallery (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Lukisan bertajuk Mimpi karya Gatot Pujiarto dalam pameran Stitching Gesture di Jagad Gallery (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Gatot adalah seniman jebolan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Negeri Malang. Sebelum berkarya lewat tapestri perupa berusia 55 tahun itu sebenarnya juga melukis laiknya seniman lain. Kanvas, kuas, dan bau cat adalah makanannya sehari-hari.  

Namun, setelah menjalani residensi di Selasar Sunaryo Artspace, Bandung pada 2011, Gatot menemukan inspirasi baru dalam memandang material. Gatot kala itu melihat kain kasa, dan majalah bekas di sekitar rumah lalu meramunya sebagai media karya.

"Di rumah kala itu ada banyak kain perca, pertama memang tidak saya jahit cuma ditempel. Namun lambat laun eksplorasinya berkembang. Aku ingin perca yang dianggap tidak berharga bisa menjadi sesuatu yang bernilai," katanya.


Pintu Masuk

Pada seteleng ini, Gatot memboyong 2 karya tapestri, yakni Mimpi dan Berburu Emas. Berbeda dari lukisan sebelumnya, karya bertitimangsa 2025, ini justru tampil seperti trimatra. Ada lubang dan bayangan dari kain yang disusun Gatot.

Kurator Asmudjo Jono Irianto mengatakan, kedua karya tersebut merupakan pintu masuk untuk memahami konteks dan nilai penting dalam karya-karya Gatot. Termasuk memahami senarai karya expanded painting yang juga ditampilkan dalam pameran ini.

Dia mengungkap, agak sulit menemukan padanan kata expanded painting dalam bahasa Indonesia. Terjemahan secara harfiah frasa tersebut yang berarti “lukisan meluas” juga tampaknya kurang tepat. Oleh karena itu Asmudjo tetap menggunakan istilah bahasa Inggrisnya. 

Refleksi tersebut misal, hadir pada Sang Pencerah (acrylic, textile, thread on canvas 200 x 150 cm, 2024) yang hadir lewat dominasi jahitan benang. Sosok utama yang tampak berpendar dibangun dari jahitan benang putih di atas lapisan cat dan kolase perca brokat. 

 

ahak

Zoom out karya Kaum FOMO dalam pameran Stitching Gesture di Jagad Gallery (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Namun hadir pula karya bertajuk Kaum FOMO (accrylic, thread on canvas 150 x 200 cm, 2025). Berbeda dari karya sebelumnya lukisan dengan warna tanah ini tampil ekspresif dengan sapuan kuas yang masih dominan, meski ada sentuhan minimal jahitan benang yang tersebar di beberapa bagian.

Menurut dosen seni di ITB itu, karya-karya Gatot merupakan upaya memperluas dan “membebaskan” seni lukis, sekaligus beroperasi di dalam batasannya. Ini terlihat dari jejak metode dan material tapestri, di mana  lilitan kain kanvas, perca, benang dan jahitan tangan berkelindan dengan cat di atas kanvas.

Dalam konteks seni rupa kontemporer yang pos-konseptual, karya Gatot menurutnya tidak hanya mengandalkan konsep, tetapi juga kekuatan estetik dan afektif. "Ini berasal dari pengalaman sensoris sebagai dampak dari kekuatan ekspresi sang seniman. Oleh karena itu pengkaryaan Gatot memiliki corak khasnya sendiri," katanya.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

5 Kiat Menghangatkan Makanan untuk Sahur Pakai Microwave

BERIKUTNYA

5 Jurus Tangkal Penyakit Menular Pada Anak Saat Libur Lebaran

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga