Punya Kondisi Medis Tertentu? Begini Cara Agar Tetap Bugar Saat Berpuasa
09 March 2025 |
17:30 WIB
Menjalani ibadah puasa di tengah padatnya aktivitas selama bulan Ramadan memiliki banyak tantangan. Tak jarang, tubuh menjadi lemas karena harus menjalani aktivitas padat selama berpuasa. Terkadang, rasa kantuk tiba-tiba menyerang menjelang siang saat berpuasa.
Walakin, puasa bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Sebab, menjaga kondisi tubuh tetap fit merupakan hal penting yang harus dilakukan. Terlebih puasa juga memiliki beragam manfaat seperti mengurangi kadar gula darah dan menjaga kesehatan jantung.
Baca juga: Puasa Nyaman Tanpa Nyeri Lambung, Ini Tip Pola Makan yang Tepat
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information, berolahraga selama puasa juga meningkatkan lipolisis di jaringan adiposa sekaligus merangsang oksidasi lemak perifer yang dapat mendorong penurunan berat badan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Yohan Samudra mengatakan ada banyak kiat yang bisa dilakukan agar tubuh tetap bugar selama berpuasa. Kendati begitu, seseorang juga harus memperhatikan durasi, waktu,dan intensitas olahraga yang dilakukan karena menyangkut keamanan.
Yohan menjelaskan olahraga selama puasa memang belum tentu aman bagi semua orang. Kondisi tertentu seperti penyandang diabetes, gangguan ginjal dan diare diimbau untuk berkonsultasi dulu dengan dokter. Sebab, akan berisiko hipoglikemia, gangguan elektrolit dan dehidrasi.
"Terkait olahraga sebenarnya tergantung kemampuan setiap individu. Namun untuk mengurangi cedera yang paling baik adalah kombinasi endurance dan strength training," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.
Lebih lanjut dia juga menyarankan untuk mencukupi kebutuhan cairan selama berpuasa. Ada metode yang cukup mudah diterapkan agar tubuh tetap terhidrasi, yakni 2-4-2, atau minum 2 gelas air saat sahur, 4 gelas saat berbuka hingga setelah makan malam, dan 2 gelas sebelum tidur.
Lain dari itu juga bisa menambah asupan buah dan sayuran, serta konsumsi karbohidrat saat sahur untuk mempersiapkan cadangan energi. "Namun untuk hasil yang sangkil konsumsi juga makanan dengan protein tinggi saat berbuka untuk mengoptimalkan recovery pasca latihan," imbuhnya.
Selaras, Pelatih Kebugaran APKI, Jansen Ongko mengatakan olahraga memang diperlukan untuk menjaga tubuh tetap bugar selama berpuasa. Namun dia menyarankan sebaiknya praktisi tidak berencana untuk meningkatkan performa durabilitas latihan selama menjalani puasa.
Alih-alih menambah durasi, puasa menurutnya adalah momen yang tepat untuk mempertahankan tingkat kebugaran yang sudah dicapai. Sebab pada fase ini sedang terjadi penyesuaian fisiologis terhadap perubahan waktu tidur dan waktu makan. Artinya tubuh sedang menjalani adaptasi kembali.
"Waktu sore hari sebelum berbuka lebih cocok untuk olahraga dengan intensitas rendah seperti jogging, yoga, dan pilates. Sedangkan setelah berbuka adalah waktu terbaik bagi praktisi yang berolahraga dengan intensitas tinggi," katanya.
Jansen menjelaskan, bagi praktisi yang memiliki masalah kesehatan ada baiknya juga berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran olahraga. Ini dilakukan agar setiap individu juga mendapatkan preskripsi program latihan yang cocok dan aman untuk mereka.
Walakin, bagi yang tidak memiliki akses ke tenaga kesehatan, juga dapat memulai dengan aktivitas fisik seperti berjalan kaki , atau senam dengan intensitas rendah. Kegiatan ini juga cocok dilakukan oleh lansia atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu agar tetap aktif selama berpuasa.
"Panduan olahraga untuk waktu sebelum sahur hampir sama dengan waktu sore hari sebelum berbuka. Kendati begitu aktivitas fisik intensitas sedang masih dapat dilakukan apabila praktisinya memang sudah terbiasa berolahraga di pagi hari," jelasnya.
Baca juga: Langkah-langkah Aman Berpuasa untuk Pengidap Penyakit Ginjal
Editor: Dika Irawan
Walakin, puasa bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Sebab, menjaga kondisi tubuh tetap fit merupakan hal penting yang harus dilakukan. Terlebih puasa juga memiliki beragam manfaat seperti mengurangi kadar gula darah dan menjaga kesehatan jantung.
Baca juga: Puasa Nyaman Tanpa Nyeri Lambung, Ini Tip Pola Makan yang Tepat
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information, berolahraga selama puasa juga meningkatkan lipolisis di jaringan adiposa sekaligus merangsang oksidasi lemak perifer yang dapat mendorong penurunan berat badan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Yohan Samudra mengatakan ada banyak kiat yang bisa dilakukan agar tubuh tetap bugar selama berpuasa. Kendati begitu, seseorang juga harus memperhatikan durasi, waktu,dan intensitas olahraga yang dilakukan karena menyangkut keamanan.
Yohan menjelaskan olahraga selama puasa memang belum tentu aman bagi semua orang. Kondisi tertentu seperti penyandang diabetes, gangguan ginjal dan diare diimbau untuk berkonsultasi dulu dengan dokter. Sebab, akan berisiko hipoglikemia, gangguan elektrolit dan dehidrasi.
"Terkait olahraga sebenarnya tergantung kemampuan setiap individu. Namun untuk mengurangi cedera yang paling baik adalah kombinasi endurance dan strength training," katanya saat dihubungi Hypeabis.id.
Lebih lanjut dia juga menyarankan untuk mencukupi kebutuhan cairan selama berpuasa. Ada metode yang cukup mudah diterapkan agar tubuh tetap terhidrasi, yakni 2-4-2, atau minum 2 gelas air saat sahur, 4 gelas saat berbuka hingga setelah makan malam, dan 2 gelas sebelum tidur.
Lain dari itu juga bisa menambah asupan buah dan sayuran, serta konsumsi karbohidrat saat sahur untuk mempersiapkan cadangan energi. "Namun untuk hasil yang sangkil konsumsi juga makanan dengan protein tinggi saat berbuka untuk mengoptimalkan recovery pasca latihan," imbuhnya.
Selaras, Pelatih Kebugaran APKI, Jansen Ongko mengatakan olahraga memang diperlukan untuk menjaga tubuh tetap bugar selama berpuasa. Namun dia menyarankan sebaiknya praktisi tidak berencana untuk meningkatkan performa durabilitas latihan selama menjalani puasa.
Alih-alih menambah durasi, puasa menurutnya adalah momen yang tepat untuk mempertahankan tingkat kebugaran yang sudah dicapai. Sebab pada fase ini sedang terjadi penyesuaian fisiologis terhadap perubahan waktu tidur dan waktu makan. Artinya tubuh sedang menjalani adaptasi kembali.
"Waktu sore hari sebelum berbuka lebih cocok untuk olahraga dengan intensitas rendah seperti jogging, yoga, dan pilates. Sedangkan setelah berbuka adalah waktu terbaik bagi praktisi yang berolahraga dengan intensitas tinggi," katanya.
Jansen menjelaskan, bagi praktisi yang memiliki masalah kesehatan ada baiknya juga berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran olahraga. Ini dilakukan agar setiap individu juga mendapatkan preskripsi program latihan yang cocok dan aman untuk mereka.
Walakin, bagi yang tidak memiliki akses ke tenaga kesehatan, juga dapat memulai dengan aktivitas fisik seperti berjalan kaki , atau senam dengan intensitas rendah. Kegiatan ini juga cocok dilakukan oleh lansia atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu agar tetap aktif selama berpuasa.
"Panduan olahraga untuk waktu sebelum sahur hampir sama dengan waktu sore hari sebelum berbuka. Kendati begitu aktivitas fisik intensitas sedang masih dapat dilakukan apabila praktisinya memang sudah terbiasa berolahraga di pagi hari," jelasnya.
Baca juga: Langkah-langkah Aman Berpuasa untuk Pengidap Penyakit Ginjal
Editor: Dika Irawan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.