Menilik Potensi & Strategi Pengembangan IP Lokal Pipilaka
07 March 2025 |
09:23 WIB
Pengembangan kekayaan intelektual (IP) lokal menjadi perhatian serius Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf/Badan Ekraf). Tidak terkecuali Pipilaka, sebagai pelopor karya animasi yang mengangkat isu sosial dan lingkungan.
Pipilaka, yang bernaung di bawah Yayasan Pipilaka, berfokus pada penyelenggaraan kegiatan edukasi, sosial, budaya, dan seni. Programnya bertujuan mengembangkan animasi lokal dengan pendekatan berbasis lingkungan dan kemanusiaan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai penguatan ekosistem industri animasi nasional melalui pengembangan IP lokal sangat penting. Menurutnya, semakin banyak animator, semakin kaya sisi kreativitasnya. “Animasi membutuhkan agent of creativity, dan kemampuan animator lokal sudah tak diragukan lagi,” ujarnya, dikutip Hypeabis.id.
Baca juga: Kemenekraf: Board Game Lebih dari Sekadar Hiburan
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menilai Pipilaka memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem animasi yang maju, terutama dari sisi teknologi. “Setelah IP lokal tercipta, bisa dikembangkan menjadi merchandise atau berkolaborasi dengan IP lokal lain yang sudah ternama,” tuturnya.
Aktivasi dan venue juga dapat mengakomodasi karya animasi Pipilaka. Irene menyebut Pipilaka bisa menghadirkan short video animation untuk KAI dan Bandara Soekarno-Hatta agar karya animator lokal lebih terlihat. Ada juga venue di Taman Ismail Marzuki dan Kota Tua Jakarta yang bisa dimanfaatkan untuk pameran imersif.
“Animasi Pipilaka tak hanya memiliki aspek bisnis, tetapi juga sosial, sehingga pengembangan IP lokal dapat memberikan dampak lebih luas,” tambahnya.
Nama Pipilaka sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti semut. Filosofi Pipilaka mencerminkan nilai gotong royong, yakni ketika tindakan kecil dapat menghasilkan dampak besar.
Yayasan ini berfokus pada penyelenggaraan acara seni edukatif yang mendukung berbagai tujuan kemanusiaan dan lingkungan, dengan melibatkan anak-anak melalui format animasi maupun live action. Wahyadi Liem, Founder Pipilaka menerangkan pihaknya melihat anak-anak Indonesia memiliki kreativitas tinggi di bidang animasi.
Hanya saja, mereka butuh tools dan kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu, Pipilaka terus mengembangkan sekolah animasi seperti DOES University, yang merupakan sekolah bakat non-formal dan non-komersial. “Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Kementerian Ekraf untuk meningkatkan visibility,” ucapnya.
Dia menyebut, dalam mengembangkan IP lokal, Pipilaka akan melakukan berbagai acara kreatif berbasis konsep imersif. Adapun, Pipilaka Foundation lanjutnya, memiliki beberapa program kreatif yang akan dijalankan ke depan. Setiap karya dan kegiatan yang dihasilkan akan didonasikan kembali untuk DOES University.
Baca juga: Begini Pandangan Seniman Arkiv Melihat Potensi IP untuk Berkarya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Pipilaka, yang bernaung di bawah Yayasan Pipilaka, berfokus pada penyelenggaraan kegiatan edukasi, sosial, budaya, dan seni. Programnya bertujuan mengembangkan animasi lokal dengan pendekatan berbasis lingkungan dan kemanusiaan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai penguatan ekosistem industri animasi nasional melalui pengembangan IP lokal sangat penting. Menurutnya, semakin banyak animator, semakin kaya sisi kreativitasnya. “Animasi membutuhkan agent of creativity, dan kemampuan animator lokal sudah tak diragukan lagi,” ujarnya, dikutip Hypeabis.id.
Baca juga: Kemenekraf: Board Game Lebih dari Sekadar Hiburan
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menilai Pipilaka memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem animasi yang maju, terutama dari sisi teknologi. “Setelah IP lokal tercipta, bisa dikembangkan menjadi merchandise atau berkolaborasi dengan IP lokal lain yang sudah ternama,” tuturnya.
Aktivasi dan venue juga dapat mengakomodasi karya animasi Pipilaka. Irene menyebut Pipilaka bisa menghadirkan short video animation untuk KAI dan Bandara Soekarno-Hatta agar karya animator lokal lebih terlihat. Ada juga venue di Taman Ismail Marzuki dan Kota Tua Jakarta yang bisa dimanfaatkan untuk pameran imersif.
“Animasi Pipilaka tak hanya memiliki aspek bisnis, tetapi juga sosial, sehingga pengembangan IP lokal dapat memberikan dampak lebih luas,” tambahnya.
Nama Pipilaka sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti semut. Filosofi Pipilaka mencerminkan nilai gotong royong, yakni ketika tindakan kecil dapat menghasilkan dampak besar.
Yayasan ini berfokus pada penyelenggaraan acara seni edukatif yang mendukung berbagai tujuan kemanusiaan dan lingkungan, dengan melibatkan anak-anak melalui format animasi maupun live action. Wahyadi Liem, Founder Pipilaka menerangkan pihaknya melihat anak-anak Indonesia memiliki kreativitas tinggi di bidang animasi.
Hanya saja, mereka butuh tools dan kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu, Pipilaka terus mengembangkan sekolah animasi seperti DOES University, yang merupakan sekolah bakat non-formal dan non-komersial. “Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Kementerian Ekraf untuk meningkatkan visibility,” ucapnya.
Dia menyebut, dalam mengembangkan IP lokal, Pipilaka akan melakukan berbagai acara kreatif berbasis konsep imersif. Adapun, Pipilaka Foundation lanjutnya, memiliki beberapa program kreatif yang akan dijalankan ke depan. Setiap karya dan kegiatan yang dihasilkan akan didonasikan kembali untuk DOES University.
Baca juga: Begini Pandangan Seniman Arkiv Melihat Potensi IP untuk Berkarya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.