Kualitas Air Bisa Memengaruhi Kesehatan Kulit? Begini Kata Dokter
08 March 2025 |
16:30 WIB
Berbicara tentang perawatan kulit, kebanyakan dari kita hanya fokus pada pemilihan skincare yang tepat. Mulai dari pembersih wajah, pelembap, hingga tabir surya, semua dianggap sebagai langkah utama menjaga kulit tetap sehat. Akan tetapi, ada satu faktor yang sering terlewatkan yakni kualitas air yang digunakan sehari-hari.
Air yang mengandung klorin dan logam berat ternyata dapat memberikan dampak negatif pada kulit. Kandungan ini berpotensi menyebabkan iritasi, kulit kering, hingga memperburuk kondisi seperti eksim dan dermatitis. Beberapa penelitian menunjukkan paparan zat itu dalam jangka panjang bisa melemahkan lapisan pelindung kulit, sehingga kulit menjadi lebih rentan terhadap polusi dan bakteri.
Dr. Dicky Le, Director of Sales Dermaster mengatakan klorin dalam air dapat menghilangkan minyak alami kulit yang berperan sebagai pelindung. Kulit bisa menjadi kering dan kasar, rentan terhadap kondisi seperti eksim dan dermatitis. Efek ini pun tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga bisa mempercepat penuaan dini.
"Hal ini juga dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi, serta membuat kulit terlihat kusam dan lebih mudah berjerawat," katanya.
Baca juga: 5 Masalah Kulit yang Sering Dialami Milenial hingga Gen Z
Selain klorin, logam berat seperti timbal dan tembaga dalam air juga berisiko merusak kesehatan kulit. Zat-zat ini dapat menyebabkan peradangan dan merusak skin barrier, lapisan terluar kulit yang berfungsi melindungi dari faktor eksternal.
"Kulit sensitif, termasuk yang rentan terhadap eksim dan dermatitis, bisa semakin memburuk akibat paparan klorin, logam berat, dan kontaminan dalam air," lanjut dr. Dicky Le.
Dengan adanya berbagai zat yang berpotensi mengiritasi kulit, banyak orang mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi penyaringan air untuk mengurangi dampak buruk tersebut. Beberapa sistem filtrasi yang ada saat ini diklaim mampu menyaring hingga 99 persen klorin serta partikel berbahaya lainnya.
"Zat-zat ini dapat menyebabkan iritasi, peradangan, serta membuat kulit menjadi kering. Maka, sistem filtrasi air yang efektif dapat membantu melindungi kulit dari paparan zat berbahaya dalam air," tambahnya.
Selain membantu mengurangi paparan klorin dan logam berat, sistem penyaringan tertentu juga memiliki fitur penyeimbang pH. Ini penting karena keseimbangan pH dalam air yang digunakan untuk mandi atau mencuci wajah bisa berdampak langsung pada kelembapan kulit. Ketika pH air lebih sesuai dengan kondisi alami kulit, kulit akan tetap terhidrasi, terasa lebih lembut, dan tidak mudah mengalami iritasi.
Menurutnya, meski tidak semua orang mengalami dampak langsung dari kualitas air, mereka yang memiliki kulit sensitif atau sedang menjalani perawatan dermatologis sebaiknya lebih memperhatikan aspek ini.
Selain memilih produk skincare yang tepat, memastikan air yang digunakan bersih dan aman juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit secara menyeluruh lo Genhype.
Baca juga: 7 Tips Mencuci Wajah yang Benar Agar Kulit Tetap Sehat & Bersinar
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Air yang mengandung klorin dan logam berat ternyata dapat memberikan dampak negatif pada kulit. Kandungan ini berpotensi menyebabkan iritasi, kulit kering, hingga memperburuk kondisi seperti eksim dan dermatitis. Beberapa penelitian menunjukkan paparan zat itu dalam jangka panjang bisa melemahkan lapisan pelindung kulit, sehingga kulit menjadi lebih rentan terhadap polusi dan bakteri.
Dr. Dicky Le, Director of Sales Dermaster mengatakan klorin dalam air dapat menghilangkan minyak alami kulit yang berperan sebagai pelindung. Kulit bisa menjadi kering dan kasar, rentan terhadap kondisi seperti eksim dan dermatitis. Efek ini pun tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga bisa mempercepat penuaan dini.
"Hal ini juga dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi, serta membuat kulit terlihat kusam dan lebih mudah berjerawat," katanya.
Baca juga: 5 Masalah Kulit yang Sering Dialami Milenial hingga Gen Z
Selain klorin, logam berat seperti timbal dan tembaga dalam air juga berisiko merusak kesehatan kulit. Zat-zat ini dapat menyebabkan peradangan dan merusak skin barrier, lapisan terluar kulit yang berfungsi melindungi dari faktor eksternal.
"Kulit sensitif, termasuk yang rentan terhadap eksim dan dermatitis, bisa semakin memburuk akibat paparan klorin, logam berat, dan kontaminan dalam air," lanjut dr. Dicky Le.
Dengan adanya berbagai zat yang berpotensi mengiritasi kulit, banyak orang mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi penyaringan air untuk mengurangi dampak buruk tersebut. Beberapa sistem filtrasi yang ada saat ini diklaim mampu menyaring hingga 99 persen klorin serta partikel berbahaya lainnya.
"Zat-zat ini dapat menyebabkan iritasi, peradangan, serta membuat kulit menjadi kering. Maka, sistem filtrasi air yang efektif dapat membantu melindungi kulit dari paparan zat berbahaya dalam air," tambahnya.
Selain membantu mengurangi paparan klorin dan logam berat, sistem penyaringan tertentu juga memiliki fitur penyeimbang pH. Ini penting karena keseimbangan pH dalam air yang digunakan untuk mandi atau mencuci wajah bisa berdampak langsung pada kelembapan kulit. Ketika pH air lebih sesuai dengan kondisi alami kulit, kulit akan tetap terhidrasi, terasa lebih lembut, dan tidak mudah mengalami iritasi.
Menurutnya, meski tidak semua orang mengalami dampak langsung dari kualitas air, mereka yang memiliki kulit sensitif atau sedang menjalani perawatan dermatologis sebaiknya lebih memperhatikan aspek ini.
Selain memilih produk skincare yang tepat, memastikan air yang digunakan bersih dan aman juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit secara menyeluruh lo Genhype.
Baca juga: 7 Tips Mencuci Wajah yang Benar Agar Kulit Tetap Sehat & Bersinar
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.