Ketika Rekor Box Office Jadi Sebuah Anomali di Balik Layar Bioskop Indonesia
04 March 2025 |
16:04 WIB
Dalam lanskap perfilman Indonesia, pencapaian jumlah penonton yang menembus angka 9 juta masih tergolong fenomena langka. Hingga saat ini, hanya dua film yang berhasil menembus angka tersebut, yakni KKN di Desa Penari dan Agak Laen.
Film KKN di Desa Penari produksi MD Pictures tercatat sebagai film Indonesia pertama yang mampu menembus angka 9 juta penonton. Film yang dirilis pada 2022 lalu itu bahkan pada perhitungan akhir jumlahnya naik menjadi 10.061.033 penonton.
Baca juga: 5 Film Box Office Terbaru Indonesia Bakal Tayang di Netflix Februari-Maret 2025
Setelah itu, butuh 2 tahun sampai akhirnya film Indonesia punya pencapaian tersebut lagi. Pada 2024, muncul film Agak Laen produksi Imajinari yang meraih 9.125.188 penotonton.
Sementara itu, film-film lain yang mendekati angka tersebut ialah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dengan 6,8 juta penonton dan Dilan 1990 (2018) dengan 6,3 juta penonton. Dua terdekat ini masih berada di kisaran 6 juta penonton saja.
Tak mengherankan bila pencapaian angka 9 juta penonton masih dianggap sebagai anomali yang positif bagi industri film Indonesia, mengingat hanya segelintir film yang mampu mencapainya.
Pengamat film Indonesia Hikmat Darmawan mengatakan ada beberapa alasan yang membuat sebuah film begitu sulit mencapai angka 9 juta penonton. Padahal, film tersebut dipasarkan di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta.
“Selama proporsi jumlah layar dengan jumlah penduduk yang potensial market itu belum terpenuhi, ya maka 9 juta akan selalu jadi anomali,” ungkap Hikmat kepada Hypeabis.id.
Menurutnya, jumlah layar di Indonesia masih jauh dari kata sepadan dari aspek rasio jumlah penduduk Indonesia. Dengan jumlah layar yang masih sedikit, potensi pasar film di Indonesia bisa dibilang belum tergarap optimal.
Hikmat mengatakan saat ini Indonesia memiliki hampir 2.500 layar bioskop, tetapi proporsinya mayoritas masih berada di mal wilayah Jabodetabek. Masing-masing layar umumnya memiliki 4 slot penayangan tiap harinya.
Hal ini masih cukup jauh jika dibanding pada kondisi Indonesia yang pernah punya 6.600 layar bioskop pada medio 80-an. Kala itu, infrastruktur dan industrinya terbilang lengkap. Dalam artian ada distributor film yang bisa mengurus regionalnya.
“Dengan jumlah layar yang ada dan jumlah film yang diproduksi sekarang, ada kemungkinan bahkan terjadi kanibal ya. Film-film tertentu bahkan bisa jadi menyingkir untuk memberi ruang film lain yang berpotensi box office misalnya,” imbuhnya.
Di luar persoalan layar, Hikmat juga menilai memang belum ada terlalu banyak film yang punya kekuatan ideal untuk mencapai 9 juta penonton. Kekuatan yang dimaksud Hikmat ialah faktor-faktor yang kerap berpotensi membawa jumlah penonton banyak.
Hal itu misalnya IP yang kuat, penceritaan yang menarik, dan eksekusi yang membuat penonton penasaran dengan karya tersebut. Sebab, hal-hal tersebut merupakan bahan bakar agar film bisa bertahan lebih lama, meski sekali lagi faktor sebuah film sukses atau tidak terkadang juga punya sisi misterius yang unik.
Hikmat berharap penambahan layar dan penguatan aspek cerita di film perlahan bisa mendongkrak raihan penonton Indonesia. Dengan demikian, angka 9 juta bukan sebuah anomali lagi.
Namun, Hikmat juga menyebut tak semua film mesti berpatokan kepada pencapaian box office. Sebab, produksi film sebenarnya juga punya kelas-kelasnya sendiri. Dalam artian, ada yang ketika sudah mencapai 1 juta penonton itu sudah sangat bagus.
Namun, ada pula yang mesti didorong hingga mencapai 3 juta penonton misalnya. Hal ini sangat bergantung dari kelas produksi yang diusung oleh PH suatu film.
“Jadi kayak, enggak apa-apa sementara sulit mencapai 9 juta, tetapi film-film yang meraih 2 juta sampai 5 juta ke itu lebih banyak. Ini kan juga mendorong pasar nantinya,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Film Box Office di Indonesia hingga 24 Februari 2025, Terbaru Ada Captain America: Brave New World
Saat ini perfilman Indonesia masih berada di periode awal tahun. Hikmat menyebut biasanya lonjakan penonton akan terjadi pada periode Lebaran dan libur akhir tahun.
Pada film Lebaran 2025 misalnya, sejumlah film-film blockbuster siap mewarnai bioskop Indonesia. Misalnya, ada Norma: Antara Mertua dan Menantu, Pabrik Gula, Jumbo, Komang, dan Qodrat 2. Dia berharap di periode itu terdapat film-film yang kembali memecah rekor.
Editor: Fajar Sidik
Film KKN di Desa Penari produksi MD Pictures tercatat sebagai film Indonesia pertama yang mampu menembus angka 9 juta penonton. Film yang dirilis pada 2022 lalu itu bahkan pada perhitungan akhir jumlahnya naik menjadi 10.061.033 penonton.
Baca juga: 5 Film Box Office Terbaru Indonesia Bakal Tayang di Netflix Februari-Maret 2025
Setelah itu, butuh 2 tahun sampai akhirnya film Indonesia punya pencapaian tersebut lagi. Pada 2024, muncul film Agak Laen produksi Imajinari yang meraih 9.125.188 penotonton.
Sementara itu, film-film lain yang mendekati angka tersebut ialah Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dengan 6,8 juta penonton dan Dilan 1990 (2018) dengan 6,3 juta penonton. Dua terdekat ini masih berada di kisaran 6 juta penonton saja.
Tak mengherankan bila pencapaian angka 9 juta penonton masih dianggap sebagai anomali yang positif bagi industri film Indonesia, mengingat hanya segelintir film yang mampu mencapainya.
Pengamat film Indonesia Hikmat Darmawan mengatakan ada beberapa alasan yang membuat sebuah film begitu sulit mencapai angka 9 juta penonton. Padahal, film tersebut dipasarkan di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta.
“Selama proporsi jumlah layar dengan jumlah penduduk yang potensial market itu belum terpenuhi, ya maka 9 juta akan selalu jadi anomali,” ungkap Hikmat kepada Hypeabis.id.
Menurutnya, jumlah layar di Indonesia masih jauh dari kata sepadan dari aspek rasio jumlah penduduk Indonesia. Dengan jumlah layar yang masih sedikit, potensi pasar film di Indonesia bisa dibilang belum tergarap optimal.
Hikmat mengatakan saat ini Indonesia memiliki hampir 2.500 layar bioskop, tetapi proporsinya mayoritas masih berada di mal wilayah Jabodetabek. Masing-masing layar umumnya memiliki 4 slot penayangan tiap harinya.
Hal ini masih cukup jauh jika dibanding pada kondisi Indonesia yang pernah punya 6.600 layar bioskop pada medio 80-an. Kala itu, infrastruktur dan industrinya terbilang lengkap. Dalam artian ada distributor film yang bisa mengurus regionalnya.
“Dengan jumlah layar yang ada dan jumlah film yang diproduksi sekarang, ada kemungkinan bahkan terjadi kanibal ya. Film-film tertentu bahkan bisa jadi menyingkir untuk memberi ruang film lain yang berpotensi box office misalnya,” imbuhnya.
Di luar persoalan layar, Hikmat juga menilai memang belum ada terlalu banyak film yang punya kekuatan ideal untuk mencapai 9 juta penonton. Kekuatan yang dimaksud Hikmat ialah faktor-faktor yang kerap berpotensi membawa jumlah penonton banyak.
Hal itu misalnya IP yang kuat, penceritaan yang menarik, dan eksekusi yang membuat penonton penasaran dengan karya tersebut. Sebab, hal-hal tersebut merupakan bahan bakar agar film bisa bertahan lebih lama, meski sekali lagi faktor sebuah film sukses atau tidak terkadang juga punya sisi misterius yang unik.
Hikmat berharap penambahan layar dan penguatan aspek cerita di film perlahan bisa mendongkrak raihan penonton Indonesia. Dengan demikian, angka 9 juta bukan sebuah anomali lagi.
Namun, Hikmat juga menyebut tak semua film mesti berpatokan kepada pencapaian box office. Sebab, produksi film sebenarnya juga punya kelas-kelasnya sendiri. Dalam artian, ada yang ketika sudah mencapai 1 juta penonton itu sudah sangat bagus.
Namun, ada pula yang mesti didorong hingga mencapai 3 juta penonton misalnya. Hal ini sangat bergantung dari kelas produksi yang diusung oleh PH suatu film.
“Jadi kayak, enggak apa-apa sementara sulit mencapai 9 juta, tetapi film-film yang meraih 2 juta sampai 5 juta ke itu lebih banyak. Ini kan juga mendorong pasar nantinya,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Film Box Office di Indonesia hingga 24 Februari 2025, Terbaru Ada Captain America: Brave New World
Saat ini perfilman Indonesia masih berada di periode awal tahun. Hikmat menyebut biasanya lonjakan penonton akan terjadi pada periode Lebaran dan libur akhir tahun.
Pada film Lebaran 2025 misalnya, sejumlah film-film blockbuster siap mewarnai bioskop Indonesia. Misalnya, ada Norma: Antara Mertua dan Menantu, Pabrik Gula, Jumbo, Komang, dan Qodrat 2. Dia berharap di periode itu terdapat film-film yang kembali memecah rekor.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.