No Other Land (Sumber Foto: CPH:DOX)

5 Fakta Film Dokumenter No Other Land Karya Sutradara Palestina dan Israel Peraih Piala Oscar 2025

04 March 2025   |   13:20 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Film dokumenter No Other Land berhasil meraih penghargaan Best Documentary Feature di Academy Awards ke-97 atau ajang Piala Oscar 2025. Tayangan berdurasi 95 menit tersebut, proses produksinya memakan waktu 5 tahun sejak 2019 dan selesai pada Oktober 2023.

No Other Land memperlihatkan perjuangan Basel Adra, seorang aktivis muda Palestina dari Masafer Yatta yang sejak kecil menentang penggusuran paksa oleh Israel. Basel mendokumentasikan penghancuran bertahap di desa-desa tempat tinggalnya, di mana tentara Israel merobohkan rumah-rumah dan mengusir para penduduk.

Baca juga: Film Dokumenter Memijak Jiwa Angkat Isu Dilema 'Kemegahan' Bali

Dalam perjuangannya, dia bertemu dengan Yuval, seorang jurnalis Israel yang mendukung upayanya. Keduanya menjadi sahabat, namun ikatan di antara mereka diuji oleh ketidaksetaraan. Mengingat Basel hidup menderita di bawah pendudukan militer, sementara Yuval menikmati kebebasan di negara yang merdeka. Mengutip The Guardian, berikut fakta menarik film No Other Land.


1. Kolaborasi Sineas Palestina dan Israel

No Other Land merupakan hasil kolaborasi empat sutradara, dua warga Palestina, Basel Adra dan Hamdan Ballal, serta dua warga Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Keempat sutradara bekerja sama untuk mengangkat isu-isu kemanusiaan yang terjadi di wilayah konflik, menunjukkan bahwa kolaborasi lintas batas dapat menghasilkan karya yang kuat dan bermakna.


2. Penggambaran Kehidupan di Masafer Yatta

Film ini mendokumentasikan perjuangan komunitas Palestina tepi barat di Masafer Yatta yang menghadapi ancaman penggusuran oleh militer Israel. Melalui lensa Basel Adra, seorang aktivis muda Palestina, penonton diajak melihat realitas sehari-hari warga yang berjuang mempertahankan tanah mereka dari upaya pengusiran dan penghancuran rumah oleh otoritas Israel.

Gambar-gambar dalam film dokumenter No Other Land diperoleh dari berbagai sumber yang mendokumentasikan situasi di Masafer Yatta, Palestina, selama lebih dari dua dekade.

Sebagian besar rekaman berasal dari masa kecil Basel Adra, salah satu sutradara film, yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari dan peristiwa di lingkungan sekitarnya. Ayahnya yang juga merupakan seorang aktivis, juga memberikan rekaman-rekaman yang menunjukkan upayanya menghadapi tentara dan pemukim Israel untuk menghentikan perampasan tanah Palestina.

Selain itu, rekaman lainnya diambil oleh aktivis lain seperti Hamdan Ballal dan jurnalis Israel Yuval Abraham, yang juga menjadi sutradara film ini. Mereka mengumpulkan sekitar 2.000 jam rekaman selama 4 tahun, termasuk dokumentasi penghancuran rumah, sekolah, dan sumur di Masafer Yatta oleh tentara Israel.


3. Diputar di Festival Film Bergengsi dan Raih Penghargaan

Sebelum meraih Oscar, No Other Land telah diputar di berbagai festival film bergengsi. Film ini memenangkan Panorama Audience Award dan Berlinale Documentary Film Award di Berlin International Film Festival 2024. Selain itu, juga mendapatkan penghargaan di Copenhagen International Documentary Film Festival, Visions du Réel, dan Vancouver International Film Festival.


4. Tantangan Distribusi di Amerika Serikat

Meskipun meraih penghargaan internasional dan menjadi dokumenter dengan pendapatan tertinggi di antara nominasi Oscar, No Other Land menghadapi kesulitan dalam mendapatkan distributor di Amerika Serikat. Para sutradara mengaitkan hal ini dengan alasan politik, mengingat sensitivitas topik yang diangkat dalam film tersebut. Akibatnya, film ini belum tersedia di platform streaming utama di AS dan hanya diputar di bioskop-bioskop tertentu.


5. Pidato Kemenangan Oscar yang Berani

Dalam pidato penerimaan Oscar, para sutradara menyoroti pentingnya kolaborasi antara Palestina dan Israel untuk menentang kekerasan dan pengusiran di Masafer Yatta. Mereka juga mengkritik kebijakan luar negeri AS yang dianggap menghalangi perdamaian, serta menyerukan solusi politik yang menjamin hak nasional dan keamanan bagi kedua pihak.

"Dua bulan lalu saya menjadi seorang ayah, saya berharap putri saya tidak perlu mengalami kehidupan yang sama seperti saya yang hidup dalam ketakutan akan pengawasan, penghancuran rumah, dan pemindahan paksa yang terjadi setiap hari di sana," ucap Basel.

Dia melanjutkan, No Other Land mencerminkan kenyataan pahit yang telah dialaminya selama beberapa dekade dan masih berjuang sampai saat ini. Lewat dokumenter ini, mereka menyerukan kepada dunia untuk mengambil tindakan serius guna menghentikan ketidakadilan dan menghentikan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.

Baca juga: 5 Rekomendasi Film Dokumenter di Netflix, Diangkat dari Kisah Nyata

Sementara itu, Yuval Abraham menegaskan film ini dibuat oleh orang Palestina dan Israel karena suara mereka akan lebih kuat jika bersatu. "Saya melihat Basel seperti saudara saya, tetapi kami tidak setara. Saya hidup dalam rezim di mana saya bebas di bawah hukum sipil, sementara Basel berada di bawah hukum militer yang menghancurkan hidupnya," katanya.

Yuval memaparkan, ada jalan yang berbeda, yakni solusi politik tanpa supremasi etnis dengan hak-hak nasional bagi kedua rakyat. Namun, kebijakan luar negeri negara ini (AS) menghalangi jalan ini. "Tidak bisakah Anda melihat bahwa kita saling terkait, rakyat saya dapat benar-benar aman jika rakyat Basel juga benar-benar bebas dan aman. Ada cara lain, ini belum terlambat," pungkasnya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Box Office Indonesia 4 Maret 2025: Petaka Gunung Gede & Captain America Bersaing Sengit

BERIKUTNYA

Program Penelitian & Pengabdian Masyarakat 2025 Dibuka, Simak Ketentuannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga