Hypeprofil Sutradara Aco Tenri: Menghidupkan Kembali Daya Magis Video Klip Musik Indonesia
03 March 2025 |
14:02 WIB
Di tengah perkembangan layanan musik streaming dan konten visual yang serba cepat, sutradara Aco Tenri berani membuat pendekatan berbeda dalam karyanya. Kehadirannya, menjadi sosok sentral yang mencoba mengembalikan kejayaan video klip musik di Indonesia.
Dengan sentuhan khasnya yang menggugah dan gaya sinematiknya, Aco bukan sekadar sutradara, melainkan seorang pendongeng visual yang membawa narasi kuat ke dalam setiap karyanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri musik Indonesia memang seperti berada di fase sulit. Video klip kerap hanya menjadi pelengkap, bukan bagian integral dari pengalaman musik itu sendiri. Namun, belakangan, Aco berhasil membuktikan bahwa video klip bisa menjadi karya seni yang berdiri sendiri.
Baca juga: Hypeprofil Desainer Danny Satriadi, Proses Kreatif Merancang Cheongsam nan Kaya Filosofi Budaya
Lewat garapannya, video musik kembali memiliki peran penting dalam memperkuat identitas musisi dan lagu yang dibawakan. Dalam penggarapan video klip ini, ciri khasnya ialah mengusung pendekatan film pendek dengan narasi cerita yang menggugah. Cara itu rupanya punya tujuan tersendiri.
“Mungkin karena pendekatan musik videoku itu bercerita, jadi ada kemungkinan besar untuk melebarkan pendengarnya. Kalaupun mereka belum relate dengan lagunya, bisa jadi akan bertemu relate-nya dengan cerita di video klipnya. Aku selalu mengejar relevansi itu sih,” ungkap Aco kepada Hypeabis.id saat ditemui di sebuah kafe di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Misalnya, hal itu terwujud dalam video klip lagu Gala Bunga Matahari yang dinyanyikan Sal Priadi. Video klip tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis yang indah, tetapi juga membangun narasi emosional yang kuat, terutama melalui sinematografi yang penuh makna.
Dari awal hingga akhir, Aco Tenri menggunakan palet warna pastel, menciptakan nuansa nostalgia dan kehangatan. Warna-warna seperti krem, jingga keemasan, dan biru lembut mendominasi frame, memberikan kesan tenang sekaligus menyentuh.
Kombinasi tersebut selaras dengan lirik lagu yang berbicara tentang kenangan dan perasaan yang sulit diungkapkan. Aco banyak memanfaatkan cahaya alami dalam video ini, terutama golden hour, baik saat matahari terbit atau terbenam.
Baca juga: Hypeprofil Thomas Nawilis: Dari Aktor ke Pemimpin Bengkel Keluarga Generasi Ketiga
Beberapa adegan dalam video klip ini memperlihatkan karakter yang ditempatkan dalam lanskap luas, seperti di tengah ladang bunga matahari atau duduk di ruangan dengan jendela besar. Hal ini memberikan kesan kesendirian sekaligus kebebasan, seolah karakter sedang merenungkan sesuatu yang mendalam.
Trik ini adalah bukti keahlian Aco Tenri dalam memadukan estetika sinematik dengan storytelling yang emosional. Formula serupa juga banyak dipakainya di video klip lain, termasuk lagu Kita ke Sana dari Hindia.
Aco Tenri berhasil memanfaatkan elemen-elemen sinematografi untuk memperkuat narasi emosional dalam video klip Kita ke Sana. Aco memang berani mengeksplorasi teknik sinematografi yang unik.
Dari pemanfaatan satu pengambilan gambar panjang hingga visual eksperimental yang mengguncang emosi, Aco selalu berusaha menghadirkan pengalaman sinematik yang lebih dari sekadar video klip biasa.
Untuk sampai di posisi sekarang, perjalanan Aco tentu tidaklah mudah. Namun, semua secara tekun dilaluinya, karena dia rupanya telah benar-benar jatuh cinta pada dunia film sejak masih kecil.
“Dulu waktu masih sekolah, berasa paling keren kalau ditanya cita-citanya apa. Aku pasti jawab sutradara. Ya, walau teman-teman juga belum ada yang ngerti,” ucap Aco.
Dunia film memang bukan hal baru bagi Aco. Lahir dari keluarga yang berkecimpung di industri film dan televisi, membuat Aco sejak kecil telah akrab dengan hal-hal berbau syuting. Dia pun kerap mendatangi lokasi syuting tempat ayahnya bekerja.
Pengalaman itu rupanya berbekas. Dia pun ingin menjadi pencerita lewat dunia sinema. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas (SMA), Aco melanjutkan studinya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan jurusan penyutradaraan. Selama di IKJ, dia semakin serius mendalami dunia perfilman dan mengasah keterampilannya sebagai sutradara.
Pada 2016, Aco berpartisipasi dalam CinemadaMare Film Festival di Italia. Pengalaman ini membawanya mendapatkan beasiswa Erasmus untuk belajar di Academy of the Performing Arts di Bratislava (VSMU), Slovakia.
Baca juga: Hypeprofil Sineas Rizal Mantovani: Menyongsong Babak Baru Bangku Produser
Setelah kembali ke Jakarta, Aco aktif mengerjakan film pendek, iklan digital, dan video musik, yang semakin memperkaya portofolio dan pengalamannya dalam industri kreatif.
Saat kembali ini, sebenarnya iklim video klip belum seperti saat ini. Aco bercerita kala itu, sebagai anak baru, tentu belum terlalu banyak tawaran kerja sama yang masuk. Dia pun berinisiatif sendiri.
Semua dimulai dari hal yang disukainya. Kala itu, Aco mengaku sangat menyukai album Raja Kelana dari Mondo Gascaro. Satu lagu yang paling mengena untuknya berjudul Dan Bila.
Saat mendengar lagu itu, Aco pikirannya tiba-tiba melayang menelusuri visual-visual yang unik. Dia akhirnya memberanikan diri email ke Mondo dan menawarkan konsep cerita yang ada di dalam bayangannya untuk dibuat video klip.
Tak disangka, Mondo merespons. Akhirnya, video klip itu yang mulanya ada di angan-angan itu pun terwujud. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama ke Paul & Gita serta Mocca.
“Sama, sifatnya tuh aku yang email, lalu ada respons. Mulai dari situ, karya-karya dibikin. Job pertama banget yang datang dari luar itu dari BCL waktu itu buat lagu Keluarga Cemara,” imbuhnya.
Tanpa terasa, satu satu proyek ke proyek lain, pertemanan makin meluas. Dari sini, Aco mulai berkenalan dengan musisi lain, termasuk Sal Priadi, Hindia, dan sebagainya. Lalu, tawaran kerja sama pun datang.
Seiring waktu berjalan, industri makin terbentuk. Beberapa rencana kemunculan MV dari musisi-musisi ternama bahkan kini menjadi sangat ditunggu.
“Ya, industri video klip belakangan memang makin berkembang. Kalau dulu orang hanya mau spend kecil di video klip, sekarang justru orang mau total di video klip,” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, Aco terus melebarkan sayapnya di dunia sinema. Salah satu kontribusinya yang menonjol adalah dalam film omnibus berjudul Quarantine Tales (2020), sebuah antologi yang terdiri dari lima cerita pendek yang menggambarkan kehidupan selama pandemi.
Aco Tenri menulis dan menyutradarai segmen berjudul Happy Girls Don't Cry. Segmen ini mendapatkan perhatian khusus karena pendekatannya yang satir dengan komentar sosial yang tajam, mencerminkan realitas masyarakat Indonesia dengan sentuhan humor gelap.
Kemudian, dia juga menyutradarai serial Drama Ratu Drama. Serial ini mendapatkan apresiasi positif dengan rating 8.2 di IMDb. Sejumlah penonton pun memuji perpaduan komedi dan drama yang solid, serta kritik satir terhadap industri sinetron Indonesia.
Setelah malang melintang di dunia penyutradaraan film pendek, video klip, dan serial, kini sutradara yang karib disapa Aco Tenri itu sedang bersiap dengan film panjang pertamanya. "Ya, ini masih dalam pengembangan. Harapannya, awal tahun depan sudah mulai syuting,” ungkap Aco
Baca juga: Hypeprofil Creative Advisor Motulz Anto: Kecerdasan Buatan itu Alat, Bukan Pengganti Manusia
Sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta itu menyebut ide proyek film panjang ini sebenarnya sudah dimulai cukup lama, sekitar 3 tahun yang lalu. Akan tetapi, proses pengembangannya memang berjalan secara perlahan.
Menurutnya, salah satu proses yang menyita waktu adalah dalam hal penulisan naskah. Di lain sisi, prosesnya juga sempat mandek sejenak, terutama saat dirinya menyutradarai serial Drama Ratu Drama, beberapa waktu lalu.
Kini, perlahan naskah filmnya kembali dicicil. Dia belum mau mengungkap kapan targetnya akan selesai. Aco hanya meminta doa dari para penggemar karyanya, semoga film pertamanya yang cukup sentimental ini bisa segera masuk tahap produksi dan tayang di bioskop.
Editor: Fajar Sidik
Dengan sentuhan khasnya yang menggugah dan gaya sinematiknya, Aco bukan sekadar sutradara, melainkan seorang pendongeng visual yang membawa narasi kuat ke dalam setiap karyanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri musik Indonesia memang seperti berada di fase sulit. Video klip kerap hanya menjadi pelengkap, bukan bagian integral dari pengalaman musik itu sendiri. Namun, belakangan, Aco berhasil membuktikan bahwa video klip bisa menjadi karya seni yang berdiri sendiri.
Baca juga: Hypeprofil Desainer Danny Satriadi, Proses Kreatif Merancang Cheongsam nan Kaya Filosofi Budaya
Lewat garapannya, video musik kembali memiliki peran penting dalam memperkuat identitas musisi dan lagu yang dibawakan. Dalam penggarapan video klip ini, ciri khasnya ialah mengusung pendekatan film pendek dengan narasi cerita yang menggugah. Cara itu rupanya punya tujuan tersendiri.
“Mungkin karena pendekatan musik videoku itu bercerita, jadi ada kemungkinan besar untuk melebarkan pendengarnya. Kalaupun mereka belum relate dengan lagunya, bisa jadi akan bertemu relate-nya dengan cerita di video klipnya. Aku selalu mengejar relevansi itu sih,” ungkap Aco kepada Hypeabis.id saat ditemui di sebuah kafe di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
_crop.jpg)
Sutradara Aco Tenri (Sumber Gambar: dok Aco Tenri)
Misalnya, hal itu terwujud dalam video klip lagu Gala Bunga Matahari yang dinyanyikan Sal Priadi. Video klip tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis yang indah, tetapi juga membangun narasi emosional yang kuat, terutama melalui sinematografi yang penuh makna.
Dari awal hingga akhir, Aco Tenri menggunakan palet warna pastel, menciptakan nuansa nostalgia dan kehangatan. Warna-warna seperti krem, jingga keemasan, dan biru lembut mendominasi frame, memberikan kesan tenang sekaligus menyentuh.
Kombinasi tersebut selaras dengan lirik lagu yang berbicara tentang kenangan dan perasaan yang sulit diungkapkan. Aco banyak memanfaatkan cahaya alami dalam video ini, terutama golden hour, baik saat matahari terbit atau terbenam.
Baca juga: Hypeprofil Thomas Nawilis: Dari Aktor ke Pemimpin Bengkel Keluarga Generasi Ketiga
Beberapa adegan dalam video klip ini memperlihatkan karakter yang ditempatkan dalam lanskap luas, seperti di tengah ladang bunga matahari atau duduk di ruangan dengan jendela besar. Hal ini memberikan kesan kesendirian sekaligus kebebasan, seolah karakter sedang merenungkan sesuatu yang mendalam.
Trik ini adalah bukti keahlian Aco Tenri dalam memadukan estetika sinematik dengan storytelling yang emosional. Formula serupa juga banyak dipakainya di video klip lain, termasuk lagu Kita ke Sana dari Hindia.
Aco Tenri berhasil memanfaatkan elemen-elemen sinematografi untuk memperkuat narasi emosional dalam video klip Kita ke Sana. Aco memang berani mengeksplorasi teknik sinematografi yang unik.
Dari pemanfaatan satu pengambilan gambar panjang hingga visual eksperimental yang mengguncang emosi, Aco selalu berusaha menghadirkan pengalaman sinematik yang lebih dari sekadar video klip biasa.
Menyusun Rekam Jejak
_crop.jpg)
Sutradara Aco Tenri (Sumber Gambar: dok Aco Tenri)
Untuk sampai di posisi sekarang, perjalanan Aco tentu tidaklah mudah. Namun, semua secara tekun dilaluinya, karena dia rupanya telah benar-benar jatuh cinta pada dunia film sejak masih kecil.
“Dulu waktu masih sekolah, berasa paling keren kalau ditanya cita-citanya apa. Aku pasti jawab sutradara. Ya, walau teman-teman juga belum ada yang ngerti,” ucap Aco.
Dunia film memang bukan hal baru bagi Aco. Lahir dari keluarga yang berkecimpung di industri film dan televisi, membuat Aco sejak kecil telah akrab dengan hal-hal berbau syuting. Dia pun kerap mendatangi lokasi syuting tempat ayahnya bekerja.
Pengalaman itu rupanya berbekas. Dia pun ingin menjadi pencerita lewat dunia sinema. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas (SMA), Aco melanjutkan studinya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan jurusan penyutradaraan. Selama di IKJ, dia semakin serius mendalami dunia perfilman dan mengasah keterampilannya sebagai sutradara.
Pada 2016, Aco berpartisipasi dalam CinemadaMare Film Festival di Italia. Pengalaman ini membawanya mendapatkan beasiswa Erasmus untuk belajar di Academy of the Performing Arts di Bratislava (VSMU), Slovakia.
Baca juga: Hypeprofil Sineas Rizal Mantovani: Menyongsong Babak Baru Bangku Produser
Setelah kembali ke Jakarta, Aco aktif mengerjakan film pendek, iklan digital, dan video musik, yang semakin memperkaya portofolio dan pengalamannya dalam industri kreatif.
Saat kembali ini, sebenarnya iklim video klip belum seperti saat ini. Aco bercerita kala itu, sebagai anak baru, tentu belum terlalu banyak tawaran kerja sama yang masuk. Dia pun berinisiatif sendiri.
Semua dimulai dari hal yang disukainya. Kala itu, Aco mengaku sangat menyukai album Raja Kelana dari Mondo Gascaro. Satu lagu yang paling mengena untuknya berjudul Dan Bila.
Saat mendengar lagu itu, Aco pikirannya tiba-tiba melayang menelusuri visual-visual yang unik. Dia akhirnya memberanikan diri email ke Mondo dan menawarkan konsep cerita yang ada di dalam bayangannya untuk dibuat video klip.
Tak disangka, Mondo merespons. Akhirnya, video klip itu yang mulanya ada di angan-angan itu pun terwujud. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama ke Paul & Gita serta Mocca.
“Sama, sifatnya tuh aku yang email, lalu ada respons. Mulai dari situ, karya-karya dibikin. Job pertama banget yang datang dari luar itu dari BCL waktu itu buat lagu Keluarga Cemara,” imbuhnya.
Tanpa terasa, satu satu proyek ke proyek lain, pertemanan makin meluas. Dari sini, Aco mulai berkenalan dengan musisi lain, termasuk Sal Priadi, Hindia, dan sebagainya. Lalu, tawaran kerja sama pun datang.
Seiring waktu berjalan, industri makin terbentuk. Beberapa rencana kemunculan MV dari musisi-musisi ternama bahkan kini menjadi sangat ditunggu.
“Ya, industri video klip belakangan memang makin berkembang. Kalau dulu orang hanya mau spend kecil di video klip, sekarang justru orang mau total di video klip,” tuturnya.
Bersiap ke Babak Baru

Sutradara Aco Tenri (Sumber Gambar: Instagram/Aco Tenri)
Seiring berjalannya waktu, Aco terus melebarkan sayapnya di dunia sinema. Salah satu kontribusinya yang menonjol adalah dalam film omnibus berjudul Quarantine Tales (2020), sebuah antologi yang terdiri dari lima cerita pendek yang menggambarkan kehidupan selama pandemi.
Aco Tenri menulis dan menyutradarai segmen berjudul Happy Girls Don't Cry. Segmen ini mendapatkan perhatian khusus karena pendekatannya yang satir dengan komentar sosial yang tajam, mencerminkan realitas masyarakat Indonesia dengan sentuhan humor gelap.
Kemudian, dia juga menyutradarai serial Drama Ratu Drama. Serial ini mendapatkan apresiasi positif dengan rating 8.2 di IMDb. Sejumlah penonton pun memuji perpaduan komedi dan drama yang solid, serta kritik satir terhadap industri sinetron Indonesia.
Setelah malang melintang di dunia penyutradaraan film pendek, video klip, dan serial, kini sutradara yang karib disapa Aco Tenri itu sedang bersiap dengan film panjang pertamanya. "Ya, ini masih dalam pengembangan. Harapannya, awal tahun depan sudah mulai syuting,” ungkap Aco
Baca juga: Hypeprofil Creative Advisor Motulz Anto: Kecerdasan Buatan itu Alat, Bukan Pengganti Manusia
Sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta itu menyebut ide proyek film panjang ini sebenarnya sudah dimulai cukup lama, sekitar 3 tahun yang lalu. Akan tetapi, proses pengembangannya memang berjalan secara perlahan.
Menurutnya, salah satu proses yang menyita waktu adalah dalam hal penulisan naskah. Di lain sisi, prosesnya juga sempat mandek sejenak, terutama saat dirinya menyutradarai serial Drama Ratu Drama, beberapa waktu lalu.
Kini, perlahan naskah filmnya kembali dicicil. Dia belum mau mengungkap kapan targetnya akan selesai. Aco hanya meminta doa dari para penggemar karyanya, semoga film pertamanya yang cukup sentimental ini bisa segera masuk tahap produksi dan tayang di bioskop.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.