Debut Layar Lebar, Aco Tenri Meramu Luka Keluarga lewat Film Suka Duka Tawa
05 January 2026 |
22:00 WIB
Mimpi Aco Tenriyagelli akhirnya berlabuh di layar lebar. Setelah bertahun-tahun mengasah bahasa sinema lewat film pendek, video klip, dan serial, sutradara yang akrab disapa Aco Tenri itu bersiap melepas debut film panjang pertamanya, Suka Duka Tawa.
Dijadwalkan tayang pada 8 Januari 2026, film ini menandai babak baru dalam perjalanan kreatif Aco. Dari medium berdurasi singkat, dia kini melangkah ke ruang cerita yang lebih panjang dan berlapis, meramu narasi dengan kompleksitas yang menuntut kedalaman visi sekaligus ketahanan artistik.
Baca juga: Agak Laen: Menyala Pantiku Jadi Film Indonesia Ketiga yang Tembus 10 Juta Penonton
Premis film berpusat pada relasi orangtua dan anak yang renggang, serta upaya berdamai dengan luka masa lalu lewat humor. Melalui pertemuan yang canggung, konflik yang tak terucap, dan komedi, Aco meramunya menjadi film yang reflektif.
Adalah Tawa (Rachel Amanda) yang memiliki konflik dengan kedua orangtuanya, yakni Keset (Teuku Rifnu Wikana) dan Cantik (Marissa Anita). Konflik itu berakar dari jarak emosional, rasa ditinggalkan, serta kegagalan komunikasi sejak kecil.
Aco menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari proses penyutradaraannya. “Dengan menceritakan luka secara jujur, aku berharap emosi dan komedinya bisa tersampaikan dengan tulus dan memberikan refleksi,” kata Aco.
Lulusan Institut Kesenian Jakarta itu mengatakan ide proyek film panjang ini sebenarnya sudah dimulai sekitar empat tahun lalu. Namun, proses pengembangannya berjalan perlahan dan tidak selalu mulus.
Menurut Aco, salah satu tahapan yang paling menyita waktu adalah penulisan naskah. Proses tersebut sempat terhenti sejenak, terutama saat ia terlibat dalam penyutradaraan serial Drama Ratu Drama (2022).
“Menulis itu selalu tricky. Kita enggak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti, dan itu yang kadang membuat naskah terus direvisi,” imbuhnya.
Dalam proses penggarapan, Aco banyak berdiskusi dengan para pemain untuk menggali latar emosi tiap karakter. Dia ingin setiap aktor memahami bukan hanya dialog, tetapi juga beban psikologis yang dibawa tokohnya.
Final trailer yang dirilis memperlihatkan hasil dari proses tersebut. Konflik keluarga menjadi poros utama, dengan emosi yang dibiarkan tumbuh perlahan tanpa harus dipaksakan menjadi melodrama.
Rachel Amanda mengaku proses membangun karakter Tawa cukup menantang. “Tawa itu anak stand up comedy, Bapaknya pelawak TV, jadi komedinya memang mengalir. Tapi di balik itu, dia menyimpan jarak emosional yang besar,” ujarnya.
Rachel juga menyoroti bagaimana humor menjadi mekanisme bertahan bagi karakter tersebut. Saat Tawa bertemu kembali dengan ayahnya ketika dewasa, dia menggunakan tawa untuk berdamai dengan rasa ditinggalkan dan kekecewaan masa kecil.
Pendekatan serupa diterapkan pada karakter orangtua. Sosok Cantik digambarkan sangat protektif karena trauma masa lalu, sementara Keset memendam rasa bersalah yang tak pernah benar-benar terucap.
Lapisan emosi film ini turut diperkuat lewat pilihan musik. Lagu “Masa Sepi” dari Bernadya dan “Timur” dari The Adams dipilih sejak awal proses penyuntingan untuk menjaga ritme emosional film tetap jujur dan membumi.
Aco mengakui proses pembuatan film ini membuka kembali pengalaman personal dan pengamatannya terhadap orang-orang terdekat. “Semoga film ini bisa menebarkan cinta serta memberikan harapan-harapan baru di awal tahun 2026,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dijadwalkan tayang pada 8 Januari 2026, film ini menandai babak baru dalam perjalanan kreatif Aco. Dari medium berdurasi singkat, dia kini melangkah ke ruang cerita yang lebih panjang dan berlapis, meramu narasi dengan kompleksitas yang menuntut kedalaman visi sekaligus ketahanan artistik.
Baca juga: Agak Laen: Menyala Pantiku Jadi Film Indonesia Ketiga yang Tembus 10 Juta Penonton
Premis film berpusat pada relasi orangtua dan anak yang renggang, serta upaya berdamai dengan luka masa lalu lewat humor. Melalui pertemuan yang canggung, konflik yang tak terucap, dan komedi, Aco meramunya menjadi film yang reflektif.
Adalah Tawa (Rachel Amanda) yang memiliki konflik dengan kedua orangtuanya, yakni Keset (Teuku Rifnu Wikana) dan Cantik (Marissa Anita). Konflik itu berakar dari jarak emosional, rasa ditinggalkan, serta kegagalan komunikasi sejak kecil.
Aco menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari proses penyutradaraannya. “Dengan menceritakan luka secara jujur, aku berharap emosi dan komedinya bisa tersampaikan dengan tulus dan memberikan refleksi,” kata Aco.
Lulusan Institut Kesenian Jakarta itu mengatakan ide proyek film panjang ini sebenarnya sudah dimulai sekitar empat tahun lalu. Namun, proses pengembangannya berjalan perlahan dan tidak selalu mulus.
Menurut Aco, salah satu tahapan yang paling menyita waktu adalah penulisan naskah. Proses tersebut sempat terhenti sejenak, terutama saat ia terlibat dalam penyutradaraan serial Drama Ratu Drama (2022).
“Menulis itu selalu tricky. Kita enggak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti, dan itu yang kadang membuat naskah terus direvisi,” imbuhnya.
Dalam proses penggarapan, Aco banyak berdiskusi dengan para pemain untuk menggali latar emosi tiap karakter. Dia ingin setiap aktor memahami bukan hanya dialog, tetapi juga beban psikologis yang dibawa tokohnya.
Final trailer yang dirilis memperlihatkan hasil dari proses tersebut. Konflik keluarga menjadi poros utama, dengan emosi yang dibiarkan tumbuh perlahan tanpa harus dipaksakan menjadi melodrama.
Rachel Amanda mengaku proses membangun karakter Tawa cukup menantang. “Tawa itu anak stand up comedy, Bapaknya pelawak TV, jadi komedinya memang mengalir. Tapi di balik itu, dia menyimpan jarak emosional yang besar,” ujarnya.
Rachel juga menyoroti bagaimana humor menjadi mekanisme bertahan bagi karakter tersebut. Saat Tawa bertemu kembali dengan ayahnya ketika dewasa, dia menggunakan tawa untuk berdamai dengan rasa ditinggalkan dan kekecewaan masa kecil.
Pendekatan serupa diterapkan pada karakter orangtua. Sosok Cantik digambarkan sangat protektif karena trauma masa lalu, sementara Keset memendam rasa bersalah yang tak pernah benar-benar terucap.
Lapisan emosi film ini turut diperkuat lewat pilihan musik. Lagu “Masa Sepi” dari Bernadya dan “Timur” dari The Adams dipilih sejak awal proses penyuntingan untuk menjaga ritme emosional film tetap jujur dan membumi.
Aco mengakui proses pembuatan film ini membuka kembali pengalaman personal dan pengamatannya terhadap orang-orang terdekat. “Semoga film ini bisa menebarkan cinta serta memberikan harapan-harapan baru di awal tahun 2026,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.