Sejarah & Pentingnya Hari Kesejahteraan Mental Remaja Sedunia, Diperingati Tiap 2 Maret
02 March 2025 |
08:55 WIB
World Teen Mental Wellness Day atau Hari Kesejahteraan Mental Remaja Sedunia diperingati pada 2 Maret tiap tahunnya. Ini dibuat untuk menyoroti dan mendukung kesehatan mental remaja di seluruh dunia, menciptakan percakapan, meningkatkan kesadaran, dan menghilangkan stigma buruk yang melekat.
Di dunia yang serba cepat saat ini, remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang signifikan, yang membuat remaja rentan terhadap tantangan kesehatan mental.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1 dari 7 anak muda berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental setiap tahun. Sementara di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan sebanyak 1 dari 5 anak muda berusia 13-18 tahun mengalami gangguan mental.
Baca juga: 5 Langkah Penting Meningkatkan Kesehatan Mental di Indonesia
Pada 2021, CDC juga menemukan bahwa lebih dari 4 dari 10 atau sekitar 42 persen siswa merasa sedih atau putus asa secara terus-menerus, dan hampir sepertiga dari mereka (29 persen) mengalami kesehatan mental yang buruk.
Menurut data dari Compass Health Center, sekitar 42 persen remaja mengalami perasaan sedih atau putus asa terus-menerus. Sementara itu, bunuh diri masih menjadi penyebab utama kematian di kalangan remaja berusia 10-14 tahun dan 15-29 tahun.
Di sisi lain, menurut American Psychological Association, generasi Z memiliki kesehatan mental terburuk dari semua generasi. Sementara berdasarkan data dari Mental Health America, sebagian besar remaja atau sekitar 56,1 persen remaja Amerika Serikat yang mengalami depresi berat, tidak menerima perawatan kesehatan mental apa pun.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan remaja perlu mendapat perhatian ekstra karena pada usia tersebut, remaja menjadi lebih mandiri dan berpotensi menarik diri dari lingkungannya. Mengutip Ontario Society of Registered Psychotherapists, remaja sedang menjalani tahun-tahun pembentukan kehidupan mereka karena mereka mengalami perubahan baik secara fisik maupun emosional mereka.
Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan, dorongan, dan lingkungan yang nyaman dan aman sebagai tempat mereka dapat mengekspresikan diri. Sayangnya, banyak remaja tidak memiliki lingkungan seperti ini dan akibatnya kesulitan mengekspresikan diri secara emosional.
Hal tersebut dapat menimbulkan banyak dampak negatif, terutama pada kesehatan mental mereka. Mengidentifikasi dan mulai mengatasi masalah kesehatan mental sejak usia dini dapat sangat bermanfaat untuk mencegah hal tersebut.
Mengutip Hopewell Fund, Hari Kesehatan Mental Remaja Sedunia didirikan untuk membantu menormalkan percakapan seputar kesehatan mental dan kesejahteraan bagi remaja, serta membangun apresiasi baru terhadap kekuatan hubungan antarmanusia.
Peringatan itu bertujuan untuk membantu remaja dengan cara yang tepat guna mendukung kesehatan mental mereka, serta membuat mereka berani berbicara tentang isu-isu yang relevan bagi mereka. Kesehatan mental dapat secara drastis memengaruhi kehidupan remaja dan menyebabkan depresi serta dampak negatif lainnya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi remaja agar mereka mau berbagi perasaan dan pemikirannya, yang sebenarnya berguna untuk memastikan kesejahteraan mental mereka. Penting juga untuk berpartisipasi dalam proses menghilangkan stigma terhadap penyakit mental, sehingga remaja dapat merasa lebih tenang untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Sejak 2020, Hollister juga membuat Hollister Confidence Project, sebuah inisiatif global guna mendukung baik individu ataupun lembaga nirlaba yang berupaya memperkuat kepercayaan diri dan kesehatan mental pada remaja sepanjang tahun.
Sebagai proyek yang disponsori secara fiskal oleh Hopewell Fund, tim Hollister Confidence Fund bekerja sama dengan para ahli terkemuka termasuk remaja, untuk membantu mengidentifikasi tujuan yang didukung oleh Hollister Confidence Fund, dengan fokus pada upaya yang meningkatkan kepercayaan diri dan inklusi pada remaja di seluruh dunia.
Pada 2021, Hollister Confidence Fund memberikan US$1 juta kepada 20 kelompok nirlaba dan proyek yang berfokus pada bidang-bidang termasuk kesehatan mental remaja, kesetaraan untuk kaum muda kulit hitam, pribumi, & orang berwarna (BIPOC), keselamatan dan inklusi untuk pemuda LGBTQ+, upaya anti-perundungan, serta keberlanjutan.
Sejak proyek ini diluncurkan pada 2020, Hollister Confidence Fund telah mengumpulkan lebih dari US$3 juta melalui kemitraan dengan para pelanggan, serta memberikan hibah kepada lebih dari 60 organisasi di seluruh dunia, di antaranya The Latin America & the Caribbean Alliance, The Laurel Foundation, dan This is my Brave.
Baca juga: Hypereport: Kesehatan Mental dan Fisik jadi Fokus Utama Gen Z Hadapi Tantangan 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Di dunia yang serba cepat saat ini, remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang signifikan, yang membuat remaja rentan terhadap tantangan kesehatan mental.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1 dari 7 anak muda berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental setiap tahun. Sementara di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan sebanyak 1 dari 5 anak muda berusia 13-18 tahun mengalami gangguan mental.
Baca juga: 5 Langkah Penting Meningkatkan Kesehatan Mental di Indonesia
Pada 2021, CDC juga menemukan bahwa lebih dari 4 dari 10 atau sekitar 42 persen siswa merasa sedih atau putus asa secara terus-menerus, dan hampir sepertiga dari mereka (29 persen) mengalami kesehatan mental yang buruk.
Menurut data dari Compass Health Center, sekitar 42 persen remaja mengalami perasaan sedih atau putus asa terus-menerus. Sementara itu, bunuh diri masih menjadi penyebab utama kematian di kalangan remaja berusia 10-14 tahun dan 15-29 tahun.
Di sisi lain, menurut American Psychological Association, generasi Z memiliki kesehatan mental terburuk dari semua generasi. Sementara berdasarkan data dari Mental Health America, sebagian besar remaja atau sekitar 56,1 persen remaja Amerika Serikat yang mengalami depresi berat, tidak menerima perawatan kesehatan mental apa pun.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan remaja perlu mendapat perhatian ekstra karena pada usia tersebut, remaja menjadi lebih mandiri dan berpotensi menarik diri dari lingkungannya. Mengutip Ontario Society of Registered Psychotherapists, remaja sedang menjalani tahun-tahun pembentukan kehidupan mereka karena mereka mengalami perubahan baik secara fisik maupun emosional mereka.
Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan, dorongan, dan lingkungan yang nyaman dan aman sebagai tempat mereka dapat mengekspresikan diri. Sayangnya, banyak remaja tidak memiliki lingkungan seperti ini dan akibatnya kesulitan mengekspresikan diri secara emosional.
Hal tersebut dapat menimbulkan banyak dampak negatif, terutama pada kesehatan mental mereka. Mengidentifikasi dan mulai mengatasi masalah kesehatan mental sejak usia dini dapat sangat bermanfaat untuk mencegah hal tersebut.
Sejarah Hari Kesejahteraan Mental Remaja Sedunia
Pentingnya untuk mendorong kesehatan mental remaja membuat Hollister, sebuah merek ritel bagi konsumen remaja global, menginisiasi Hari Kesejahteraan Mental Remaja Sedunia (World Teen Mental Wellness Day) pada 2020.Mengutip Hopewell Fund, Hari Kesehatan Mental Remaja Sedunia didirikan untuk membantu menormalkan percakapan seputar kesehatan mental dan kesejahteraan bagi remaja, serta membangun apresiasi baru terhadap kekuatan hubungan antarmanusia.
Peringatan itu bertujuan untuk membantu remaja dengan cara yang tepat guna mendukung kesehatan mental mereka, serta membuat mereka berani berbicara tentang isu-isu yang relevan bagi mereka. Kesehatan mental dapat secara drastis memengaruhi kehidupan remaja dan menyebabkan depresi serta dampak negatif lainnya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi remaja agar mereka mau berbagi perasaan dan pemikirannya, yang sebenarnya berguna untuk memastikan kesejahteraan mental mereka. Penting juga untuk berpartisipasi dalam proses menghilangkan stigma terhadap penyakit mental, sehingga remaja dapat merasa lebih tenang untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Sejak 2020, Hollister juga membuat Hollister Confidence Project, sebuah inisiatif global guna mendukung baik individu ataupun lembaga nirlaba yang berupaya memperkuat kepercayaan diri dan kesehatan mental pada remaja sepanjang tahun.
Sebagai proyek yang disponsori secara fiskal oleh Hopewell Fund, tim Hollister Confidence Fund bekerja sama dengan para ahli terkemuka termasuk remaja, untuk membantu mengidentifikasi tujuan yang didukung oleh Hollister Confidence Fund, dengan fokus pada upaya yang meningkatkan kepercayaan diri dan inklusi pada remaja di seluruh dunia.
Pada 2021, Hollister Confidence Fund memberikan US$1 juta kepada 20 kelompok nirlaba dan proyek yang berfokus pada bidang-bidang termasuk kesehatan mental remaja, kesetaraan untuk kaum muda kulit hitam, pribumi, & orang berwarna (BIPOC), keselamatan dan inklusi untuk pemuda LGBTQ+, upaya anti-perundungan, serta keberlanjutan.
Sejak proyek ini diluncurkan pada 2020, Hollister Confidence Fund telah mengumpulkan lebih dari US$3 juta melalui kemitraan dengan para pelanggan, serta memberikan hibah kepada lebih dari 60 organisasi di seluruh dunia, di antaranya The Latin America & the Caribbean Alliance, The Laurel Foundation, dan This is my Brave.
Baca juga: Hypereport: Kesehatan Mental dan Fisik jadi Fokus Utama Gen Z Hadapi Tantangan 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.