Ilustrasi ekspresi anak (dok: Unsplash/Ben White)

Bangun Kecerdasan Emosional, Berikut Pentingnya Memahami Ekspresi Anak

06 September 2021   |   09:17 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Selain pola asuh yang tepat, kemampuan memahami ekspresi anak jadi kunci keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak. Kemampuan orangtua memahami ekspresi anak erat kaitannya dengan kecerdasan emosional anak. Orangtua yang mampu memahami ekspresi anak dapat melatih anak meregulasi emosinya sekaligus membentuk kecerdasan emosional anak.

Menurut Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Anggia Hapsari Sp.KJ, terdapat banyak cara untuk memahami maksud dari ekspresi anak. Tentunya hal tersebut menyesuaikan dengan usia atau tingkat tumbuh kembang anak.

"Perbedaan dalam perkembangan emosi membutuhkan perhatian khusus agar anak memiliki kemampuan meregulasi emosi mereka dengan tepat," kata Anggia.

Periode usia sekolah atau 6-12 tahun adalah waktu ketika kemampuan kognitif anak mulai berkembang. Anak sudah bisa mengekspresikan dua bentuk emosi yang berbeda secara bersamaan, bahkan emosi yang bertolak belakang.

"Pada tahap ini, anak mulai mengetahui kapan harus mengontrol ekspresi emosi. Mereka juga mulai mengetahui keterampilan regulasi perilaku yang memungkinkan mereka menyembunyikan emosinya dengan cara yang sesuai dengan aturan sosial," tuturnya.

Anggia menyebut hal yang perlu diwaspadai oleh orangtua pada periode tersebut adalah emosi negatif yang berpotensi menjadi ledakan emosi. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan akan mengarah pada perilaku yang membahayakan diri anak atau orang lain.

Lebih lanjut, Anggia mengungkapkan sejumlah langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk membantu anak memiliki regulasi emosi, antara lain mengenali emosi atau perasaan diri, mengenali emosi atau perasaan orang lain.

Kemudian orang tua juga dituntut untuk hadir dan mendengarkan perasaan anak, menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak. Orang tua juga tidak boleh bereaksi negatif saat anak rewel atau marah.

Terakhir, orangtua sudah seharusnya memberikan contoh yang baik atau menjadi panutan bagi anak, alih-alih hanya menyuruh anak tanpa memberikan contoh.

"Orang tua menjadi role model, senang bermain dengan anak, tertarik dengan aktivitas anak, serta mengajarkan teknik-teknik relaksasi," tutupnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Jakarta Anna Surti Ariani menyebut dalam mengasuh anak hal yang sangat penting adalah interaksi pada waktu tertentu untuk membuat ikatan keluarga menjadi lebih kuat. Adapun, waktu yang dimaksud adalah waktu bersantai, seperti makan bersama, bermain bersama, atau bincang-bincang santai di ruang keluarga.

Selama pandemi Covid-19 waktu tersebut menjadi sangat penting lantaran waktu anak-anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi jauh menurun. Terlebih bagi anak-anak usia sekolah yang biasanya berinteraksi di sekolah bersama teman-teman dan gurunya untuk mengasah kemampuan sosialisasi dan komunikasinya.

Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa) Diena Haryana menilai keberhasilan dalam mengasuh anak juga dipengaruhi oleh interaksi yang baik dari kedua orangtua seutuhnya, yakni ayah dan ibu. Karena tidak dapat dimungkiri masih banyak ayah yang tidak mengambil peran mereka dalam membesarkan anak.

Ayah hanya menjalankan perannya sebagai pencari nafkah tanpa ikut campur dalam mengasuh anak di rumah. Bukan karena tidak ingin, beberapa diantaranya tidak diberikan kesempatan oleh ibu dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah keraguan terhadap kemampuan yang dimiliki ayah dalam mengasuh anak.

“Ada ketidakseimbangan antara peran ibu dan ayah dalam pengasuhan dan proses tumbuh kembang anak,” ujarnya.


Editor: Avicenna

SEBELUMNYA

Headset Bluetooth Bakal Mampu Menampilkan Audio Loseless

BERIKUTNYA

Pangan Lokal Jadi Kunci untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: