Pangan Lokal Jadi Kunci untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi
Jagung menjadi salah satu alternatif bahan baku industri pangan lokal pengganti tepung (Dok. Andre Ouellet/Unsplash)
Pasalnya, saat ini pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masih menjadi masalah di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan laporan ePPGBM SIGIZI per tanggal 20 Januari 2021, dari 11.499.041 balita yang diukur status gizinya di 34 provinsi, tercatat bahwa sebanyak 1.325.296 balita atau sekitar 11,6 persen di antaranya menderita stunting.
Ahli dari SEAMEO RECFON Umi Fahmida mengatakan bahwa masalah gizi banyak terjadi pada usia balita, terutama bayi di bawah usia 1 tahun, karena kebutuhan gizi yang tinggi. Untuk mengatasinya, menurutnya diperlukan pedoman asupan yang sesuai dengan konteks lokal.
Umi menjelaskan dalam studi Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) di 37 kabupaten prioritas stunting di Indonesia, ditemukan banyak sumber pangan lokal yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Pemanfaatan dari pangan lokal ini berpotensi untuk meningkatkan kecukupan gizi dan mengatasi masalah stunting.
“PGS-PL disusun pada 37 kabupaten prioritas stunting di Indonesia dengan memperhatikan konteks lokal terkait pola konsumsi, masalah gizi spesifik lokal—utamanya zat besi, kalsium, seng, dan folat, akses dan ketersediaan makanan, dan harga makanan,” ujarnya dalam suatu virtual.

Singkong menjadi salah satu alternatif bahan baku industri pangan lokal pengganti tepung (Dok. Annie Spratt/Unsplash)
Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menuturkan peran desa sangat krusial dalam masalah pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Menurutnya, dari desalah masalah ketahanan pangan terjadi dan dari desa pula lah terdapat solusi dari sumber keragaman.
“Sistem pangan komunitas desa perlu didukung dengan model pertanian berkelanjutan, model pemasaran/distribusi yang berkeadilan, pemenuhan hak atas pangan bagi setiap orang dan partisipasi pada pengambilan kebijakan,” terangnya.
Selain itu, diversifikasi pangan juga penting untuk memastikan ketersediaan serta pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Kepala Pusat Ketersediaan & Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Andriko Noto Susanto menuturkan konsumsi beras sepanjang 2015-2020 telah mengalami penurunan. Namun, di sisi lain, terdapat peningkatan konsumsi terigu yang luar biasa.
Dia menjelaskan nilai impor gandum-terigu pada tahun 2020 mencapai Rp 35,78 triliun. “Ini menjadi peluang besar untuk mendorong alternatif bahan baku industri pangan lokal untuk substitusi tepung terigu sampai 20%, seperti dari talas, sagu, pisang, kentang, jagung, dan singkong,” tuturnya.
Editor: Avicenna

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026