Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar (Sumber Foto: Kemenekraf)

Kolaborasi Mode hingga Musik Jadi Kunci Penguatan Ekonomi Kreatif

19 February 2025   |   12:27 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Efisiensi anggaran kementerian dan lembaga pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sedikit banyak akan turut berpengaruh terhadap program kerja yang bakal dijalankan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf). Meski begitu, Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya tetap optimistis di tengah keterbatasan jatah pendanaan tersebut.

Seperti yang diketahui, dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Gedung Nusantara 1 DPR RI, Jakarta, pada Rabu (12/2/2025), anggaran Kemenekraf, setelah terkena efisiensi, tersisa sebanyak Rp189,1 miliar. Awalnya, anggaran yang dialokasikan sebesar Rp279,6 miliar lalu mengalami pemotongan Rp90,5 miliar atau sebesar 32,3 persen.

Baca juga: Duplikat Karya Seni Berlisensi, Strategi Baru Tingkatkan Ekonomi Kreatif

Adapun untuk menyiasati efisiensi anggaran, program yang akan dijalankan Kemenekraf mengedepankan kolaborasi dengan berbagai institusi, baik antar-lembaga pemerintahan, swasta, maupun para pelaku ekonomi kreatif yang populasinya terbilang besar. 

“Mungkin banyak yang merasa sedih karena efisiensi anggaran. Namun, dengan adanya efisiensi ini ada cara yang bisa dilakukan yaitu dengan kolaborasi," kata Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (wamenekraf), Irene Umar, dikutip dari pernyataan resminya.

Melalui acara Workshop Roadmap of Indonesian Tourism Through Creative Industry yang digelar pada 14 Februari 2025, Kemenekraf memperlihatkan roadmap pengembangan industri kreatif di Indonesia. 

Dipaparkan juga berbagai program kerja kolaborasi yang sudah berjalan maupun yang akan direalisasikan, khususnya pada subsektor prioritas ekonomi kreatif yang telah ditetapkan oleh Bappenas.

Diketahui, Ekraf sendiri memiliki 17 subsektor. Namun, Bappenas membuat program prioritas untuk ekonomi kreatif menjadi, sebagai berikut:
  • Penguatan ekosistem pemampu ekonomi kreatif
  • Penguatan ekosistem film, animasi, video, dan musik
  • Penguatan ekosistem fesyen dan kriya
  • Penguatan ekosistem aplikasi dan gim 
  • Penguatan ekosistem kuliner.

"Menurut Bappenas, tujuh subsektor prioritas telah diidentifikasi seperti kuliner, kriya, fesyen, aplikasi, permainan, film-animasi-video, dan musik. Sektor-sektor ini diprioritaskan karena kontribusi ekonomi yang tinggi, potensi penciptaan lapangan kerja, dan daya saing pasar global," kata Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya.


Kolaborasi Berbagai Sektor Ekraf

Kemenekraf berkolaborasi dengan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) yang ditandatangani pada 17 Desember 2024. Kerja sama ini bertujuan untuk mempercepat realisasi program-program ekonomi kreatif yang tepat sasaran sesuai arahan pemerintah pusat.

Kerja sama dengan InJourney mencakup pengembangan infrastruktur pariwisata yang relevan dan pemanfaatan sarana pemasaran untuk mendukung kegiatan ekonomi kreatif. 

Beberapa contoh implementasi nyata dari kolaborasi ini antara lain pembuatan game corner di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi daya tarik baru bagi wisatawan, serta reading corner dan toko merchandise di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menghadirkan karya-karya intelektual properti (IP) lokal.

"TMII sudah gas pol, Bandara Soekarno-Hatta dengan game corner juga sudah berjalan, dan akan berkembang lagi ke 7 kota untuk tahun ini,” ujar Irene.

Tasya Intan Nur Dewi, Customer Experience Group Head InJourney memaparkan bahwa kolaborasi dengan Kemenekraf menunjukkan hasil yang luar biasa cepat dan efektif.

“Hanya dalam satu minggu, kami sudah bisa menghadirkan game corner di Terminal 3 Bandara Soetta. Selain itu, reading corner dan merchandising store di TMII kini diisi dengan banyak hasil karya dari kekayaan intelektual (IP) lokal, ini akan terus berlanjut untuk mendukung seniman lokal,” jelas Tasya.

Selain infrastruktur pariwisata yang memberikan dukungan besar untuk karya IP lokal, Kemenekraf juga menjajaki kolaborasi dengan agregator fesyen ternama Markamarie untuk mendorong jenama lokal supaya bisa bersaing di kancah global. 

Markamarie yang dipimpin Franka Soeria dan Ismail Semin ini dikenal sebagai agregator fesyen yang fokus membina UMKM dan mengenalkan fesyen serta ekonomi kreatif Indonesia ke mancanegara dan telah beroperasi selama hampir 10 tahun. 

"Audiensi kali ini dengan Kementerian Ekonomi Kreatif merupakan langkah strategis untuk perkuat ekosistem kreatif di Indonesia," ujar Franka Soeria.

Franka Soeria dan Ismail Semin sendiri juga dikenal sebagai pendiri dan kreator Modest Fashion Weeks yang diadakan di berbagai belahan dunia. Mereka berharap kolaborasi akan dilakukan dengan program-program yang akan datang seperti Modest Fashion Trade Show Dubai dan Raya in The Park.

Selain gim dan fesyen, yang terbaru Kemenekraf membahas peluang kolaborasi dalam ekosistem musik bersama Spotify. Pertemuan Kemenekraf dengan Spotify bertujuan untuk membahas peluang kolaborasi dalam pengembangan platform digital musik di Indonesia, serta menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung industri musik tanah air.

Wamenekraf Irene menganggap penting peran Spotify dalam membantu promosi budaya dan mendukung musisi indie Indonesia.

“Spotify bisa hadir pada aktivasi yang telah dilakukan Kementerian Ekonomi Kreatif nanti. Platform ini sudah punya fungsi untuk menumbuhkan kreativitas pada sisi audio. Tinggal seperti apa kolaborasi yang kuat antarsemua pemangku kepentingan, khususnya subsektor musik diharap jadi agen pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Lebih lanjut, dia juga mengusulkan berbagai program kolaborasi, seperti lokakarya dan inkubasi untuk branding musisi lokal, akses data tren streaming yang mendukung kebijakan musisi, serta kurasi dan integrasi antarmusisi lokal dan nasional.

Baca juga: Menteri Ekonomi Kreatif Bertemu PARFI 1956 Bahas Ekosistem Film

Perwakilan Spotify, Vineeta Dixit, Director of Government Relations Spotify Asia Pacific Region, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya mendorong kesuksesan musisi lokal melalui berbagai program, seperti Spotify Wrapped, RADAR, dan EQUAL.

“Sisi kreatif industri musik di Indonesia begitu kuat, Spotify mengamati pertumbuhan jumlah kreator di Indonesia tumbuh lebih dari 33 persen pada 2022-2023,” jelas Vineeta.

Genre musik lokal yang populer di Indonesia seperti Pop Indonesia, Indie Indonesia, dan Pop Jawa juga membuat Spotify menjadi platform yang mewadahi kekayaan budaya dan musik Indonesia. Melalui Spotify for Artists, menurutnya musisi dapat menganalisis data pendengarnya, sementara program RADAR membantu musisi pendatang baru untuk menemukan audiens global.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Wisata Candi Jadi Daya Pikat Untuk Mendatangkan Turis dari India

BERIKUTNYA

Tracklist Album Ruby dari Jennie BLACKPINK yang RIlis 7 Maret 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga