Menteri Ekonomi Kreatif Bertemu PARFI 1956 Bahas Ekosistem Film
10 December 2024 |
17:30 WIB
Guna membahas peluang kerja sama dalam pengembangan ekonomi kreatif di sektor perfilman, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bertemu dengan Persatuan Artis Film Indonesia 1956. Pada pertemuan itu, dibahas tentang pentingnya memajukan perfilman agar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kreatif.
Riefky mengatakan, pemerintah ingin semua subsektor ekonomi kreatif memiliki ekosistem yang kian baik termasuk dalam penciptaan lapangan kerja yang semakin berkualitas dan berkelanjutan. “Juga mendorong penghiliran dan komersialisasi ekonomi kreatif,”katanya dalam siaran pers, Selasa (10/12/2024).
Baca juga: Himpunan Desainer Interior Soroti Kondisi Profesinya di Sektor Kreatif
Dia memaparkan bahwa gambaran tentang grand design pengembangan ekonomi kreatif dan beberapa tantangan utama dalam pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia, sedikit banyak mulai dapat diidentifikasi dalam pertemuan tersebut.
Menurutnya, tantangan itu mulai dari para stakeholder yang kurang paham tentang betapa penting Hak Kekayaan Intelektual (HKI), keterbatasan infrastruktur, dan akses terhadap pasar.
Dalam diskusi tersebut, dia mengusulkan sejumlah dukungan kolaborasi bersama PARFI 1956. Dukungan tersebut di antaranya adalah mendorong diplomasi budaya di pentas internasional dan meningkatkan kualitas lapangan kerja melalui program kreasi, produksi, dan promosi sesuai dengan perannya dalam mengembangkan industri kreatif di bidang keaktoran.
Dia menilai bahwa kolaborasi sangat penting karena film, animasi, dan video juga merupakan salah satu komponen yang penting untuk menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Ketua Umum PARFI Marcella Zalianty menilai bahwa grand design yang disampaikan pemerintah sangat strategis dan konstruktif. Dalam desain tersebut, keterlibatan dan kolobarasi dengan asosiasi asosiasi dalam program kerja menjadi perhatian kementerian.
Dia menyoroti beberapa aspek yang dapat didukung oleh pemerintah, yakni peningkatan kualitas SDM, kesejahteraan para aktor, kebijakan dan regulasi industri perfilman yang lebih sehat. Tidak hanya itu, PARFI juga memberikan sorotan tenang pembaharuan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) setelah pemecahan nomenklatur Kemenparekraf.
Menurutnya, asosiasi siap melakukan kolaborasi dan memberikan dukungan agar ekonomi kreatif di dalam negeri dapat lebih maju lagi dan menggapai pasar internasional.
Baca juga: Asosiasi Game Indonesia Punya Tiga Ekspektasi terhadap Kementerian Ekonomi Kreatif
Untuk diketahui, dalam laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, film menjadi salah satu subsektor di bidang ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan positif pada 2023.
Sepanjang tahun lalu, subsektor ini memiliki total jumlah penonton bioskop sebanyak 55 juta. Kemudian, ada puluhan judul film yang tayang di bioskop-bioskop dalam negeri. Tidak hanya dari jumlah penonton, film juga memiliki Intellectual Property (IP) tinggi dengan satu karya dapat memiliki taksiran nilai mencapai Rp15 triliun.
Editor: Fajar Sidik
Riefky mengatakan, pemerintah ingin semua subsektor ekonomi kreatif memiliki ekosistem yang kian baik termasuk dalam penciptaan lapangan kerja yang semakin berkualitas dan berkelanjutan. “Juga mendorong penghiliran dan komersialisasi ekonomi kreatif,”katanya dalam siaran pers, Selasa (10/12/2024).
Baca juga: Himpunan Desainer Interior Soroti Kondisi Profesinya di Sektor Kreatif
Dia memaparkan bahwa gambaran tentang grand design pengembangan ekonomi kreatif dan beberapa tantangan utama dalam pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia, sedikit banyak mulai dapat diidentifikasi dalam pertemuan tersebut.
Menurutnya, tantangan itu mulai dari para stakeholder yang kurang paham tentang betapa penting Hak Kekayaan Intelektual (HKI), keterbatasan infrastruktur, dan akses terhadap pasar.
Dalam diskusi tersebut, dia mengusulkan sejumlah dukungan kolaborasi bersama PARFI 1956. Dukungan tersebut di antaranya adalah mendorong diplomasi budaya di pentas internasional dan meningkatkan kualitas lapangan kerja melalui program kreasi, produksi, dan promosi sesuai dengan perannya dalam mengembangkan industri kreatif di bidang keaktoran.
Dia menilai bahwa kolaborasi sangat penting karena film, animasi, dan video juga merupakan salah satu komponen yang penting untuk menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Ketua Umum PARFI Marcella Zalianty menilai bahwa grand design yang disampaikan pemerintah sangat strategis dan konstruktif. Dalam desain tersebut, keterlibatan dan kolobarasi dengan asosiasi asosiasi dalam program kerja menjadi perhatian kementerian.
Dia menyoroti beberapa aspek yang dapat didukung oleh pemerintah, yakni peningkatan kualitas SDM, kesejahteraan para aktor, kebijakan dan regulasi industri perfilman yang lebih sehat. Tidak hanya itu, PARFI juga memberikan sorotan tenang pembaharuan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) setelah pemecahan nomenklatur Kemenparekraf.
Menurutnya, asosiasi siap melakukan kolaborasi dan memberikan dukungan agar ekonomi kreatif di dalam negeri dapat lebih maju lagi dan menggapai pasar internasional.
Baca juga: Asosiasi Game Indonesia Punya Tiga Ekspektasi terhadap Kementerian Ekonomi Kreatif
Untuk diketahui, dalam laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, film menjadi salah satu subsektor di bidang ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan positif pada 2023.
Sepanjang tahun lalu, subsektor ini memiliki total jumlah penonton bioskop sebanyak 55 juta. Kemudian, ada puluhan judul film yang tayang di bioskop-bioskop dalam negeri. Tidak hanya dari jumlah penonton, film juga memiliki Intellectual Property (IP) tinggi dengan satu karya dapat memiliki taksiran nilai mencapai Rp15 triliun.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.