Teater Mandiri Gelar Workshop & Pementasan Lakon Aduh di Taman Ismail Marzuki
17 February 2025 |
16:10 WIB
Pegiat dan penikmat teater ada kabar gembira nih. Teater Mandiri bakal kembali mementaskan lakon Aduh serta menggelar lokakarya, di mana pesertanya akan diajak berpentas di atas panggung pada 20-21 Februari 2025 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.
Pertunjukan dan workshop ini merupakan upaya Teater Mandiri untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagi generasi muda. Lakon Aduh ditulis oleh Putu Wijaya pada 1971, dan pada 1974 memenangkan Lomba Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Baca juga: Hypereport: Dedikasi Teater untuk Seni dan Pemberdayaan
Setelah 50 tahun ditulis, lakon ini sering meleset ditafsirkan oleh grup teater yang membawakannya. Oleh karena itu pementasannya kerap tidak mampu menampilkan lelucon tentang potret kemanusiaan hari ini.
Dalam sejarahnya, lakon ini memang kerap dipentaskan di berbagai tempat, baik pertunjukan pribadi maupun festival. Belum lama ini, Tater Mandiri juga mementaskannya di Salihara dengan ciamik pada Mei 2024. Bangku penonton juga membeludak kala itu.
"Teater Mandiri mencoba memberikan informasi agar kesalahan interpretasi bahwa lakon Aduh ini adalah ikut-ikutan meniru fenomena teater Absurd di Teater Barat. Karena ini sejatinya persoalan sosial kita yang perlu diatasi sampai sekarang," kutipan dalam siaran tertulis yang diterima Hypeabis.id.
Nantinya, pementasan akan dilakukan di Teater Kecil TIM dengan didukung 15 pemain. Plus peserta workshop akan dilibatkan sehari sebelum pementasan, yakni pada 19 Februari 2025. Sutradara Putu Wijaya akan menggelar workshop bertajuk Bertolak dari yang Ada & Teror Mental.
Kedua konsep tersebut penting sekali untuk mengantisipasi berbagai kesulitan yang ditemukan dalam proses produksi, sehingga setiap kendala dan kekurangannya tidak akan pernah bisa menggagalkan produksi. Faktor inilah yang penting untuk diketahui dalam mementaskan lakon Aduh.
Secara umum, Aduh akan menampilkan tokoh tanpa nama yang mengerang dan mengaduh kesakitan di tengah kesibukan orang banyak. Orang-orang sibuk berdebat, perlukah memberi pertolongan tanpa pernah bertindak, hingga yang sakit akhirnya mati. Mereka panik lalu susah payah membuang mayat yang sakit ke sumur.
Namun, tanpa sadar, di antara mereka ada yang terjebak di dalam sumur. Dari sumur itu lantas muncul suara mengaduh minta tolong di sela erangan. Lagi-lagi mereka berdebat, perlukah menolong tanpa pernah bertindak hingga suara itu lenyap bersama ajal yang menjemputnya.
Bagi Genhype yang tertarik untuk menjadi bagian dari pementasan Aduh, kalian bisa mengikuti workshop. Lokakarya ini akan mengundang antara 30-50 peserta, baik dari dalam atau luar Jakarta. Mereka yang berhasil mengikuti workshop juga akan diberi sertifikat.
Para peserta akan diajak untuk ikut dalam pementasan, sebagaimana yang pernah Teater Mandiri lakukan di GBB TIM pada ulang tahun Teater Mandiri yang ke 40. Keikutsertaan para peserta workshop itu adalah puncak dari peristiwa workshop.
Namun, para peserta yang dapat mengikuti lokakarya ini diutamakan mereka diutamakan yang sudah memiliki pengalaman, bukan sama sekali pemula dalam dunia teater. Khususnya sutradara, penulis, penata artistik yang mempunyai pengalaman berteater 3-4 tahun.
Pendaftaran dilakukan secara close call, dalam artian Teater Mandiri dan DKJ-komite teater mengundang secara pribadi segenap komunitas festival teater Jakarta. Sementara itu, Teater Mandiri melalui kolega anggotanya mengundang aktor dan pegiat teater yang ada di Jabodetabek dan luar Jabodetabek.
Adapun, proses workshop dilakukan dalam 2 sesi pada 19 Februari, dan akan langsung dilibatkan dalam produksi pada 20 dan 21 Februari. Bagi yang berminat, peserta workshop tidak dipungut bayaran dan ditujukan untuk mahasiswa dan umum, atau pegiat teater dengan durasi workshop 3-4 jam.
Diketahui, Putu Wijaya dikenal sebagai seorang seniman yang totalitas. Dia piawai dalam menulis esai, cerita pendek, novel, naskah lakon, dan juga cerita film. Namun, sosok lelaki berusia 80 tahun ini tidak bisa dilepaskan dari grup teater yang diasuhnya, Teater Mandiri.
Baca juga: Ekspresi Anak Pejuang Kanker dalam Teater Simfoni Suara-Suara Tak Terdengar
Kekaryaan Putu Wijaya dan jejaknya terentang dari 1964 saat dia masih merantau di Yogyakarta. Pada dekade tersebut, dia menghasilkan karya-karya yang dekat dengan realisme, antara lain Dalam Cahaya Bulan, Lautan Bernyanyi, dan Bila Malam Bertambah Malam.
Putu merupakan seorang penulis yang mahir membangun cerita. Dia pernah menulis novel Telegram dan berhasil menjadi pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1972). Momen ini juga disusul oleh novel-novel lainnya yang memenangkan penghargaan seperti Stasiun, Pabrik, dan lain-lain.
Editor: Fajar Sidik
Pertunjukan dan workshop ini merupakan upaya Teater Mandiri untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagi generasi muda. Lakon Aduh ditulis oleh Putu Wijaya pada 1971, dan pada 1974 memenangkan Lomba Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Baca juga: Hypereport: Dedikasi Teater untuk Seni dan Pemberdayaan
Setelah 50 tahun ditulis, lakon ini sering meleset ditafsirkan oleh grup teater yang membawakannya. Oleh karena itu pementasannya kerap tidak mampu menampilkan lelucon tentang potret kemanusiaan hari ini.
Dalam sejarahnya, lakon ini memang kerap dipentaskan di berbagai tempat, baik pertunjukan pribadi maupun festival. Belum lama ini, Tater Mandiri juga mementaskannya di Salihara dengan ciamik pada Mei 2024. Bangku penonton juga membeludak kala itu.
"Teater Mandiri mencoba memberikan informasi agar kesalahan interpretasi bahwa lakon Aduh ini adalah ikut-ikutan meniru fenomena teater Absurd di Teater Barat. Karena ini sejatinya persoalan sosial kita yang perlu diatasi sampai sekarang," kutipan dalam siaran tertulis yang diterima Hypeabis.id.
Kedua konsep tersebut penting sekali untuk mengantisipasi berbagai kesulitan yang ditemukan dalam proses produksi, sehingga setiap kendala dan kekurangannya tidak akan pernah bisa menggagalkan produksi. Faktor inilah yang penting untuk diketahui dalam mementaskan lakon Aduh.
Secara umum, Aduh akan menampilkan tokoh tanpa nama yang mengerang dan mengaduh kesakitan di tengah kesibukan orang banyak. Orang-orang sibuk berdebat, perlukah memberi pertolongan tanpa pernah bertindak, hingga yang sakit akhirnya mati. Mereka panik lalu susah payah membuang mayat yang sakit ke sumur.
Namun, tanpa sadar, di antara mereka ada yang terjebak di dalam sumur. Dari sumur itu lantas muncul suara mengaduh minta tolong di sela erangan. Lagi-lagi mereka berdebat, perlukah menolong tanpa pernah bertindak hingga suara itu lenyap bersama ajal yang menjemputnya.
Cara Ikut Workshop
Para peserta akan diajak untuk ikut dalam pementasan, sebagaimana yang pernah Teater Mandiri lakukan di GBB TIM pada ulang tahun Teater Mandiri yang ke 40. Keikutsertaan para peserta workshop itu adalah puncak dari peristiwa workshop.
Namun, para peserta yang dapat mengikuti lokakarya ini diutamakan mereka diutamakan yang sudah memiliki pengalaman, bukan sama sekali pemula dalam dunia teater. Khususnya sutradara, penulis, penata artistik yang mempunyai pengalaman berteater 3-4 tahun.
Pendaftaran dilakukan secara close call, dalam artian Teater Mandiri dan DKJ-komite teater mengundang secara pribadi segenap komunitas festival teater Jakarta. Sementara itu, Teater Mandiri melalui kolega anggotanya mengundang aktor dan pegiat teater yang ada di Jabodetabek dan luar Jabodetabek.
Adapun, proses workshop dilakukan dalam 2 sesi pada 19 Februari, dan akan langsung dilibatkan dalam produksi pada 20 dan 21 Februari. Bagi yang berminat, peserta workshop tidak dipungut bayaran dan ditujukan untuk mahasiswa dan umum, atau pegiat teater dengan durasi workshop 3-4 jam.
Profil Putu Wijaya
Baca juga: Ekspresi Anak Pejuang Kanker dalam Teater Simfoni Suara-Suara Tak Terdengar
Kekaryaan Putu Wijaya dan jejaknya terentang dari 1964 saat dia masih merantau di Yogyakarta. Pada dekade tersebut, dia menghasilkan karya-karya yang dekat dengan realisme, antara lain Dalam Cahaya Bulan, Lautan Bernyanyi, dan Bila Malam Bertambah Malam.
Putu merupakan seorang penulis yang mahir membangun cerita. Dia pernah menulis novel Telegram dan berhasil menjadi pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1972). Momen ini juga disusul oleh novel-novel lainnya yang memenangkan penghargaan seperti Stasiun, Pabrik, dan lain-lain.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.