Ada Efisiensi, Penelitian Gunung Padang Akan Pakai Skema Public Private Partnership
11 February 2025 |
16:32 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa riset situs Gunung Padang yang terletak di Cianjur, Jawa Barat, akan kembali dilanjutkan. Mengingat kementeriannya terimbas efisiensi anggaran, riset itu akan diteruskan dengan seminimal mungkin menggunakan dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Menurutnya, program penelitian di Cagar Budaya Nasional dapat terus berjalan meski ada efisiensi anggaran. Proses penelitian warisan megalitik Nusantara itu akan dibiayai dengan skema Public Private Partnership.
Public Private Partnership (PPP) atau Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) merupakan skema kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta dalam rangka pembangunan infrastruktur atau penyediaan layanan publik.
Baca juga: Sempat Terhenti, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Akan Lanjutkan Riset Situs Gunung Padang
Skema ini telah umum digunakan untuk tujuan mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan tidak hanya mengandalkan APBN. Dalam skema ini, pemerintah diuntungkan karena dapat mengurangi beban pembiayaan proyek, sedangkan pihak swasta juga mendapatkan manfaat berupa peluang investasi dengan keuntungan jangka panjang.
“Jadi, ini adalah bagian dari kolaborasi bersama. Kita akan inisiasi itu. Nanti juga bekerja sama dengan institusi terkait dari beberapa lembaga, seperti BRIN dalam hal penelitiannya misalnya,” ungkap Fadli saat ditemui seusai diskusi Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan di Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa, (11/2/2025).
Menteri Kebudayaan mengatakan bahwa situs Gunung Padang memang akan menjadi salah satu fokus terdekatnya. Sebab, situs ini sekarang masuk ke dalam ranah Museum dan Cagar Budaya (MCB).
Terkait dengan anggaran internal dari kementerian yang akan digelontorkan pada penelitian ini, Fadli belum mau menjawab. Menurutnya, ini akan dilakukan sembari berjalan ke depan, terutama dengan adanya efisiensi anggaran yang ada saat ini.
Kendati demikian, dia menyebut efisiensi anggaran tidak akan menjadi masalah yang berarti di kementeriannya. Meski terdapat efisiensi, program-program yang selama ini ada akan terus berjalan dengan beberapa perbaikan, termasuk melihat skema Public Private Partnership.
Menteri penyuka keris ini juga mengatakan riset serta kajian yang lebih lanjut dan menyeluruh saat ini diperlukan untuk mengupas informasi secara komprehensif terhadap situs Gunung Padang. Sebab, situs ini punya daya tarik tersendiri bukan hanya bagi Indonesia, melainkan juga mata dunia.
Setelah mendengar beberapa paparan dari ahli dalam diskusi di kantornya, Fadli menyebut para pakar cenderung tidak memiliki perbedaan pendapat di lapisan teratas, yakni di struktur punden berundak.
“Di lapisan atas saya kira sudah selesai. Tidak ada yang berbeda pendapat. Namun, di satu tesis di bawahnya rupanya masih ada lapisan dua dan lapisan tiga lagi. Ini yang menurut saya perlu dikaji. Apalagi ditemukan batu berbentuk bulat yang itu man-made,” imbuhnya.
Fadli mengatakan lapisan bawah situs Gunung Padang ini yang masih menjadi perdebatan. Dia berharap penelitian lanjutan ini dapat menjawab berbagai petunjuk terkait hal tersebut.
Baca juga: Penelitian Situs Gunung Padang Berlanjut, Arkeolog Siapkan Data Penelitian
Dalam penelitian nanti, Fadli memastikan tidak akan memulainya dari nol. Sebab, temuan terkait situs ini sebenarnya telah berlangsung lama. Kemudian, penelitian yang lebih intensif juga telah berlangsung dalam satu dekade terakhir. “Ini kan sudah belasan tahun. Kita kalau meneliti tidak dari nol, tetapi melanjutkan apa yang ada di akhir. Jadi ini tinggal sedikit lagi,” jelasnya.
Salah satu fokusnya ialah pada lapisan bawah situs Gunung Padang. Sebab, di berbagai situs di dunia, peradaban yang terjadi pun tidak hanya muncul sekali. Hal itu bisa terjadi dalam lapis-lapis tahun yang berbeda.
Dia mengatakan ujung dari proses ini untuk memperdalam temuan dan data terkait dengan keberadaan situs tersebut. Setelah itu, proses selanjutnya ialah pemugaran sesuai dengan data dan temuan yang ada di dalamnya.
“Dengan deskripsi yang mungkin mendekati pola yang ada. Seperti halnya situs lain, mungkin tidak tepat 100 persen tetapi kira-kira seperti itu. Dengan mengikuti pola yang ada di dekat situ,” imbuhnya.
Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Dalam sejarah, laporan pertama mengenai keberadaan situs ini pertama kali dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst pada 1914.
Sejarawan Belanda, N.J.Krom juga telah menyinggungnya pada 1949 agar diteliti oleh para arkeolog. Arkian, pada 1979, penduduk setempat juga sempat melaporkan keberadaan tumpukan yang mengarah ke Gunung Gede, itu pada instansi terkait.
Laporan tersebut, kemudian ditindaklanjuti lewat kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas. Situs ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Bupati Cianjur Nomor 431/389.b/Disbudpar/2010 dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014.
Penelitian cukup intensif kembali dilakukan pada medio 2012-an. Sejak saat itu, situs ini mulai mendapat sorotan. Baru-baru ini, peneliti Danny Hilman Natawidjaja dan kawan-kawan menerbitkan jurnal internasional bertajuk Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia.
Setelah lolos review, jurnal tersebut dirilis pada 20 Oktober 2023 di Archaeological Prospection. Akan tetapi, pada 1 Desember 2023, John Wiley & Sons Inc, penerbit jurnal, mencabut artikel tersebut.
Baca juga: Kunjungi Situs Majapahit, Menbud Sebut Trowulan Layak Jadi World Heritage
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Menurutnya, program penelitian di Cagar Budaya Nasional dapat terus berjalan meski ada efisiensi anggaran. Proses penelitian warisan megalitik Nusantara itu akan dibiayai dengan skema Public Private Partnership.
Public Private Partnership (PPP) atau Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) merupakan skema kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta dalam rangka pembangunan infrastruktur atau penyediaan layanan publik.
Baca juga: Sempat Terhenti, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Akan Lanjutkan Riset Situs Gunung Padang
Skema ini telah umum digunakan untuk tujuan mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan tidak hanya mengandalkan APBN. Dalam skema ini, pemerintah diuntungkan karena dapat mengurangi beban pembiayaan proyek, sedangkan pihak swasta juga mendapatkan manfaat berupa peluang investasi dengan keuntungan jangka panjang.
“Jadi, ini adalah bagian dari kolaborasi bersama. Kita akan inisiasi itu. Nanti juga bekerja sama dengan institusi terkait dari beberapa lembaga, seperti BRIN dalam hal penelitiannya misalnya,” ungkap Fadli saat ditemui seusai diskusi Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan di Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa, (11/2/2025).
Menteri Kebudayaan mengatakan bahwa situs Gunung Padang memang akan menjadi salah satu fokus terdekatnya. Sebab, situs ini sekarang masuk ke dalam ranah Museum dan Cagar Budaya (MCB).
Terkait dengan anggaran internal dari kementerian yang akan digelontorkan pada penelitian ini, Fadli belum mau menjawab. Menurutnya, ini akan dilakukan sembari berjalan ke depan, terutama dengan adanya efisiensi anggaran yang ada saat ini.
Kendati demikian, dia menyebut efisiensi anggaran tidak akan menjadi masalah yang berarti di kementeriannya. Meski terdapat efisiensi, program-program yang selama ini ada akan terus berjalan dengan beberapa perbaikan, termasuk melihat skema Public Private Partnership.
Menteri penyuka keris ini juga mengatakan riset serta kajian yang lebih lanjut dan menyeluruh saat ini diperlukan untuk mengupas informasi secara komprehensif terhadap situs Gunung Padang. Sebab, situs ini punya daya tarik tersendiri bukan hanya bagi Indonesia, melainkan juga mata dunia.
Setelah mendengar beberapa paparan dari ahli dalam diskusi di kantornya, Fadli menyebut para pakar cenderung tidak memiliki perbedaan pendapat di lapisan teratas, yakni di struktur punden berundak.
“Di lapisan atas saya kira sudah selesai. Tidak ada yang berbeda pendapat. Namun, di satu tesis di bawahnya rupanya masih ada lapisan dua dan lapisan tiga lagi. Ini yang menurut saya perlu dikaji. Apalagi ditemukan batu berbentuk bulat yang itu man-made,” imbuhnya.
Fadli mengatakan lapisan bawah situs Gunung Padang ini yang masih menjadi perdebatan. Dia berharap penelitian lanjutan ini dapat menjawab berbagai petunjuk terkait hal tersebut.
Baca juga: Penelitian Situs Gunung Padang Berlanjut, Arkeolog Siapkan Data Penelitian

Gambar: Gunung Padang - Properti Milik Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Kemendikbud ristek
Penelitian Tidak dari Nol
Dalam penelitian nanti, Fadli memastikan tidak akan memulainya dari nol. Sebab, temuan terkait situs ini sebenarnya telah berlangsung lama. Kemudian, penelitian yang lebih intensif juga telah berlangsung dalam satu dekade terakhir. “Ini kan sudah belasan tahun. Kita kalau meneliti tidak dari nol, tetapi melanjutkan apa yang ada di akhir. Jadi ini tinggal sedikit lagi,” jelasnya.Salah satu fokusnya ialah pada lapisan bawah situs Gunung Padang. Sebab, di berbagai situs di dunia, peradaban yang terjadi pun tidak hanya muncul sekali. Hal itu bisa terjadi dalam lapis-lapis tahun yang berbeda.
Dia mengatakan ujung dari proses ini untuk memperdalam temuan dan data terkait dengan keberadaan situs tersebut. Setelah itu, proses selanjutnya ialah pemugaran sesuai dengan data dan temuan yang ada di dalamnya.
“Dengan deskripsi yang mungkin mendekati pola yang ada. Seperti halnya situs lain, mungkin tidak tepat 100 persen tetapi kira-kira seperti itu. Dengan mengikuti pola yang ada di dekat situ,” imbuhnya.
Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Dalam sejarah, laporan pertama mengenai keberadaan situs ini pertama kali dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst pada 1914.
Sejarawan Belanda, N.J.Krom juga telah menyinggungnya pada 1949 agar diteliti oleh para arkeolog. Arkian, pada 1979, penduduk setempat juga sempat melaporkan keberadaan tumpukan yang mengarah ke Gunung Gede, itu pada instansi terkait.
Laporan tersebut, kemudian ditindaklanjuti lewat kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas. Situs ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Bupati Cianjur Nomor 431/389.b/Disbudpar/2010 dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014.
Penelitian cukup intensif kembali dilakukan pada medio 2012-an. Sejak saat itu, situs ini mulai mendapat sorotan. Baru-baru ini, peneliti Danny Hilman Natawidjaja dan kawan-kawan menerbitkan jurnal internasional bertajuk Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia.
Setelah lolos review, jurnal tersebut dirilis pada 20 Oktober 2023 di Archaeological Prospection. Akan tetapi, pada 1 Desember 2023, John Wiley & Sons Inc, penerbit jurnal, mencabut artikel tersebut.
Baca juga: Kunjungi Situs Majapahit, Menbud Sebut Trowulan Layak Jadi World Heritage
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.