Penelitian Pantau Dampak Kental Manis Bagi Tumbuh Kembang Balita
11 February 2025 |
12:52 WIB
Produk kental manis kerap dijadikan alternatif pengganti susu untuk menambah asupan gizi balita di keluarga menengah ke bawah. Sempat ditegaskan oleh Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) bahwa produk ini bukan kategori susu dan mengandung tinggi gula, faktanya masih banyak balita di Indonesia yang mengonsumsinya setiap hari.
Untuk mengetahui dampak dari mengonsumsi produk kental manis bagi tumbuh kembang anak, sebanyak 100 balita di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, menjadi sasaran penelitian Pengurus Daerah Aisyiyah (PD) Kabupaten Bogor dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Adapun balita tersebut tercatat mengkonsumsi kental manis sebagai susu.
Baca juga: Alasan Susu Kental Manis Tidak Boleh Jadi Konsumsi Harian, Bisa Bikin Kecanduan
Koordinator Penelitian Majelis Kesehatan PDA Kab Bogor, Lina Marlina mengatakan penelitian ini bentuk tindak lanjut edukasi, sosialisasi, dan temuan tentang kesalahan penggunaan kental manis sebagai minuman susu untuk anak dalam beberapa tahun terakhir.
Dari total 100 balita, mereka mengkonsumsi konsumsi kental manis secara bervariasi. Sejumlah balita sesekali mengonsumsi kental manis, ada pula yang rutin.
“Ada di antara anak itu memang yang benar-benar minum sebagai susu, ada yang memang sewaktu-waktu, ada yang memang satu pekan sekali,” ujar Lina dalam keterangannya, Senin (10/2/2024).
Meski hanya menyasar 100 balita, menurut Lina tidak menutup kemungkinan masih banyak balita yang tidak terekam dari penelitiannya. Sebab, pemetaan target responden tersebut memang sudah berdasarkan pendataan awal oleh kader.
Sementara itu, untuk penentuan locus penelitian disebabkan berbagai faktor. Beberapa diantaranya, fakta kebiasaan konsumsi kental manis serta minimnya edukasi masyarakat akan gizi keluarga.
Faktor lain dipilih desa-desa di Pamijahan yakni karena wilayah tersebut menjadi sasaran bantuan sosial. Hanya saja, bantuan-bantuan yang diberikan juga kerap menyertakan kental manis.
Menurutnya, jika praktik ini terus berlanjut, dapat melanggengkan kesalahan persepsi penggunaan kental manis oleh masyarakat. Padahal berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 20 Tahun 2021 tentang label pangan olahan, menyebut bahwa kental manis tidak untuk menggantikan ASI.
Kental manis juga tidak cocok untuk bayi sampai 12 bulan, serta tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi. Pasalnya, kental manis mengandung banyak gula yang tidak baik untuk tubuh terlebih jika dikonsumsi secara berlebih.
Adapun penelitian tentang dampak pemberian kental manis pada balita masih dalam tahap awal. Belum diketahui hasil dari penelitian tersebt kepada kesehatan dan tumbuh kembang balita.
Mengutip IHC Telemed, anak yang mengonsumsi susu kental manis secara rutin bisa mengalami kekurangan nutrisi. Pasalnya, produk ini mengandung protein, kalsium, kalium, vitamin D, dan vitamin B12 dengan jumlah yang jauh lebih sedikit.
Tak hanya itu, risiko anak mengalami obesitas akan lebih meningkat bila mengonsumsi terlalu banyak makanan atau minuman yang tinggi gula. Anak yang mengalami obesitas berpotensi memicu beragam penyakit berbahaya, sebab anak yang belum berusia 2 tahun tidak disarankan memperoleh tambahan gula baik dari makanan ataupun minuman.
Kemudian, anak-anak dengan usia 2–18 tahun disarankan untuk tidak mengonsumsi gula lebih dari 6 sendok teh setiap harinya. Selain obesitas, produk dengan tinggi gula ini dapat menyebabkan gigi berlubang, hingga resistensi insulin.
Untuk mengetahui dampak dari mengonsumsi produk kental manis bagi tumbuh kembang anak, sebanyak 100 balita di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, menjadi sasaran penelitian Pengurus Daerah Aisyiyah (PD) Kabupaten Bogor dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Adapun balita tersebut tercatat mengkonsumsi kental manis sebagai susu.
Baca juga: Alasan Susu Kental Manis Tidak Boleh Jadi Konsumsi Harian, Bisa Bikin Kecanduan
Koordinator Penelitian Majelis Kesehatan PDA Kab Bogor, Lina Marlina mengatakan penelitian ini bentuk tindak lanjut edukasi, sosialisasi, dan temuan tentang kesalahan penggunaan kental manis sebagai minuman susu untuk anak dalam beberapa tahun terakhir.
Dari total 100 balita, mereka mengkonsumsi konsumsi kental manis secara bervariasi. Sejumlah balita sesekali mengonsumsi kental manis, ada pula yang rutin.
“Ada di antara anak itu memang yang benar-benar minum sebagai susu, ada yang memang sewaktu-waktu, ada yang memang satu pekan sekali,” ujar Lina dalam keterangannya, Senin (10/2/2024).
Meski hanya menyasar 100 balita, menurut Lina tidak menutup kemungkinan masih banyak balita yang tidak terekam dari penelitiannya. Sebab, pemetaan target responden tersebut memang sudah berdasarkan pendataan awal oleh kader.
Sementara itu, untuk penentuan locus penelitian disebabkan berbagai faktor. Beberapa diantaranya, fakta kebiasaan konsumsi kental manis serta minimnya edukasi masyarakat akan gizi keluarga.
Faktor lain dipilih desa-desa di Pamijahan yakni karena wilayah tersebut menjadi sasaran bantuan sosial. Hanya saja, bantuan-bantuan yang diberikan juga kerap menyertakan kental manis.
Menurutnya, jika praktik ini terus berlanjut, dapat melanggengkan kesalahan persepsi penggunaan kental manis oleh masyarakat. Padahal berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 20 Tahun 2021 tentang label pangan olahan, menyebut bahwa kental manis tidak untuk menggantikan ASI.
Kental manis juga tidak cocok untuk bayi sampai 12 bulan, serta tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi. Pasalnya, kental manis mengandung banyak gula yang tidak baik untuk tubuh terlebih jika dikonsumsi secara berlebih.
Fakta Kental Manis
Sementara itu, data Singapore Food Database menyebut terdapat sekitar 50 gram gula dalam 100 ml kental manis. Artinya, 30 ml kental manis mengandung lebih dari 15 gram gula. Kental manis juga mengandung sedikit vitamin dan mineral yang bermanfaat.Adapun penelitian tentang dampak pemberian kental manis pada balita masih dalam tahap awal. Belum diketahui hasil dari penelitian tersebt kepada kesehatan dan tumbuh kembang balita.
Mengutip IHC Telemed, anak yang mengonsumsi susu kental manis secara rutin bisa mengalami kekurangan nutrisi. Pasalnya, produk ini mengandung protein, kalsium, kalium, vitamin D, dan vitamin B12 dengan jumlah yang jauh lebih sedikit.
Tak hanya itu, risiko anak mengalami obesitas akan lebih meningkat bila mengonsumsi terlalu banyak makanan atau minuman yang tinggi gula. Anak yang mengalami obesitas berpotensi memicu beragam penyakit berbahaya, sebab anak yang belum berusia 2 tahun tidak disarankan memperoleh tambahan gula baik dari makanan ataupun minuman.
Kemudian, anak-anak dengan usia 2–18 tahun disarankan untuk tidak mengonsumsi gula lebih dari 6 sendok teh setiap harinya. Selain obesitas, produk dengan tinggi gula ini dapat menyebabkan gigi berlubang, hingga resistensi insulin.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.