Whack Klab dan Burgerun, usaha burger rumahan dengan harga mahasiswa. (Sumber: Dokumen pribadi)

Mencicipi Keunikan Burger Lokal di Jatinangor

18 July 2024   |   16:39 WIB
Image
Alya Hafilah Salsabila Mahasiswi Universitas Padjadjaran

Burger, salah satu makanan favorit di Indonesia yang tak menunjukkan tanda-tanda redup. Popularitas dari hidangan klasik yang terdiri dari roti lapis, patty daging, dan berbagai toping ini kian meroket beberapa tahun terakhir.

Banyaknya brand-brand kuliner ternama dan para pengusaha di bidang kuliner yang berlomba-lomba menciptakan burger terenak menjadi bukti dari popularitas hidangan satu ini. Namun, bagi mahasiswa rantau yang harus serba berhemat, burger kerap menjadi hidangan ‘mewah’ yang hanya dapat dikonsumsi di awal bulan karena harganya yang kurang terjangkau. 

Baca juga: Asal-usul Sejarah Burger, Makanan Cepat Saji Favorit Banyak Orang

Berangkat dari hal tersebut, Whack Klab, kedai burger yang berlokasi di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menyiasati hal tersebut dengan membuat burger dengan harga yang cukup terjangkau untuk mahasiswa, tetapi tetap dapat bersaing dengan burger-burger dari brand terkenal.

Dengan modal yang hanya Rp4 juta, Chairul, pendiri Whack Klab, mulai menjajakan dagangannya melalui pop up event yang beberapa kali diadakan di kampusnya maupun beberapa cafe di daerah Jatinangor. Dari usahanya, akhirnya Chairul mendapatkan modal yang cukup untuk membuka store Whack Klab pada 2023. 

Dengan kisaran harga menu Rp10.000 – Rp35.000, Whack Klab dapat menghasilkan omzet yang mencapai hampir Rp200 juta per tahunnya. Sedangkan, omzet yang dihasilkan per bulannya mencapai Rp25 juta. Untuk meminimalisir kerugian, Chairul memutuskan untuk mengurangi shift dan tidak mematok target yang tinggi pada saat low season atau musim liburan dimana banyak mahasiswa yang pulang ke tempat asalnya.

Untuk membuat brand-nya dikenal oleh mahasiswa di Jatinangor, Chairul memperkuat promosi Whack Klab melalui sosial media. Dia juga menempelkan beberapa stiker dengan logo Whack Klab di mana saja.

Meskipun kedai burger pertama di Jatinangor, namun Whack Klab sudah mendapatkan pengakuan dari para mahasiswa Jatinangor. Cita rasanya yang khas, kualitas bahannya yang premium, dan burgernya yang dibuat secara rumahan membuat Whack Klab menjadi pilihan burger utama di Jatinangor.

Pada saat-saat tertentu, Chairul juga kerap bekerja sama dengan beberapa orang dengan latar belakang F&B untuk membuat event thrift atau musik di Whack Klab. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar menjaga penjualan Whack Klab pada musim liburan mahasiswa.

“Tantangannya, sih, karena aku bukan dari latar belakang F&B, jadi aku cukup kelimpungan dari segi operasional, manajerial, dan storage, aku baru belajar hal itu setelah usahanya berjalan. Jadi bisa dibilang, agak salah juga prinsip ‘yaudah mulai aja dulu’ dalam bisnis. Nyatanya, kita harus mempersiapkan semuanya dari awal.”

Selain Chairul dengan Whack Klab-nya, usaha burger ini juga menjadi daya tarik tersendiri untuk Adi. Berawal dari usaha Pisang Lumpur di daerah Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Adi melihat peluang usaha burger pada tahun 2022 yang kemudian untuk memutuskan membuka Burgerun dan membuka cabang yang ke-3 di Jatinangor pada 2023. 

Saat ini, Adi sudah membuka outletnya di Tanjungsari, Sumedang Kota, dan Jatinangor. Adi menggabungkan Burgerun dan Pisang Lumpur di setiap outletnya. Keunikan yang dimiliki dari Burgerun ini terletak dari nama-nama menunya yang sesuai dengan nama brand-nya, seperti Easy Run Burger, Full Marathon Burger, dan masih banyak lagi.

“Kenapa kita memilih nama Burgerun karena kebetulan saya suka olahraga lari, akhirnya kita namain Burgerun dengan nama-nama menu yang temanya sama dengan nama brand.”

Bermodalkan Rp15 juta–Rp20 juta, Pisang Lumpur dan Burgerun dapat meraup omzet sekitar Rp30 juta–Rp40 juta per bulannya. Sedangkan, untuk omzet Burgerun sendiri mencapai Rp9 juta–Rp10 juta per bulan atau 23?ri keseluruhan penjualan. Burgerun dibandrol dengan kisaran harga Rp15.000–Rp30.000, serta terdapat menu paket seharga Rp75.000 dengan porsi yang cukup banyak.

Seperti kebanyakan usaha di Jatinangor, kendala dari usaha ini datang ketika musim liburan dimana mahasiswa sebagai target pasar utamanya berkurang. Untuk mengatasinya, Adi berusaha menguatkan promosi secara online melalui Instagram ads, Facebook ads, serta grup kuliner di Facebook. 

Meskipun baru membuka cabangnya di Jatinangor, Burgerun sudah cukup familier di telinga mahasiswa Jatinangor. Sama halnya dengan Whack Klab, Burgerun adalah produk burger homemade dan menggunakan daging lokal dengan cita rasa yang khas.

Menariknya, seluruh karyawan Burgerun adalah perempuan. Hal ini disebabkan karena Burgerun memiliki misi untuk pemberdayaan perempuan. Menurut penuturan Adi, dia bersama istrinya yang turut mengelola keuangan dan karyawan, melihat bahwa banyak perempuan yang memiliki pola pikir untuk menikah sehabis lulus sekolah. Namun, dia dan istrinya ingin perempuan-perempuan tersebut dapat produktif terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk menikah. 

Baca juga: Resep Healthy Burger yang Enak dan Mudah Dibuat di Rumah

Editor: Puput Ady Sukarno

SEBELUMNYA

Pesta Literasi Indonesia 2024 Siap Dihelat di TIM, Hadirkan Bazar Buku hingga Teater Musikal

BERIKUTNYA

Kreator TikTok Merapat! Gimme The Mic 2024 Digelar, Cek Syarat, Tahapan & Hadiahnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: