Ilustrasi nyamuk (Sumber gambar: Pixabay/Pexels)

Waspadai Gejala dan Cara Pencegahan DBD pada Puncak Musim Hujan

01 April 2024   |   06:25 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia kembali meroket. Dari data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat hampir 16.000 kasus DBD terkonfirmasi di 213 kabupaten/kota di Indonesia per 1 Maret 2024. Lonjakan kasus dalam waktu 2 bulan itu menimbulkan 124 kematian dan terus diwaspadai akan berlanjut mengingat masuknya puncak musim hujan diiringi fenomena El Nino hingga April 2024.
 
Data Kemenkes juga mencatat kasus terbanyak terjadi di Tangerang, Bandung Barat, Kota Kendari, Subang, dan Lebak. Praktisi Kesehatan Masyarakat Ngabila Salama mengatakan, siklus lonjakan kasus DBD di Indonesia tercatat dalam pola yang khas. DBD termasuk sebagai salah satu penyakit menular yang endemis dan rutin terjadi di Indonesia setiap tahunnya. “Biasanya polanya Desember (kasus DBD) mulai naik, kemudian puncaknya pada April, lalu turun kembali setelahnya,” ujarnya. 

Baca juga: Cori Broadus Kena Stroke Usia 24 Tahun, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Ngabila mengatakan, kenaikan kasus DBD yang lebih tinggi biasanya terjadi tiap 3 tahun yang juga dipengaruhi cuaca iklim, kelembapan, dan masuknya musim penghujan. “Biasanya ada pergeseran 1 bulan dari puncak musim hujan, bisa terjadi di April atau Mei,” katanya.

Makin tinggi kondisi kelembapan, maka potensi nyamuk DBD makin berkembang kian besar. Fenomena iklim yang kerap berubah-ubah hanyalah satu di antara sekian banyak faktor yang mendorong jentik menetas menjadi nyamuk.
 
Ngabila menyebut, Kemenkes RI memiliki target penanganan kasus DBD tidak boleh lebih dari 49 orang dari 100.000 penduduk dengan case fatality rate tidak lebih dari 1%. “Sementara dalam 2 bulan ini, peta kasusnya sudah mencatat 16.000 kasus dengan 124 kematian. Artinya ada 7 kasus per 100.000 penduduk dalam waktu 2 bulan,” kata Ngabila.

Menurutnya, lonjakan kasus ini patut menjadi perhatian lebih meski tingkat kematian saat ini masih berada di bawah 1% pada angka 0,8%. Salah satu cara untuk menekan tingginya kasus DBD adalah dengan pencegahan dan deteksi dini.

Dokter Umum Klinik K24 Cisangkan & Health Content Specialist Kevin Mak menyebutkan, masyarakat sudah mesti berjaga saat kondisi peralihan musim panas dan fenomena El Nino hingga April diiringi dengan masuknya musim penghujan datang. Sebagaimana diketahui, DBD merupakan penyakit virus dengue yang biasanya dibawa oleh 2 jenis nyamuk betina dari aedes aegypti dan aedes albopictus dengan ciri bagian kaki berpola hitam dan putih.
 
Saat musim penghujan tiba, Kevin menjelaskan jenis nyamuk ini makin betah berkembang biak apalagi pada kondisi lembap dan banyaknya genangan. “Maka masyarakat perlu memerhatikan ruang-ruang dengan genangan air termasuk bak mandi, ember, hingga tumpukan pakaian yang juga berpotensi mengundang nyamuk,” katanya.
 
Kevin menjelaskan, jenis nyamuk aedes ini akan berkeliling dan menghisap darah sepanjang hari, tamanya saat siang hari. Area belakang leher dan kaki menjadi bagian yang paling sering menjadi tempat jenis nyamuk ini menghisap darah.

Setelah hinggap dan menghisap darah, dibutuhkan waktu sekitar 0-7 hari bagi virus untuk berkembang dan bereplikasi dalam tubuh. Terdapat 3 fase DBD yang perlu diketahui. Pertama, demam pada 0-3 hari pertama, kemudian berlanjut ke fase kritis pada hari ke-4 hingga hari ke-7, lalu memasuki fase penyembuhan sekitar satu pekan setelahnya.
 
Virus dengue umumnya langsung menyebabkan demam tinggi sekitar 38 derajat celcius atau lebih dan cenderung jarang mengalami penurunan suhu mencapai normal. Kevin menyebut, ini merupakan tanda utama yang perlu diperhatikan mengingat DBD juga termasuk jenis virus dengan penyebaran yang cepat.

“Jadi kalau merasa demam tinggi disertai pegal linu, tidak nyaman, dan sakit di belakang bola mata maka sudah perlu waspada. Virus yang makin menyebar juga bisa mempengaruhi saluran pencernaan dan liver, sehingga pasien bisa merasa mual, kembung, dan muntah,” katanya.

Ilustrasi nyamuk (Sumber gambar: Anoj/Pexels)

Ilustrasi nyamuk (Sumber gambar: Anoj/Pexels)

 
Perlu diingat, virus bersifat menularkan dan nyamuk DBD mentransmisikan virusnya. Fase pelepasan virus DBD memakan waktu 0-5 hari. Dalam waktu krusial ini, nyamuk yang telah menggigit pasien yang terinfeksi lalu kemudian menggigit pasien sehat bisa menyebabkan virus menyebar dan menginfeksi.

Kevin menyebut masyarakat juga perlu memerhatikan apakah oran-oran di sekitar seperti keluarga dan tetangga merasakan gejala yang sama sebagai tanda kuat dari penyebaran virus ini.
 
Saat gejala ini terlihat, Kevin menyarankan pasien segera melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui derajat keparahan penyakit. Dari hasil pemeriksaan ini, dokter juga akan menentukan apakah pasien perlu melakukan rawat inap atau cukup rawat jalan.

Biasanya, pasien dengan trombosit dibawah 100.000 disarankan untuk rawat inap, Sementara pasien dengan trombosit di atas 100.000 dipertimbangkan untuk rawat jalan dengan memperhatikan faktor lain seperti usia dan daya tahan tubuh.
 
Kevin menjelaskan, virus akan sembuh dengan sendirinya setelah 7-14 hari. Namun, pasien bisa mempertimbangkan pola penyembuhan yang lebih cepat dengan cara mencukupi konsumsi cairan yang cukup atau sedikit ditingkatkan. 

Baca juga: Kenali Penyebab & Gejala Kanker Sarkoma, Penyakit yang Diidap Alice Norin

Misalnya, mengonsumsi air mineral hingga 12-14 gelas per hari untuk membuat darah dan trombosit tidak mengalami konsentrasi dalam pembuluh darah. Menghindari aktivitas berat dan fokus pada bed rest, serta konsumsi obat dan suplemen juga disarankan untuk membuat proses recovery makin cepat.

Editor: Fajar Sidik 

SEBELUMNYA

Resep Sangrai Kelapa yang Gurih dan Wangi Rempah untuk Taburan Nasi

BERIKUTNYA

Berburu Kuliner Ramadan dari Berbagai Penjuru Dunia di AYANA Midplaza

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: