Musik pop adalah jenis musik yang paling banyak digemari di seluruh dunia. (Sumber gambar: Bruno Cervera/Unsplash)

Hypereport: Musik Pop & Kreativitas Musisi Muda Meraih Sorotan di Belantika Musik Digital

11 March 2024   |   12:01 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Genre pop adalah jenis musik yang paling banyak digemari di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Irama musik yang easy listening ditambah dengan lirik yang mudah dipahami, membuat musik pop seolah tidak pernah terkalahkan oleh jenis musik apapun hingga saat ini utamanya dari segi komersial.

Meski tak ada data yang spesifik, daya pikat musik pop setidaknya bisa dilihat dari laporan Global Music Report 2023 yang dirilis oleh International Federation of the Phonographic Industry (IFPI). Laporan tersebut menyebutkan bahwa Taylor Swift menjadi musisi paling populer secara global pada 2023. 

Baca juga: 
Hypereport: Musisi Daerah Eksis Berkarya lewat Lokalitas dan Keunikan
Hypereport: 10 Musisi Indie Indonesia yang Berbakat & Populer
Hypereport: Ruang Berkarya Musisi EDM Kian Ngebit di Jagat Musik Digital


Sebagai musisi, Swift dikenal karena karya-karya lagunya yang kerap mengusung genre pop-country dengan tema-tema seputar romansa atau percintaan, pengalaman personal kehidupannya, dinamika keluarga, persahabatan, hingga pencarian jati diri. Berkat pencapaian karier bermusiknya, Swift bahkan disebut sebagai ikon pop dunia.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa musik pop masih mendominasi skena dunia yakni didapuknya lagu As It Was milik Harry Styles sebagai single yang paling banyak diputar secara global. Menurut data IFPI, lagu As It Was telah diputar sebanyak 2,28 miliar kali secara global.

As It Was adalah single utama dari album studio ketiga Harry Styles yang berjudul Harry's House (2022). Lagu yang ditulis oleh Styles bersama produsernya, Kid Harpoon dan Tyler Johnson, itu mengusung aransemen musik synth-pop dan new wave. Dari segi lirik, As It Was mengangkat tema seputar kehilangan dan kesepian yang dirasakan seseorang.

Kendati demikian, pada dasarnya, musik pop merupakan jenis umum dari musik populer. Penyebutan populer ini didasarkan pada perbandingannya dengan musik klasik dan musik tradisional. Istilah pop diketahui dicetuskan pertama kali oleh seorang kritikus seni asal Inggris, Lawrence Alloway, melalui esainya berjudul "Pop Since 1949" yang diterbitkan pada 1962. 

Dia menggunakan istilah itu untuk merujuk kepada antusiasme terhadap semua hal yang diproduksi secara massal. Dengan kata lain, musik pop sendiri tidak merujuk pada satu genre khusus, melainkan yang menjadi perhatian adalah musik tersebut easy listening atau mudah diterima kalangan muda di era tertentu.

Pop lebih bersifat kontemporer dengan genre yang berbeda-beda tergantung pada tempat dan waktu. Semua elemen musik mulai dari rock, hip-hop, reggae, R&B, jazz, elektronik, hingga folk, sejatinya dapat diadaptasi ke dalam musik pop.

Secara umum, gaya vokal yang ditemukan di banyak musik pop sangat dipengaruhi oleh tradisi musik Afrika-Amerika seperti R&B, musik soul, dan gospel. Sementara itu, irama dan suara musik pop banyak diilhami oleh jazz, swing, rock and roll, reggae, funk, disko, dan baru-baru ini oleh hip-hop.

Penyanyi Alwan Alvarez mengamini jika saat ini musik pop masih digandrungi oleh banyak penikmat musik di Indonesia, terlebih pop-R&B. Hal itu ditandai dengan banyaknya rilisan musik yang mengusung aransemen musik pop dengan sentuhan R&B seperti lead bass dan gitar, misalnya lagu-lagu dari Gangga, Rizky Febian, dan Juicy Luicy.

"Pop R&B ini lumayan diterima di pasar tapi dia punya tempat tersendiri. Lagu-lagu pop R&B disukai khususnya sama anak-anak muda sekarang karena paling masuk untuk vibing buat seru-seruan bareng," katanya kepada Hypeabis.id.
 

Penyanyi Alvarez. (Sumber gambar: Dok. Pribadi)

Penyanyi Alvarez. (Sumber gambar: Dok. Pribadi)

Hal itu pulalah yang memantapkan Alwan Alvarez untuk menekuni genre pop-R&B dalam karya-karyanya. Bahkan awal tahun ini, menjadi momentum transformasinya untuk mantap berkarier dengan nama Alvarez, dari semula Alwan Alvarez yang kerap mengeksplorasi lagu-lagu alternatif pop-rock.

"Selama 4 tahun ini aku akhirnya menemukan jati diriku dalam bermusik. Selama bikin chord, nada, dengerin lagu, dan referensi-referensi yang diambil tuh nada dan musiknya itu mengarah ke pop R&B," ucapnya.

Dalam membuat lagu, Alvarez kerap mengangkat tema seputar romansa seperti jatuh cinta, patah hati, kesetiaan dan perpisahan. Kisah-kisah dalam lagunya kebanyakan berangkat dari pengalaman personal, yang nantinya digarap bersama produser musik. Meski demikian, dia juga mengaku tertarik untuk menggarap lagu-lagu bertema sosial dan politik.

Sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu, Alvarez mencoba mencari titik seimbang antara mengikuti tren musik yang sedang digandrungi pasar namun tetap memasukkan idealismenya dalam bermusik. Menurutnya, hal itu penting untuk dijaga agar dirinya tetap memiliki ciri khas tersendiri di antara banyaknya penyanyi yang berkecimpung di genre musik serupa.

"Aku ingin menonjolkan kalau Alvarez ini punya musik yang pakai sound atau looping beat yang 90's atau vintage, dengan brand image yang cool," katanya.

Dalam bermusik, Alvarez memilih untuk berkarier dengan label yang didirikannya sendiri bersama rekannya bernama Orbit08. Ada beberapa alasan yang mendorongnya lebih memilih berkarier di jalur independen mulai dari kebebasan dalam berkarya hingga tidak ada potongan pendapatan dari bermusik seperti yang terjadi di label musik konvensional.

Meski demikian, tak dipungkiri olehnya, label musik biasanya memiliki relasi dan platform yang banyak untuk mempromosikan artis-artisnya sehingga bisa memungkinkan untuk menjangkau pasar pendengar yang luas. Sedangkan, sebagai musisi indie, Alvarez harus melakukan distribusi sekaligus promosi musiknya secara mandiri yang tak jarang menantang lantaran dipandang sebelah mata.

Dia berpendapat industri musik saat ini berkembang dengan sangat pesat. Di era teknologi yang semakin canggih dan terbukanya informasi, musisi bisa dengaj mudah berkarya dan merilis lagu. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga menjadi tantangan tersendiri bagi musisi lantaran banyaknya kompetitor. Kesempatan untuk dikenal dan meraih popularitas semakin ketat.

Di tengah kondisi itu, Alvarez pun melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan highlight agar karyanya dikenal oleh kalangan pendengar yang luas, mulai dari gencar promosi lewat konten-konten media sosial, radio, hingga kerap tampil di panggung-panggung konser dan festival.

Ke depan, Alvarez mengaku ingin merilis album mini perdananya yang diharapkan bisa meluncur pada akhir tahun 2024. Termasuk, terus mengeksplorasi musik-musik pop-R&B dengan warna baru juga membuat lagu-lagu dengan tema yang lebih beragam namun tetap dekat dengan kalangan pendengar.
 

Penyanyi Mea Shahira. (Sumber gambar: Dok. Pribadi)

Penyanyi Mea Shahira. (Sumber gambar: Dok. Pribadi)

Penyanyi lain yang juga menekuni musik pop-R&B ialah Mea Shahira. Menurutnya, di tengah musik pop-ballad yang kini digandrungi masyarakat, pop-R&B juga mendapatkan tempat tersendiri di kalangan penikmat musik di Tanah Air. Di samping itu, Mea juga melihat belakangan genre Afrobeat cukup diminati kalangan anak muda.

Melihat tren tersebut, Mea pun baru saja merilis lagu Come 'N Find Me yang mengusung aliran neo-R&B dengan sentuhan afrobeat, hip hop, reggaeton, dan dancehall. Eksplorasi genre ini menandakan fleksibilitas Mea sebagai seorang musisi, yang tetap memiliki warna dalam bermusik namun tetap memasukkan unsur selera pasar musik populer.

Mea berkarier di industri musik di bawah naungan label Sony Music Entertainment Indonesia. Meski bergabung dalam label mayor, dia mengaku tetap memiliki ruang yang luas untuk berkarya dan menulis lagu sendiri. Termasuk, terlibat langsung dalam merancang konsep materi lain seperti photoshoot dan video musik.

Sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu, Mea kerap membuat lagu-lagu yang berangkat dari pengalaman pribadinya sendiri dengan mengangkat tema-tema seputar hubungan (relationship). Tema itu bisa merujuk pada hubungan yang universal mulai dari keluarga, sahabat, ataupun pasangan.

"Bersyukur aku ada di hubungan yang sehat, jadi kebanyakan lagu aku itu tentang lagu-lagu bucin [budak cinta], dan enggak ada lagu-lagu sedih," ungkap perempuan yang berkuliah di University of Amsterdam itu.

Mea menilai industri musik dalam negeri saat ini berkembang dengan sangat pesat, ditandai dengan gencarnya kemunculan penyanyi-penyanyi pendatang baru plus makin terbukanya pendengar terhadap ragam genre dan materi lagu. Namun, di sisi lain, lanjutnya, perkembangan itu juga menciptakan tantangan tersendiri bagi musisi untuk berlomba-lomba mendapatkan tempat di kalangan penikmat musik.

Di tengah kondisi itu, Mea menilai musisi kini seolah dituntut juga harus menjadi kreator konten, dengan membuat ragam materi promosi karya di media sosial. Menurutnya, konten-konten media sosial yang menarik harus dibuat oleh musisi agar bisa mendapatkan sorotan dari kalangan pendengar yang dalam kesehariannya memang dekat dengan media sosial.

Materi-materi promosi itu mewujud misalnya dalam bentuk visualizer, video lirik, foto berkonsep, hingga konten-konten video singkat yang diunggah di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

"Dulu sebelum ada sosmed, musisi itu orang yang cuma buat musik. Tapi kalau sekarang tuh harus all in one, jadi musisi tapi harus jadi influencer atau content creator juga. Jadi menurut aku marketing sosmed itu sekarang penting banget," katanya. 

Baca juga: Hypereport: Bintang-bintang Variety Show Pendatang Baru yang Eksis di Layar Kaca

Ke depan, Mea mengaku ingin merilis album mini perdananya dengan satu jalinan kisah yang utuh plus membuat pertunjukan showcase untuk para pendengarnya. Termasuk, terus mengeksplorasi genre pop-R&B agar karya-karyanya terus terdengar baru dan segar di kalangan penikmat musik. 

Editor: Fajar Sidik 
 

SEBELUMNYA

Daftar Lengkap Pemenang Piala Oscar 2024, Oppenheimer Borong 7 Trofi

BERIKUTNYA

Agensi Ungkap Peluang Cuan Bisnis VTuber

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: