Litograf setelah karya asli oleh Rappard, Meja Beras karya pelukis Jhr. Josias Cornelis Rappard. (Dok. Tropenmuseum/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)

Rijsttafel, Perjamuan Makan khas Belanda yang Membumi di Indonesia

17 August 2021   |   15:44 WIB

Buat Genhype yang belum pernah merasakan hidangan dengan sajian Rijsttafel, kebiasaan ini umum ditemukan dengan perpadauan penyajian makanan asal Jawa, Eropa, dan Tionghoa. Tapi ternyata masakan khas Padang atau Minang punya pengaruh terhadap perkembangan menu Rijsttafel sehingga enggak kaget jika Genhype yang pernah makan makanan khas Minang di beberapa restoran akan menemukan penyajian yang mirip dengan Rijsttafel.

Kembali lagi bahwa fakta akan pengaruh kuliner masyarakat Minang yang khas membuat adanya perkembangan menu Rijsttafel hingga saat ini menjadikan praktik makanan etnik dari Minang juga banyak dicontoh oleh pendatang asal Belanda pada saat era kolonial.

"Jadi tidak heran kalo di Rijsttafel menu-menu khas selain khas Jawa, menu khas Minang itu juga sangat diadaptasi. Kedekatan elit-elit Minang dengan orang Belanda memunculkan transformasi konsep yang ada warung nasi atau rice stall banyak bermunculan di Bukittinggi atau Payakumbuh," ujarnya.

Mengenai implementasi dari Rijsttafel di masa kini, Fadly mengatakan bahwa dari perspektif Indonesia sebagai bangsa yang pernah dijajah Belanda, Rijsttafel di Indonesia sudah mengalami transformasi sedemikian rupa dan nasionalisasi yang sangat panjang setelah kemerdekaan. 

Ini terjadi dalam berbagai hidangan seperti resep, hidangan, penyajian, hingga etika di meja makan yang sudah didesain sedemikian rupa. Tapi hal ini enggak meninggalkan tradisi tradisional atau etnik khas beberapa daerah di Indonesia sehingga Genhype tentu akan tetap merasakan tradisi tersebut.

Meski implementasi Rijsttafel sudah umum di Indonesia dengan konsep prasmanan atau buffet di acara formal, tapi William Wongso selaku pakar kuliner sekaligus konsultan gastronomi mengungkap bahwa Rijsttafel justru bukan konsep penyajian makanan yang direkomendasikan karena keterbatasan waktu. Ini berlaku untuk jamuan makan di kalangan kepresidenan dan tamu khusus (VVIP) saat dia melakukan diplomasi kuliner.

"Kalau sekarang, misalnya jamuan kepresidenan di luar negeri yang pernah dilakukan malah sering-sering yang simpel. Saya tidak melihat konsep Rijsttafel praktis untuk disajikan di acara VVIP," tutur William.

Dia juga menyebut alasan lainnya mengapa Rijsttafel kurang bisa diaplikasikan di saat ini adalah karena limbah makanan yang tinggi, mengingat karakteristiknya yang cenderung harus menyajikan makanan dengan jumlah yang banyak dalam satu meja sedangkan jumlah orang yang mengonsumsinya lebih sedikit dibanding porsi makanannya.

Pada akhirnya, Rijsttafel di masa kini hanya bisa dirasakan di berbagai acara formal melalui konsep buffet atau prasmanan. Tapi tenang saja, Fadly menyebutkan bahwa masih ada restoran di hotel-hotel terkemuka di Bandung, Jakarta, Jogja, dan Bali yang mengangkat menu Rijsttafel. Salah satu yang terdekat ada di Jakarta, lho!

"Restoran yang khusus mengangkat Rijsttafel itu seperti di Kunstkring (Tugu Kunstkring Paleis) di Jakarta. Mereka mencoba menampilkan menu Rijsttafel yang masih jauh dari Rijsttafel yang kolonial tapi setidaknya mendekati, misalnya penyajiannya. Ketika di acara-acara khusus, [mereka] menggunakan beberapa pramusaji yang didandani sedemikian rupa. Tapi tentu saja sudah berbeda dari segi jumlah hidangan dan pelayan," tutup Fadly.

Editor: Fajar Sidik
1
2


SEBELUMNYA

Begini Lirik & Makna Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

BERIKUTNYA

Membanggakan! 16 Brand Lokal Indonesia Tampil di Times Square New York

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: