Ilustrasi mahasiswa sedang mengerjakan skripsi. (Sumber gambar: Armin Rimoldi/Pexels)

Duh, Ternyata 45% Mahasiswa di Indonesia Memanipulasi Data Skripsi

02 January 2024   |   21:26 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Skripsi merupakan salah satu syarat akhir bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Pengerjaan skripsi sendiri bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah secara sistematis, dengan menggunakan teori yang sudah dipelajari selama proses belajar di bangku perkuliahan.

Hasil penelitian skripsi pun diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memecahkan permasalahan di lingkungan masyarakat. Dalam prosesnya, pengumpulan data skripsi seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian, hingga menimbulkan praktik kecurangan demi menyelesaikan tugas akhir.

Bukan anggapan semata. Hal tersebut setidaknya tercermin dalam hasil survei yang dirilis oleh lembaga riset Populix baru-baru ini. Hasil survei singkat yang melibatkan sebanyak 2.793 mahasiswa tingkat akhir di Indonesia tersebut menemukan bahwa sebanyak 45% responden mengaku melakukan manipulasi data dalam mengerjakan skripsi. 

Baca juga: Tips Mengatasi Demotivasi saat Menyusun Skripsi

Praktik kecurangan lainnya yang dilakukan oleh mereka yakni menggunakan jasa joki skripsi sebagaimana diakui oleh 26% responden, disusul dengan meniru skripsi orang lain (16%), dan mengambil judul skripsi orang lain (24%). Beberapa praktik kecurangan tersebut dilakukan mereka didasari oleh kendala-kendala dalam proses pengerjaan skripsi, dan ketakutan mereka dalam menghadapi sidang skripsi 

Hasil survei singkat yang dilakukan pada 28 November-12 Desember 2023 tersebut menemukan bahwa kendala utama yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir dalam mengerjakan skripsi adalah kesulitan dalam mengumpulkan data sebagaimana diakui oleh 26% responden. Sementara kendala berikutnya yang paling sering ditemui adalah dosen pembimbing yang kurang mendampingi sebagaimana dipilih oleh 22% responden.
 

Ilustrasi mahasiswa sedang mengerjakan skripsi. (Sumber gambar: Karolina Grabowska/Pexels)

Ilustrasi mahasiswa sedang mengerjakan skripsi. (Sumber gambar: Karolina Grabowska/Pexels)


Kendala Mengerjakan Skripsi

Beberapa hal yang juga disebut sebagai kendala terbesar dalam mengerjakan skripsi yakni kesulitan menganalisa data (17%), kesulitan menentukan teori yang sesuai (15%), kesulitan mencari rumusan masalah yang tepat (11%), serta kesulitan mencari judul skripsi (10%).

Lantaran sejumlah kendala itulah, Bab 3: Metode Penelitian menjadi bagian yang paling lama dikerjakan sebagaimana dipilih oleh 33%responden, disusul dengan Bab 4: Hasil Penelitian (29%). Lamanya pengerjaan itu dikarenakan membutuhkan proses pengumpulan data yang ekstensif dan analisa mendalam terhadap hasil temuan. 

Secara khusus dalam hal pengumpulan data, responden yang tidak sesuai menjadi masalah utama mengapa banyak mahasiswa tingkat akhir kesulitan dalam mengumpulkan data skripsinya sebagaimana diakui oleh 33% responden. 

Adapun, beberapa alasan lainnya diikuti oleh bingung dengan target responden (23%), jumlah responden yang kurang banyak (17%), susah menargetkan responden di luar kota (14%), dan tidak tahu ke mana sebaiknya menyebarkan kuesioner (12%).

Sementara itu, kurangnya penguasaan terhadap materi skripsi dan validitas data menjadi dua alasan utama ketakutan terbesar para mahasiswa dalam menghadapi sidang skripsi. Sebanyak 42% responden menyatakan bahwa mereka takut tidak dapat menjawab pertanyaan dosen penguji saat sidang skripsi.

Selain itu, sebanyak 26% responden mengaku takut mendapatkan dosen penguji yang kritis, diikuti dengan rasa takut bahwa data yang digunakan tidak valid (11%), data yang dikumpulkan kurang (7%), teori yang digunakan tidak sesuai dengan penelitian (7%), dan takut dalam mempresentasikan skripsi (6%).

Jonathan Benhi selaku Co-Founder and CTO Populix mengatakan proses pengumpulan data menjadi sebuah tantangan bagi para mahasiswa. Padahal, lanjutnya, tingkat validitas dan reliabilitas data merupakan kunci untuk mendapatkan data yang berkualitas.

Memahami tantangan dalam proses pengumpulan data tersebut, Jonathan mengatakan pihaknya terus berkomitmen untuk menyederhanakan proses pengumpulan data bagi para mahasiswa melalui platform survei online Poplite. Lewat Poplite, para mahasiswa dapat menentukan responden dan menyebarkan kuisioner sesuai dengan target penelitian mereka. 

"Sehingga, hasil penelitian pun dapat menjadi referensi tepat dalam membuat rekomendasi dan pengambilan keputusan," katanya dalam keterangan resminya.

Poplite merupakan sebuah platform survei online dengan lebih dari 500.000 panel responden, yang mencakup berbagai segmen demografis dan geografis di seluruh Indonesia. Saat ini, Populix telah bekerja sama dengan lebih dari 10 perguruan tinggi di Indonesia untuk menyediakan platform Poplite bagi penelitian para civitas akademika.

"Melalui platform Poplite, kami berkomitmen untuk memanfaatkan kekuatan teknologi dalam mendukung peningkatan kualitas penelitian, memudahkan peneliti dalam menemukan responden yang tepat, serta mengumpulkan data dan wawasan yang relevan secara mandiri," kata Jonathan.

Baca juga: Intip 5 Outfit Tampil Formal saat Sidang Skripsi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Trailer Film Horor Mickey Mouse Dirilis Setelah Memasuki Domain Publik

BERIKUTNYA

Daftar Film Horor Indonesia yang Tayang di Bioskop Januari 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: