Restorasi film Dr Samsi karya Ratna Asmara (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Kemendikbudristek Restorasi Film Dr Samsi (1952) karya Sutradara Ratna Asmara, Begini Cara Nontonnya

19 December 2023   |   17:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Nama Ratna Asmara seolah tenggelam dalam sejarah perfilman nasional. Padahal, sutradara perempuan pertama Indonesia ini membawa pengaruh besar dalam menandai periode penting perkembangan perfilman Tanah Air, utamanya pada masa-masa awal kemerdekaan.

Aktif pada periode 1950-an, Ratna Asmara berhasil menyutradarai sejumlah film, seperti Sedap Malam (1950), Musim Bunga di Selabintana (1951), hingga Dokter Samsi (1952). Karya-karya penting dari sutradara perempuan pertama Indonesia ini kemudian menjadi embrio bagi lahirnya sineas-sineas wanita lain setelahnya.

Baca juga: 5 Fakta Film Keramat 2: Caruban Larang, Horor dengan Gaya Mokumenter

Untuk menghargai perjalanan sejarah sinema nasional, baru-baru ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merestorasi salah satu film Ratna Asrama bertajuk Dr Samsi.

Koordinator utama Digitalisasi dan Restorasi Rizka Fitri Akbar mengatakan film Dr Samsi merupakan salah satu film yang penting dalam perjalanan karier penyutradaraan Ratna Asmara. Film yang diproduksi 1952 masih bermateri seluloid 35mm dan tersimpan di Sinematek Indonesia.

Menurut Rizka film bersejarah ini sudah dalam kondisi yang kritis sebelum akhirnya direstorasi. Kondisi file filmnya sudah nyaris punah dan cenderung tidak lengkap. Hal ini kemudian mendorongnya untuk melakukan tindakan restorasi.

“Film ini sudah masuk kriteria khusus untuk dilakukan penyelamatan melalui restorasi. Film ini hanya punya kopi film kurang dari dua dan kondisi fisiknya yang sudah terbilang parah,” ungkap Rizka kepada Hypeabis.id, Selasa (19/12/2023).
 

 (Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Perfilman Panji Wibisono, Kapokja Perizinan dan Arsip Nujul Kristanto, Koordinator utama Digitisasi dan Restorasi Rizka Fitri Akbar (Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Selain itu, peran besar dari Ratna Asmara yang mengisi peran perempuan di dalam dunia perfilman Indonesia, khususnya pada periode awal kemerdekaan menjadi pendorong utama yang membuat karyanya memang harus sesegera direstorasi.

Terlebih, mengingat file filmnya yang makin berumur juga membuat restorasi jadi hal mendesak yang perlu segera dilakukan. Rizka mengatakan restorasi ini merupakan program rutin dari  Kemendikbudristek Direktorat Perfilman, Musik, dan Media.

Dirinya berharap, restorasi dan peluncuran film Dr Samsi ini bisa menambah kekayaan arsip dan penyelamatan materi yang selama ini menjadi catatan perjalanan panjang sinema nasional.

Sejauh ini, Kemendikbudristek telah melakukan empat restorasi untuk film-film lama. Mulai dari Darah dan Doa karya Usmar Ismail pada 2013, Pagar Kawat Berduri karya Asrul Sani pada 2017, Bintang Ketjil karya Wim Umboh dan Misbach Yusa Biran pada 2018, dan Kereta Api Terakhir karya Mochtar Soemodimedjo pada 2019.

Sementara itu, Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Perfilman Panji Wibisono mengatakan proses restorasi film ini berjalan cukup lancar. Meski ada beberapa kendala, utamanya terkait audio yang sudah rusak parah, tetapi secara umum film ini berhasil dikembalikan mendekati wujud aslinya, tanpa ada penambahan atau pengurangan. Jadi, keaslian filmnya pun tetap terjaga.

Menurut Panji, proses restorasi yang dilakukan oleh Render Digital Indonesia berjalan selama 180 hari. Selama rentang waktu tersebut, film ini mendapatkan sejumlah tindakan untuk menyelamatkan isi film. Kemudian, mengubah format seluloid ke format digital yang lebih modern.

Panji menyebut restorasi film kali ini terbilang cukup cepat. Idealnya, kerja-kerja restorasi dilakukan lebih dari 240 hari. Bahkan, secara global kerap kali kegiatan ini tidak selalu berbicara soal waktu karena prosesnya yang memang tidak terprediksi.

Namun, karena ada alasan yang mendesak, termasuk file film yang bisa makin rusak jika dibiarkan berlama-lama lagi, akhirnya prosesnya pun menjadi lebih cepat. Menurut Panji, Indonesia yang berada di lingkungan tropis memang menjadi proses pengarsipan dan restorasi mesti dilakukan dengan tepat.

Jika tidak, materi film bisa rusak terlebih dahulu sebelum diselamatkan akibat kondisi lembap dan pola penyimpanan yang keliru. Hal inilah yang membuat proses restorasi di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain.

Cara Menonton

Setelah film ini berhasil direstorasi, Panji menyebut film ini bisa ditonton oleh masyarakat Indonesia secara legal. Film ini diproyeksikan nonkomersil. Jadi, distribusinya pun akan lebih ditujukan untuk keperluan riset atau hiburan tanpa ada biaya.

Bagi masyarakat yang ingin menontonnya, materi film ini bisa didapat setelah terlebih dahulu bersurat ke Kemendikbudristek. Namun, untuk jangka panjang, film ini juga akan tersedia di Indonesiana TV, platform OTT yang dikembangkan oleh Kemendikbudristek.

Baca juga: Restorasi dan Momentum untuk Film-film Klasik Indonesia Hari Ini

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

8 Tanaman Hias yang Bakal Jadi Tren 2024

BERIKUTNYA

MAPPA Umumkan Chainsaw Man The Movie: Reze Arc, Angkat Kehidupan Cinta Denji

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: