Karya Baron Basuning berjudul Fighting Red-Catastropic, Acrylic on canvas, 146x253 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menelisik Pendar Warna di Pameran Jeda Perupa Baron Basuning

29 November 2023   |   14:58 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Lukisan dengan palet merah yang menyembur itu meneror mata pengunjung. Karya bertajuk Fighting Red-Catastropic (Acrylic on canvas, 145x253 cm) itu seolah menggambarkan bumi dari pandangan kamera drone yang tengah mengangkasa di langit.

Bumi, yang terepresentasi dalam warna kelabu, krem dan hitam itu juga terciprat warna ungu di sebagian sisi. Lukisan bertitimangsa 2023 itu bagai mengabstraksikan remuk redamnya sebagian dataran Timur Tengah yang hingga hari ini terus berkonflik.

Baca juga: Upaya Memanusiakan Mesin dalam Karya Seni Beauty is in the Eye of the Debugger

Frasa catastropic (catastrophic) yang berarti rangkaian bencana, baik yang disebabkan oleh alam dan manusia juga disematkan dalam karya tersebut. Lukisan abstrak dengan warna kontras itu seolah menjadi bentuk protes dari sang seniman terhadap perang antara Israel dan Palestina.

Fighting Red-Catastropic hanyalah satu dari belasan karya yang dipacak di lobi lantai 25 Aston Hotel kemayoran, Jakarta. Mengambil tajuk Jeda, eksibisi tinggal yang berlangsung hingga 20 Januari 2024 itu menampilkan karya-karya terbaru dari perupa Baron Basuning.
 

Karya Baron basuning berjudul Jeda #1, Acrylic on Canvas , 146x252 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya Baron Basuning berjudul Jeda #1, Acrylic on Canvas , 146x252 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran berjudul Jeda, secara harfiah dapat diartikan dengan momen pendek untuk mengaso atau istirahat. Basuning memilih tajuk tersebut karena waktu tidak mengenal kata perhentian, kecuali karena otoritas sang pencipta yang mampu menghentikan waktu dan kehidupan.

Namun, frasa yang memiliki istilah lain seperti reses,rehat, cuti, retreat, dan khalwat dalam sufisme itu juga menarik untuk dikaji. Terutama dalam menyikapi hiruk pikuknya persoalan agar tidak mudah salah melangkah terutama dalam mengedepankan nurani dan kemanusiaan.

Melalui pameran lukisan ini, Basuning berharap, agar audiens bisa mencerna segala sesuatu dengan baik. Ibarat memasukkan makanan ke dalam mulut, segala sesuatunya harus dikunyah lamat-lamat sehingga bisa tetap berpikir waras di tengah dunia yang semakin kelam.

"Jeda dalam penafsiran saya ternyata tetaplah ada aktivitas dan juga kreativitas. Sebagai seniman saya menyikapinya dengan tidak terburu-buru agar tidak gampang teperdaya," katanya.

Karya Baron Basuning berjudul East River to City Hall, Acrylic on canvas, 155x240 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya Baron Basuning berjudul East River to City Hall, Acrylic on canvas, 155x240 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Selaras, kurator Agus Dermawan T mengatakan, tajuk jeda secara harfiah dapat diartikan dengan momen pendek untuk mengaso atau istirahat. Namun, dalam pameran kali ini jeda juga dapat berarti bentuk interupsi dari sang perupa terhadap problem kemanusiaan, khususnya akibat perang yang terus berkecamuk.

Hal itu misalnya, terefleksi lewat lukisan bertajuk Jeda #2 yang terdiri dari dua bilah lukisan. Pada kanvas pertama, sang seniman seperti sedang mengabstraksikan hamparan padang pasir luas dengan nuansa hijau. Namun, pada kanvas kedua, nuansa hijau itu telah berubah menjadi merah, cokelat, dan kuning.

"Lukisan kedua seolah menghadirkan nuansa panas gersang, yang bisa diimajinasikan betapa wilayah yang semula nyaman dan teduh akhirnya hancur lebur oleh rententan gempuran perang," katanya.


Paradoks

Namun, selain mencermati kekerasan sebagai aspek tematik, beberapa karya Basuning juga menghadirkan daya ungkap visual yang kontras lewat gambar ranting dan bebungaan. Manifestasi inilah yang menurut Agus menawarkan paradoks, tapi sekaligus juga menjadi kekuatan sang perupa.

Adapun hal itu terejawantah dalam lukisan berjudul Silk Road (Acrylic on canvas, 190x180 cm, 2023). Di atas kanvasnya, Baron menorehkan garis tipis untuk menggambarkan jalur sutera yang di sekelilingnya tergambar abstraksi gelombang laut dan bentangan langit yang dihamburi warna kuning dan merah marun.

Lukisan itu menurut Agus memetaforakan Jalur Sutera yang pada masa mutakhir sedang dihidupkan lagi oleh pemerintah China dengan sebutan Jalur Sutera Baru. Dalam forum tersebut China menggandeng negara-negara Asia dan Afrika untuk berdagang bersama melalui mekanisme kerjasama infrastruktur.

"Namun, jalur ini oleh Amerika serikat dianggap mengancam dominasinya di tatanan internasional. Lalu terjadilah ketegangan yang menyebabkan perang dagang, dan memengaruhi ekonomi global," katanya.

Karya Baron Basuning berjudul Pilgrim Acrylic on canvas, 145x230 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya Baron Basuning berjudul Pilgrim Acrylic on canvas, 145x230 cm, 2023. (sumber gambar Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menariknya, tema-tema garang itu oleh Baron juga dihadirkan dalam manifestasi yang lembut. Misalnya hal itu mewujud lewat karya berjudul Pilgrim, Sea Scape, Into the Sea, Aurora Borealis, dan East River to City Hall yang menawarkan pemandangan tempat jeda dalam versi abstrak.

Lukisan Seascape misalnya, menggambarkan tiga arus laut yang masing-masing terepresentasi dalam warna yang berbeda. sedangkan, Borealis melukiskan cahaya aurora di bumi bagian utara dan selatan yang sedang berdansa di atas langit di waktu malam.

Selain itu ada juga lukisan bertajuk White Continent (Acrylic on canvas, 145x241 cm, 2023.) Menurut Agus, karya tersebut adalah representasi dari pengalaman kognitif Baron saat menyaksikan hamparan salju di Kutub Selatan.

Diikutkan pula karya lama bertajuk Desert Rose (2021) dalam pameran ini sebagai imaji spontanitas tentang gurun pasir yang tandus, tapi ditumbuhi bunga mawar. Sedangkan, lukisan Journey (2023) yang sarat warna dan dikerjakan dengan suasana hati yang lepas oleh sang seniman seolah menjadi benang merah dari pameran itu.

"Karya-karya Baron ini adalah ciptaan dunia semi prasadar. Artinya lukisan dicipta dengan konsep yang mengacu pada kehidupan rasa pikir yang otomatik," terang Agus.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Daftar Pemeran Film Napoleon, Dibintangi Joaquin Phoenix hingga Vanessa Kirby

BERIKUTNYA

Diangkat dari Kisah Nyata, Simak Sinopsis Film Panggonan Wingit

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: