Karya Tranquility - Ni Nyoman Sani (Sumber foto: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Cerita di Balik Romantisme Lukisan-Lukisan Ni Nyoman Sani

19 November 2023   |   12:13 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dalam dunia seni rupa, nama seniman Ni Nyoman Sani patut diperhitungkan. Dilahirkan di Bali pada 1975, seniman berbakat ini dikenal luas berkat karya-karyanya yang khas, memikat, dan penuh puitisme di dalam setiap goresan kanvasnya.

Menikmati masa kecil hingga tumbuh dewasa di Sanur, sebuah kawasan pesisir di Bali, membuat Sani banyak meromantisasi bagaimana alam bekerja dan menghasilkan keindahannya. Ketika pagi, dirinya bisa dengan bebasnya melihat matahari terbit di pinggir pantai, sedangkan sorenya ia menemani sang surya tenggelam di antara sawah-sawah hijau.

Baca juga: Perupa Syakieb Sungkar Boyong Lukisan Sarat Kritik di Art Jakarta 2023

Hidup di sebuah pulau yang memungkinkan matahari terbit dan tenggelam secara jelas juga memberikan pengalaman batin tersendiri baginya. Pertistiwa terbit dan tenggelamnya matahari ini juga kerap menandai momen-momen kebersamaan saat Sani membantu ayahnya bekerja, baik di sawah maupun pesisir.

Karya Tranquility - Ni Nyoman Sani (Sumber gambar: (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)

Karya Tranquility - Ni Nyoman Sani (Sumber gambar: (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)

Interaksinya yang begitu dekat dengan alam dan di dalamnya juga terkandung momen kebersamaan dengan orang yang dicintainya, membuat karya-karyanya kerap berkelindan dengan hal-hal tersebut.

“Saya begitu dekat dengan ayah yang setiap hari mengerjakan dua pekerjaan, pertama menggarap sawah, kedua mencari sumber makanan di laut. Saya berada di tengah-tengahnya,” ucap Sani kepada Hypeabis.id di booth UOB Art Space di Art Jakarta 2023.

Tidak hanya dari pengamatannya terhadap alam saja, goresan-goresan kanvas Sani kerap kali juga dipengaruhi oleh puisi. Ketertarikannya pada puisi telah muncul sejak SMP. Menurutnya, dirinya memang orang yang suka menulis untuk segala sesuatunya, termasuk juga kegelisahannya.

Dia bahkan pernah menerbitkan sebuah buku yang merangkum 70-an puisi yang disusun secara kronologis dari 2010 hingga 2022 bertajuk Melodia Rasa. Lewat buku ini, Sani seolah ingin mengajak para penikmat karyanya untuk menikmati kekuatan bahasa dan olah visualnya.

Menurutnya, puisi dan lukisan adalah dua medium yang saling berpengaruh dalam kekaryaannya. Sensitivitas dan pengalaman batin dalam perangkat bahasa sedikit banyak akan memengaruhi perangkat visual, begitu pun sebaliknya.

Sani merasa karya-karyanya sendiri dahulu terasa lebih flat. Namun, dari tahun ke tahun, kecepatan menggoresnya hingga pilihan warna dalam lukisannya itu pelan-pelan makin terbentuk. Selain itu, gagasan dan muatan di baliknya juga kian menguat dalam setiap karya-karyanya.

Salah satunya bisa dilihat dari lukisan terbarunya bertajuk Tranquility yang dipajang di Art Jakarta 2023, setelah terlebih dahulu ditunjuk sebagai pemenang dalam ajang UOB Painting of the Year (POY) Indonesia 2023.
 

Karya Tranquility - Ni Nyoman Sani (Sumber gambar: (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)

Karya Tranquility - Ni Nyoman Sani (Sumber gambar: (Sumber foto: JIBI/Hypeabis/Himawan L Nugraha)


Dari kejauhan, lukisan itu tampak seperti kanvas putih. Namun, ketika didekati, ada begitu banyak ornamen yang membentuknya.

Sani melaburkan lukisannya dengan akrilik yang dipadukan serbuk marmer, gesso, atau semacam pelapis kanvas dan lem. Dia lalu mulai membubuhkannya ke kanvas untuk membentuk bintik-bintik unik yang sekilas tampak tak beraturan.

Dalam lukisan ini, Sani menekankan pentingnya sinar dalam karyanya. Lewat sinar, bintik-bintik itu akan mencuatkan bayangan yang berirama. Melalui metafor tersebut, lukisan Sani ini tampak menjejakkan persepsi harmonisasi kehidupan manusia dengan alam. Sebuah ekosistem yang saling berpengaruh.

Sani mengatakan lukisan ini memang terpengaruh kehidupan masa kecilnya ketika melihat cahaya matahari begitu indah menerpa manusia dan makhluk-makhluk lain yang memulai harinya. Ia membayangkan cahaya dan bayangan memiliki keterhubungan yang unik dalam kehidupan alam semesta ini.

Setiap makhluk hidup selalu memiliki bayangan. Namun, ada saatnya ia muncul tanpa bayangan ketika sejajar dengan matahari, atau ketika gelap mulai menerpa. Namun, apa pun itu, kehidupan selalu bisa berjalan dengan atau tanpanya.

Lukisan yang dipenuhi bintik-bintik kecil unik ini mungkin sekilas terlihat sederhana tapi dibutuhkan proses pembuatan yang kompleks dan memakan waktu hampir 2,5 bulan. Sani mesti menunggu setiap bintik-bintik yang dibuatnya benar-benar kering, sebelum membuat bintik yang lainnya lagi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Informasi Konser iKON di Jakarta Hari Ini, Rundown Acara hingga Venue Map

BERIKUTNYA

Imaji Dunia Metaverse Dalam Karya Perupa Rusnoto Susanto di Art Jakarta 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: