Ilustrasi trauma (Sumber gambar: RDNE Stock project/Pexels)

Trauma Bisa Diwariskan & Menciptakan Rantai Konflik dalam Keluarga, Begini Kata Psikolog

15 October 2023   |   12:16 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Like
Siapa yang pernah menyangka jika rasa trauma bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Fenomena ini dijelaskan dalam ilmu psikologi dengan istilah trans generational trauma atau warisan trauma keluarga. Warisan keluarga tidak hanya menyentuh aspek finansial dan fisik, tetapi juga aspek emosional.

Trauma dalam keluarga bak menciptakan gulungan ombak yang membentuk rantai dengan pola berulang. Ini juga yang dipercaya menjadi sebuah akibat dari ketidakmampuan generasi masa kini menangkap dan mengelola emosinya sendiri.
 
Dinamika keluarga antara lintas generasi dapat mempengaruhi aspek emosional yang menciptakan rantai trauma. Psikolog anak & keluarga Samanta Elsener menjelaskan, trauma yang berantai ini bisa saja datang dari masa lalu ini terkait dengan peristiwa tidak mengenakan di masa kecil.

Baca juga: Cara Berdamai dengan Inner Child Trauma untuk Hidup yang Lebih Tenang

Namun, trauma juga bisa jadi datang dari orang tua di generasi sebelumnya baik secara disadari ataupun tidak. Dalam dunia psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan developmental trauma atau yang lebih sering dikenal dengan istilah inner child trauma. Oleh karena itu, diperlukan cara untuk memutus rantai warisan trauma dalam keluarga.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam melakukan proses napak tilas, menemukan jawaban dari teka-teki dan puzzle yang bisa bermanfaat bagi kita menemukan diri sendiri,” jelas Samanta.

Samanta mencontohkan, misalnya melakukan napak tilas dengan menjajaki masa lalu dengan mendatangi rumah sakit tempat lahir dan kemudian refleksikan bagaimana proses perjuangan ibu kita saat melahirkan.

Menurut Samanta, kegiatan napak tilas ini bisa membantu proses penyembuhan dari trauma yang mungkin sulit dijelaskan. “Ini membantu proses pelepasan emosi kita terhadap beban masa lalu kita, apapun itu beban emosinya,” imbuh Samanta.

 
Memutus Rantai Trauma Keluarga

Sebetulnya, permasalahan warisan trauma keluarga ini telah banyak didalami oleh ahli psikologi di seluruh dunia. Salah satunya Bert Hellinger, pencetus dari family constellation therapy, dengan metode pendekatan pemulihan yang bertujuan menyembuhkan warisan trauma keluarga yang tanpa disadari bisa menciptakan kerugian dan ketidakoptimalan dalam hidup individu sebagai anggota keluarga.

Teori ini sudah digunakan di lebih dari 35 negara di dunia untuk mengentaskan masalah trauma dalam keluarga. Founder Family Constellation Lab  Meilinda Sutanto menjelaskan, family constellation therapy ini efektif untuk memutus rantai toxic dan trauma-trauma berulang dalam keluarga. Pendekatannya mengacu pada 5 prinsip dasar.

Pertama, prinsip orang tua memberi dan anak menerima. Artinya, orang tua memberikan cinta dan anak menerima cinta dalam satu aliran arah dari yang paling tua hingga yang paling muda mulai dari moyang hingga cicit. Dalam prinsip ini, bahkan anak tidak memiliki kewajiban untuk memberi cinta ini kepada orang tuanya.

“Asumsinya adalah orang tua sudah mendapatkan rasa cinta yang penuh dari orang tua sebelumnya, maka dia sudah terpenuhi sendiri (rasa cintanya),” jelas Meilinda.

Kedua, anak harus fokus menabung tangki cintanya sendiri untuk keluarganya barunya di kemudian hari. Dari aspek ayah dan ibu dalam keluarga, perlu diciptakan dinamika yang sehat melalui pola memberi dan menerima yang seimbang dan setara. Hal ini berfungsi mendorong keluarga yang fungsional antara pasangan yang nantinya akan mempengaruhi pola pengasuhan pada anak.
 
Ketiga, semua orang memiliki hak yang sama dalam anggota keluarga. Menurut Meilinda, prinsip ini sangat krusial untuk menyelesaikan pola berulang masalah dan trauma dalam keluarga. Jika tidak segera selesai, konsep ini mempercayai bahwa masalah yang sama bisa berulang kembali untuk generasi berikutnya.

Prinsipnya adalah mengajarkan keluarga tentang unconditional love, menerima segala kesalahan anggota keluarga dengan apa adanya dan berjalan bersama dalam proses tersebut.
 
Keempat, menjalani takdir hidupnya masing-masing. Apabila semua manusia bisa menjejak kakinya pada takdir masing-masing, Meilinda berpendapat kondisi pulih ini tidak menularkan trauma-trauma lain ke generasi berikutnya.

“Trauma itu terjadi karena semua orang ingin menjadi pahlawan dan memikul beban orang lain,” jelasnya. Artinya, orang tidak berjalan pada hidupnya masing-masing dan berusaha mengambil serta menyelesaikan beban dari orang tuanya dengan dalih ingin menjadi anak yang baik.
 
Kelima, family constellation therapy mempercayai urutan cinta berperan penting dalam keluarga yang fungsional. Prinsipnya sama seperti mengurutkan prioritas dalam pekerjaan. Maka, kata Meilinda, siapa yang datang dahulu maka dia lebih diprioritaskan dalam urusan cinta. “Anak tidak akan hadir tanpa ayah dan ibu, maka urutan cinta dimulai dari ayah dan ibu baru kepada anak-anak,” jelasnya.

Keluarga yang fungsional bukan mengedepankan konsep pengutamaan anak di atas segala-galanya. Konser tersebut justru berdampak disfungsional dalam keutuhan keluarga.
 
Melinda menjelaskan, menempatkan urutan cinta yang salah, seperti mengutamakan anak dalam segala hal dibanding pasangan ini justru akan membuat gap dan kecemburuan secara tidak sengaja yang akhirnya membentuk hubungan yang tidak baik antara kehidupan berpasangan dan kehidupan antara orang tua dan anak.

Baca juga: 7 Terapi Ini Dibutuhkan untuk Mengatasi Trauma Masa Kecil

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Hypereport: Orkes Terus Berdendang, Musik dari Kampus yang Membius Banyak Orang

BERIKUTNYA

Simak Pedoman Utama Dalam Parenting Agar Siap Menjadi Orang Tua

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: