Penderita hoarding disorder kerap membeli barang dengan impulsif (Sumber gambar ilustrasi: pexels/tirachard kumtanom)

Mengenal Lebih Dekat Hoarding Disorder, Saat Menimbun Barang Jadi Masalah

06 October 2023   |   22:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Kegiatan menimbun benda yang dimiliki memang terlihat sederhana. Namun, tahukah Genhype bahwa ternyata kegiatan menimbun barang bisa masuk dalam penyakit bernama hoarding disorder. Mereka yang mengalaminya akan merasa sangat kesulitan untuk berpisah dengan barang yang dimliki.

Dikutip dari American Psychiatric Association (APA), menimbun berbeda dengan mengoleksi atau mengumpulkan. Mereka yang mengoleksi atau kolektor biasanya memperoleh suatu barang dengn cara yang terorganisir, disengaja, dan memiliki target.

Baca juga: 7 Risiko Penyakit Kronis yang Dikaitkan dengan Rokok Elektrik

Setelah didapatkan, barang yang menjadi koleksi tidak digunakan seperti biasanya. Namun, diatur, dikagumi, dan ditampilkan kepada orang lain.

Kondisi ini berbeda dengan mereka yang menimbun barang atau penderita hoarding disorder. Benda-benda hasil perolehan dalam penyakit ini sebagian besar bersifat impulsif dengan sedikit perencanaan aktif, dan terpacu oleh pandangan terhadap suatu benda yang dapat dimiliki.

Benda-benda yang diperoleh indiviu yang kerap melakukan penimbunan kerap tidak memiliki tema yang konsisten. Tampilan benda yang terlihat dan kekacauan akibat tidak terorganisir merupakan ciri dari hoarding disorder.

Orang dengan gangguan ini akan mengalami kesulitan dalam membuang atau berpisah dengan barang yang dimiliki karena memiliki perasaan perlu menyimpannya. 

Langkah untuk melepaskan barang yang ditimbun menimbulkan kesusahan besar dan mengarah pada keputusan untuk menyelamatkan harta benda tersebut. Kekacauan yang diakibatkannya bahkan mengganggu kemampuan dalam menggunakan ruang hidup.

Saat ini, prevalensi hoarding disorder secara keseluruhan adalah sekitar 2,6 persen. Dari total itu, individu di atas 60 tahun dan penderita psikiatrik lain, seperti kecemasan dan depresi menjadi yang tertinggi. “Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa penimbunan terjadi dengan frekuensi yang sama pada pria dan wanita. Perilaku menimbun dimulai pada awal kehidupan dan semakin parah setiap dekadenya,” tulis APA.

Hoarding disorder juga berpotensi menimbulkan masalah dalam hubungan seseorang, aktivitas sosial dan pekerjaan, serta beberapa hal lainnya. Salah satu konsekuensi potensial dari penyakit menimbun barang ini adalah terkait kesehatan dan keselamatan, seperti bahaya kebakaran, tersandung, dan sebagainya.

Tidak hanya hanya itu, kegiatan menimbun ini juga dapat menjadi penyebab ketegangan dan konflik dalam keluarga, merasakan isolasi dan kesepian, rasa enggan dari orang lain untuk masuk ke dalam rumah, dan tidak mampu melakukan tugas harian, seperti masak dan mandi di rumah.

APA menyebutkan bahwa penyebab hoarding disorder belum diketahui sampai dengan saat ini. Langkah ini dapat terjadi lantaran merupakan bidang baru yang berkembang, sehingga membuatnya terlalu dini untuk menyimpulkan dengan pasti.

Meskipun begitu, biasanya individu yang memiliki hoarding disorder juga memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang sama. Gangguan ini dapat menjadi lebih parah ketika seseorang mengalami tekanan dalam hidup, seperti kematian orang yang dicintai.

“Gangguan penimbunan memiliki profil gejala, korelasi saraf, dan ciri-ciri terkait yang berbeda dari OCD dan gangguan lainnya,” tulis APA.

Perilaku menimbun yang dimiliki oleh individu muncul pada usia muda dan kerap menjadi kronis. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini muncul antara usia 15 – 19 tahun.

Baca juga: Fakta Penyakit ALS yang Diderita Bryan Randall Kekasih Sandra Bullock, Ini Penyebab dan Gejalanya

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Sudah Rilis, Cek Fakta-fakta Game Lokal Knight vs Giant: The Broken Excalibur 

BERIKUTNYA

Deretan Buah yang Aman Dikonsumsi Kucing

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: