Ilustrasi keluarga sedang berbelanja. (Sumber gambar: Gustavo Fring/Pexels)

Gaya Hidup Conscious Consumption Bisa Dimulai dari Keluarga, Begini Caranya

25 August 2023   |   08:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah kondisi yang makin krisis, muncul perilaku baru yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat dunia yakni conscious consumption, sebuah gaya hidup yang mengedepankan kebaikan konsumsi secara individu maupun komunitas. Sikap konsumsi berkesadaran diyakini akan semakin populer pada masa mendatang. 

Conscious consumption adalah pola konsumsi yang tidak hanya mempertimbangkan nilai ekonomi suatu barang, tapi juga memperhitungkan nilai kesehatan, lingkungan, sosial, budaya, bahkan psikologis. 

Berdasarkan data yang dirilis oleh NielsenIQ, terdapat penambahan konsumen sebanyak 46 persen yang menginginkan sebuah merek dapat menciptakan perubahan berkelanjutan yang mereka cari. 

Riset yang dirilis pada 2023 itu menyebutkan bahwa kini konsumen mempertimbangkan dampak suatu produk secara keseluruhan.  Mulai dari bahan-bahan, proses produksi, dan dampak suatu rantai pasokan terhadap planet ini sebelum mengonsumsi sesuatu, termasuk makanan, minuman dan berbagai produk lainnya. 

Baca juga: Mengenal Conscious Consumption, Gaya Konsumsi yang Lebih Bijak & Berkesadaran

Selain itu, menurut hasil riset McKinsey yang dirilis pada 2021, saat ini kebanyakan konsumen tidak hanya mementingkan harga tetapi sudah memperhatikan apa yang ada di balik sebuah produk. Dalam hal ini, mereka mulai memastikan bahwa suatu brand yang menjual produk telah membayar upah pekerja, supplier, dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam proses penciptaan produk secara adil dan wajar.

Di sisi lain, sebuah hasil riset yang dirilis Accenture pada 2020 juga menyebutkan bahwa 62 persen responden menyatakan ingin berfokus pada pola belanja yang lebih memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Psikolog sekaligus Edukator Najelaa Shihab menilai conscious consumption merupakan perilaku baik yang perlu mulai dibiasakan kepada generasi muda sejak dini, baik di lingkungan rumah maupun satuan pendidikan seperti sekolah.

Menurutnya, kompetensi ini dapat menumbuhkan kesadaran dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan dampak jangka panjang dari apa pun yang dikonsumsi, misalnya untuk kesehatan diri.

"Yang lebih penting lagi, muncul juga tanggung jawab kolektif yang lebih besar pada keberlanjutan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
 

August De Richelieu

Gaya hidup conscious consumption bisa dimulai dari keluarga. (Sumber gambar: August De Richelieu/Pexels)


Penerapan Conscious Consumption di Keluarga

Najelaa mengatakan untuk menanamkan sikap conscious atau berkesadaran dalam keluarga, bisa dimulai dengan cara sederhana seperti berefleksi pada diri sendiri. Para orang tua bersama anak-anaknya bisa mulai bersikap kritis terhadap diri sendiri termasuk kritis terhadap apa pun yang terjadi di lingkungan sekitar.

Hal itu bisa dilakukan oleh orang tua dengan banyak berkomunikasi bersama anak. Misalnya, alih-alih hanya menyediakan makanan dan minuman untuk dikonsumsi, anak-anak juga diberi pemahaman mengapa mereka harus mengonsumsi hidangan tersebut serta apa dampak yang akan terjadi baginya dan lingkungan.

Contoh lain, ketika orang tua mengajak anak untuk belanja, bisa membiasakan diri untuk membuat daftar belanja dan membeli produk sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Dengan begitu, anak juga bisa mulai belajar untuk berbelanja dengan bijak dan terbiasa tercatat. 

Menurut perempuan yang karib disapa Elaa itu, pemahaman dan pengaplikasian gaya hidup conscious consumption sudah semestinya dimulai dari conscious parenting, yakni orang tua yang memiliki kesadaran penuh untuk membuat pilihan-pilihan yang bijak bagi anak-anaknya. Dengan begitu, sang anak akan meniru sikap tersebut.

"Kebiasaan-kebiasaan yang sepertinya kecil tapi sebetulnya menjadi refleksi yang amat penting dan akan berguna untuk seterusnya nanti. Jadi, refleksi, bertanya, dan komunikasi itu kunci-kunci yang amat penting sejak dini," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Spesialisas Gizi Klinik Dokter Diana Felicia Suganda mengatakan dalam mengonsumsi suatu produk juga penting untuk mempertimbangkan dari sisi kesehatannya. Hal itu bisa dilihat dari sejumlah faktor mulai dari kualitas sumber bahan baku, bagaimana produk tersebut diproduksi, bentuk pengemasannya, hingga informasi gizinya.

Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan dampak produk tersebut bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan. "Terlebih karena kondisi ekosistem dan lingkungan di sekitar pun tentunya akan berpengaruh bagi kesehatan kita," katanya.

Baca juga: 10 Gaya Hidup Ramah Lingkungan untuk Cegah Perubahan Iklim, Bisa Dimulai dari Rumah

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Wujud Den Den Mushi Versi Live Action Curi Perhatian Penggemar One Piece

BERIKUTNYA

Lima Model Alumni INTM Bikin Girlgroup D'Lima, Debut dengan Single Tak Ingin Sendiri

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: