Ilustrasi kanker paru (Sumber gambar: Unsplash/Robina Weermeijer)

Kanker Paru di Indonesia Mulai Sentuh Usia Produktif, Rokok & Kualitas Udara Buruk Jadi Biang Keladinya

23 August 2023   |   19:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Di Indonesia, selama bertahun-tahun kanker paru tetap menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu. Jumlah kasusnya juga terus meningkat setiap tahun. Data Globocan 2020 menunjukkan bahwa ada 34.783 kasus baru yang muncul setiap tahunnya.

Pelan-pelan, persoalan ini juga memunculkan masalah baru. Direktur Eksekutif Research of Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO) Elisna Syahruddin mengatakan bahwa kanker paru saat ini mulai menyerang usia produktif.

Baca juga: Waspadai Kanker Prostat dan Dampaknya Bagi Fungsi Seksual Pria

Kasus-kasus baru itu tak sedikit yang mulai menyerang usia produktif. Penyakit kanker paru yang tadinya kerap diderita oleh orang dengan umur 70 tahun, kini justru mulai diidap oleh mereka yang usianya relatif muda.

Di luar negeri itu rata-rata terkena kanker paru pada usia 65 tahun sampai 75 tahun. Namun, di Indonesia bisa lebih muda sekitar lima tahun hingga sepuluh tahun dari angka global.

Oleh karena itu, menurutnya, mereka yang terkena kanker paru pada usia produktif pun berpotensi kehilangan mata pencahariannya. Sebab, kanker ini bisa menganggu produktivitas pengidapnya. Terlebih, biaya untuk penyembuhan juga tidak sedikit.

Menurut Elisna, salah satu faktor pendorong terbesarnya adalah dari rokok. Di Indonesia, angka konsumsi rokok sangat tinggi. Batasan untuk konsumsi pun tampak tak begitu jelas, mengingat masih ada yang menjualnya secara eceran.

Dengan angka konsumsi rokok yang tinggi ditambah usia merokok yang lebih muda, tak mengherankan jika angka kanker paru makin meningkat di usia produktif.

“Ini enggak cuma rokok aja, segala jenis yang mirip dengannya, seperti vape atau shisa itu ya sama aja intinya,” ungkap Elisna dalam Konsensus Skrining Kanker Paru Nasional di Jakarta, Rabu (23/8/2023).
 

(Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Konsensus Skrining Kanker Paru Nasional di Jakarta (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Selain itu, ada beberapa faktor penyebab lain. Misalnya, perokok pasif. Meski tidak merokok, mereka sama bahayanya dengan perokok. Tanpa disadari, mereka juga punya potensi yang sama untuk terkena kanker paru di usia produktif.

Kemudian, udara yang buruk juga menjadi salah satu penyebab lain. Udara yang penuh dengan polusi dan zat-zat berbahaya bisa memicu munculnya kanker jenis ini. Terlebih jika hal itu dibarengi dengan paparan zat karsinogen.

Sementara itu, faktor penyebab lainnya juga datang dari umur. Ya, bisa dibilang kanker paru kerap muncul pada mereka yang sudah berusia senja. Kemudian, jenis kelamin juga rupanya berpengaruh. Dalam hal ini, laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding perempuan.

Terakhir, adalah adanya riwayat kanker dari keluarga. Menurut Elisna, riwayat penyakit ini perlu diwaspadai karena peluang untuk mengalami penyakit yang sama itu cukup besar.

Elisna menegaskan bahwa kunci untuk mengurangi angka kematian akibat kanker paru adalah dengan deteksi dini. Seseorang mesti lebih sadar lagi terhadap risiko kesehatannya, terlebih pada penyakit-penyakit yang mudah mengakibatkan kematian.

Dengan deteksi dini, kemungkinan untuk sembuh menjadi lebih besar. Jika ditemukan dalam kondisi yang masih ringan, kanker juga bisa disembuhkan dengan biaya yang relatif lebih kecil. Elisna pun meminta masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri. Terlebih, penyakit kanker termasuk yang sudah ter-cover oleh BPJS Kesehatan.

Baca juga: 5 Fakta Aspartam, Pemanis Buatan pada Ribuan Produk yang Disebut WHO Memicu Kanker

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Simak 6 Manfaat Kegiatan Journaling yang Bisa Redakan Stres

BERIKUTNYA

3 Cara Membuat Kulit Tetap Sehat Saat Polusi Tinggi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: