Kendaraan listrik sedang mengisi daya. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Abdurachman)

Hemat dan Ramah Lingkungan, Milenial Kian Tertarik dengan Kendaraan Listrik

21 August 2023   |   20:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Kendaraan listrik di dalam negeri kian diminati oleh masyarakat, termasuk generasi milenial. Mereka memilih kendaraan listrik karena biaya operasional yang lebih hemat dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Selain itu, kesadaran akan dampak lingkungan juga menjadi salah satu faktor penentu.

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan masyarakat memilih kendaraan listrik karena hembat biaya operasional, nyaman, dan juga menginginkan lingkungan yang lebih baik. Dari Januari sampai dengan Juli 2023, terdapat penjualan kendaraan listrik seluruh tipe mencapai 29.962 unit atau mencapai 79,23 persen dari total produksi pada periode yang sama tahun ini, yakni 37.815 unit kendaraan.

Baca juga: Jangan Beli Mobil Listrik, Kalau Belum Tahu 5 Hal Ini

Menurutnya, pengguna kendaraan listrik dapat mengeluarkan biaya operasional yang lebih kecil jika dibandingkan dengan kendaran mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE). Genhype bisa menghemat pengeluaran hingga 80 persen ketika menggunakan kendaraan listrik full baterai jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional.

Selain itu, kendaraan hybrid electric vehicle dan plug in electric vehicle juga lebih hemat lantaran mesin berbahan bakar bensin atau diesel yang terdapat di dalamnya jarang hidup. Jongkie menambahkan, kendaraan listrik hibrida akan membuat pengguna menghemat biaya operasional sektiar 20 – 40 persen saat pemakaian normal.

Jika Genhype menggunakan plug in electric vehicle, kalian bisa menghemat biaya operasional antara 50 – 60 persen. Penghematannya ketika menggunakan kendaraan listrik hibrida colok lebih besar dibandingkan kendaraan hibrida karena lebih dominan menggunakan energi baterai. Sementara kendaraan listrik dengan energi sepenuhnya dari baterai bisa menghemat biaya operasional hingga 80 persen.

Selain penghematan dan kenyamanan, alasan lain yang membuat konsumen lebih memilih kendaraan listrik adalah kepedulian terhadap lingkungan. Sebagian mereka yang memilih jenis kendaraan ini sudah memperhatikan masalah polusi dan lingkungan.

Dia mengatakan, pembeli kendaraan listrik di dalam negeri juga sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai keamanannya lantaran banyak informasi yang bertebaran tentang hal itu.  Pada saat ini, banyak konsumen kendaraan listrik adalah generasi milenial lantaran lebih teredukasi atau terinformasi tentang kendaraan listrik. “Wawasannya juga lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, saat ini, harga kendaraan listrik di dalam negeri masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan mobil yang hanya memiliki mesin pembakaran internal. Kondisi itu dapat terjadi lantaran biaya produksinya yang relatif lebih mahal. 

Dia menilai bahwa harga jual kendaraan listrik akan mengalami penurunan jika kendaraan listrik yang diimpor secara utuh diberikan insentif berupa penghapusan bea masuk dan PPnBM. Pemerintah dapat memberikan insentif dengan sejumlah syarat seperti setelah mencapai produksi dalam negeri dalam volume tertentu. 

"Insentif diberikan untuk membuat harga mobilnya terjangkau dan mempercepat pemakaian battery electric vehicle di Indonesia," katanya.
 

Uji coba motor listrik. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Uji coba motor listrik. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Pengamat otomotif Munawar Chalil mengatakan bahwa ada sejumlah kekurangan lainnya yang dimiliki teknologi kendaraan listrik selain harga yang masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan mobil ICE atau konvensional. 

Pertama adalah daya tahan baterai. Menurutnya, daya tahan baterai yang ada di dalam kendaraan listrik belum teruji atau terbukti seperti yang diklaim oleh pabrikan. Sebagai contoh, pabrikan menjamin atau memberikan garansi selama delapan tahun.

"Tapi kebanyakan mobil listrik pada saat ini masih berusia antara 1 - 3 tahun. Jadi, kita belum tahu soal daya tahannya," katanya kepada Hypeabis.id.

Kedua adalah jarak tempuh. Dia menuturkan bahwa jarak tempuh kendaraan listrik masih relatif pendek untuk sekali pengisian atau charging. Ketiga, tidak bisa sefleksibel mobil konvensional. Chalil mengatakan bahwa kendaran listrik tidak bisa mengisi daya seperti mengisi bensin di mana saja dan kapan saja. 

Pengisian daya mobil listrik harus di tempat-tempat khusus atau di rumah sendiri dengan waktu yagn relatif lama jika dibandingkan dengan mengisi bahan bakar minyak. Kemudian, pada saat ini, jumlah stasiun pengisian daya masih sangat sedikit, sehingga dapat menciptakan antrean panjang di beberapa lokasi yang tersedia fasilitas pengisian, seperti pusat perbelanjaan. 

Selanjutnya, safety issue juga masih menjadi pertanyaan karena terdapat beberapa kasus di luar negeri mobil yang diparkir terbakar dengan sendirinya. Mobil listrik yang terbakar juga tidak dapat dipadamkan dengan APAR konvensional, sehingga harus menggunakan APAR khusus karena panas api yang ditimbulkan oleh bateri yang terbakar. 

"Teknologi daur ulang batere juga belum teruji, sehingga dikhawatirkan akan menciptakan bencana lingkungan pada masa depan," katanya. 

Dengan kekurangan itu, maka pemerintah harus bis mendorong pihak swasta atau badan usaha milik negara (BUMN) untuk membangun stasiun-stasiun isi daya baterai mobil listrik. Selain itu, pemerintah juga harus bisa mendesak pabrikan untuk memproduksi mobil listrik yang terjangkau. Harga mobil listrik itu paling tidak di rentang harga Rp200 juta - Rp400 juta karena pada saat ini pasar di rentang tersebut adalah yang paling besar. 

Sebelumnya, salah satu pengguna kendaraan listrik, yakni Kyatmaja Lookman, CEO PT Lookman Djaja, mengatakan bahwa salah satu alasan dia menggunakan kendaraan listrik adalah untuk mengurangi emisi kendaraan.

"Kualitas udara yang bersih menjadi kepentingan bagi semua pihak. Bukan tanpa sebab, udara yang kotor akan membuat banyak orang terkena penyakit seperti infeksi pernapasan," ujarnya.

Saat ini, dia menggunakan kendaraan listrik untuk aktivitas sehari-hari. Sebagai pengguna, dia menilai ekosistemnya perlu mengalami peningkatan. Dia menilai bahwa pengisi daya kendaraan listrik harus tersedia di mana saja mengingat saat ini keberadaannya masih terbatas.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

4 Fakta Pernikahan Pesepak Bola Timnas Pratama Arhan & Selebgram Azizah Salsha

BERIKUTNYA

Sinopsis The Nun 2 yang Tayang September 2023, Teror Valak Belum Berakhir

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: