Sutradara Christopher Nolan dengan kamera IMAX. (Sumber foto: IMAX)

Tanpa CGI, Christoper Nolan Garap Film Oppenheimer dengan Teknik Spesial

23 July 2023   |   09:50 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Sejak dirilis pada 21 Juli 2023, Oppenheimer terus menjadi sorotan dunia. Film garapan sutradara Christoper Edward Nolan itu mencetak pendapatan fantastis pada hari pertama perilisannya. Menurut laporan Variety, film biopik ini membukukan pendapatan sebesar US$33 juta atau sekitar Rp496 miliar pada hari pertama perilisannya secara global.

Capaian tersebut menjadi awal yang baik bagi film Oppenheimer untuk mencetak rekor pendapatan box office di bioskop, dan tampaknya akan membayar kerja keras para tim dan pemain dari film tersebut. Pasalnya, Oppenheimer dilaporkan menghabiskan biaya produksi hingga US$100 juta atau setara dengan Rp1,4 triliun karena menggaet deretan bintang papan atas Hollywood serta penerapan teknologi terbarukan dalam proses penggarapannya.

Baca juga: Kenalan dengan Para Pemeran Film Oppenheimer, Ada Cillian Murphy hingga Matt Damon

Seperti diketahui, film yang diproduksi oleh Universal Pictures ini dibintangi oleh jajaran aktor papan atas seperti Cillian Murphy, Emily Blunt, Matt Damon, Robert Downer Jr., Florence Pugh, Josh Hartnett, Casey Affleck, Rami Malek, dan Kenneth Branagh. 

Salah satu alasan kenapa film ini jadi salah satu produksi termahal adalah karena Oppenheimer tidak menggunakan teknologi computer generated intellegence (CGI) dalam proses penggarapannya, misalnya dalam menampilkan ledakan bom nuklir yang menjadi bagian integral dalam cerita film. Hal ini juga menjadi bukti perkembangan dan gebrakan Nolan dalam menggarap sebuah film.

Melansir dari laman MovieWeb, Nolan bekerja sama dengan Penata Efek Visual Scott R. Fisher mengeksplorasi pendekatan praktis untuk menangkap berbagai elemen visual dalam film, mulai dari merepresentasikan dinamika kuantum dan fisika, hingga membuat ulang tes Trinity atau uji coba nuklir bom atom selama Proyek Manhattan.

Untuk menghadirkan scene ledakan bom atom Trinity, tim visual efek yang dipimpin oleh Scott R. Fisher menggunakan teknik tradisional bernama perspektif paksa atau forced perspective menggunakan model yang diperkecil. Forced perspective adalah sebuah teknik memanipulasi persepsi manusia dengan menggunakan ilusi optik untuk membuat objek tampak lebih besar, lebih kecil, lebih jauh, atau lebih dekat dari yang sebenarnya.

Dengan melihat korelasi antara objek berskala dan sudut pandang kamera atau penonton, persepsi visual manusia menjadi berubah. Perspektif paksa dalam film sering digunakan untuk menggambarkan dunia fantasi di mana manusia jauh lebih besar atau lebih kecil dari aktor lainnya. 
 

Dalam film Oppenheimer, Fisher menjelaskan bahwa model yang diperkecil ini disebut juga sebagai big atures bukan miniatur karena dibuat sebesar mungkin dengan tetap mempertahankan proporsi yang dapat diatur. "Triknya sederhana, semakin dekat properti ini diposisikan ke kamera, semakin besar tampilannya, secara efektif menyampaikan dampak visual yang diinginkan," katanya.

Sementara itu, menjadi set penyangga, api hebat dalam ledakan tersebut merupakan penggabungan sejumlah cairan terutama bensin dan propana karena mampu menciptakan energi yang tinggi dalam aspek piroteknik. Di samping itu, penambahan bubuk aluminium dan magnesium bertujuan untuk menciptakan kembali kilatan cahaya yang menyilaukan yang biasanya identik dengan ledakan nuklir.

"Niat tim adalah untuk menciptakan efek yang mencolok secara visual yang akan meninggalkan kesan abadi pada penonton, mirip dengan kilatan yang terjadi selama tes nuklir yang sebenarnya," ujar Fisher.

Namun, tantangan terbesar justru datang ketika tim film Oppenheimer berusaha menciptakan visual awan jamur yang biasanya tercipta karena sebuah ledakan raksasa seperti bom nuklir. Setelah mengambil sejumlah gambar ledakan dan efek-efeknya, mereka pun tetap mengedit dan menambahkan efek hingga menjadi paduan visual yang ciamik.
 

Penyajian visual dengan pendekatan tradisional alih-alih menggunakan teknologi CGI dipilih Nolan karena dia tidak ingin menghilangkan kesan rasa bahaya dan membuat penonton merasa aman dalam melihat filmnya. Baginya, memvisualisasikan gagasan-gagasan pemikiran seorang J. Robert Oppenheimer adalah tantangan yang cukup sulit.

Ya, bukan rahasia lagi jika sebagai pembuat film, Nolan memiliki kemampuan untuk menciptakan realisme dalam film. Misalnya menciptakan adegan truk terbalik di film Dark Knight, lorong berputar di Inception, mangkuk debu di film Interstellar, hingga adegan dramatik pesawat di atas udara dalam film The Dark Knight Rises.

Tekad atau keinginan kuatnya untuk menghindari teknologi CGI berkaitan erat dengan hasrat besarnya untuk menciptakan pengalaman sinematik yang paling murni. Bagi Nolan, film Oppenheimer adalah wujud manifestasi subjektivitasnya yang paling kompleks. 

"Subjektivitas cerita adalah segalanya bagi saya. Kami ingin melihat peristiwa ini dari sudut pandang Oppenheimer, dan itulah tantangan bagi Cillian [Murphy] yang saya atur untuk membawa kami dalam perjalanan ini. Itulah tantangan bagi Hoyte van Hoytema, desainer saya, dan seluruh tim saya," jelasnya.

Oppenheimer merupakan film biopik thriller yang mengangkat kisah tentang bapak atom J. Robert Oppenheimer yang diadaptasi dari buku karya Kai Bird dan Martin J. Sherwin berjudul American Prometheus. J. Robert Oppenheimer merupakan fisikawan di balik pembuatan senjata nuklir pertama dalam Proyek Manhattan pada era Perang Dunia II.

Franklin D. Roosevelt yang pada 1939 sedang menjabat sebagai presiden Amerika Serikat khawatir dengan Jerman, yang berada di bawah kepemimpinan Adolf Hitler, karena tengah mengerjakan senjata nuklir. Hal tersebut membuat Amerika Serikat lantas mengembangkan senjata nuklirnya sendiri yang dimulai pada 1942.

Pihak AS menggandeng sejumlah ilmuwan yang dipimpin oleh Oppenheimer dan di bawah arahan Jenderal Leslie Groves Jr. dalam proyek tersebut. Arah proyek yang dikerjakan di Los Alamos, New Mexico, itu berubah ketika Hitler bunuh diri 30 April 1945. Amerika Serikat memutuskan untuk menjatuhkan bom atomnya ke Jepang, tepatnya di Hiroshima dan Nagasaki.

Namun, terciptanya bom atom itu tidak lantas membuat Oppenheimer merasakan pencapaian. Hidupnya dihantui dan tetap menemui halang dan rintang usai menciptakan senjata mematikan tersebut. Film Oppenheimer kini sedang tayang di bioskop.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Menengok Fesyen Futuristik dalam Koleksi (ALPHA) Adaptation Karya Siswa LPTB Susan Budihardjo

BERIKUTNYA

9 Rekomendasi Drama China yang Tayang di Netflix

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: