Ilustrasi ayah (Sumber gambar: Gustavo Fring/Pexels)

Ingat Pak, Peran Ayah itu Besar Banget dalam Mengasuh Anak

16 July 2023   |   21:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Sosok ayah selalu diharapkan mampu menjadi role model bagi anak. Sebagai kepala keluarga, ayah memiliki peran penting dalam membesarkan anak. Ayah memang lebih banyak mengisi ruang-ruang mendidik dibanding proteksi seperti sifat alamiah ibu.

Dalam mengasuh anak, ayah lebih banyak mengambil porsi mengatur perkembangan mental dan moral. Dua di antaranya adalah mengajarkan anak dalam proses pengambilan keputusan atau pemecahan masalah.   Dewan Pembina Kesehatan Mental Indonesia (KMI) Adang Addha menyebut, ayah merupakan sentral dari perkembangan moral anak. Dalam artian, ayah merupakan pusat dari pembentukan moral dan aspek kematangan mental.

Baca juga: 5 Rekomendasi Film Bertema Sosok Ayah Idola Bagi Anaknya

Menurut Adang, ayah lebih berperan  mengajarkan tentang baik dan salah kepada anak. Maka, ayah harus memiliki pengetahuan tentang pola asuh yang baik. Kehadiran ayah dalam parenting berperan pada nilai pembentukan moral, berbeda dengan sisi ibu yang lebih banyak berfokus pada pengembangan emosi dan komunikasi.
 
Adang juga menyebut, porsi parenting tidak imbang jika ayah tidak mengambil tempatnya sebagai figure kepala rumah tangga yang ideal. Akibatnya, anak bisa saja bertumbuh dengan moral yang buruk.

Terlebih, Adang menyoroti pergeseran pola asuh ayah dari generasi ke generasi. Zaman dahulu, ayah dianggap sebagai sosok yang lebih dominan berada di luar rumah, berkesan berwibawa dan menakutkan, sehingga anak lebih banyak nyaman kepada ibu.
 
Namun di masa kini, ayah dianggap memiliki urgensi sebagai sosok yang melindungi, mampu hadir di rumah untuk keluarga, dan menjadi contoh yang baik. Fokus ayah dalam mengasuh anak cenderung berbeda dengan fokus ibu. “Ayah lebih ke learning, kalau ibu lebih banyak ke protecting,” jelas Adang.
 
Kunci penting adalah membuat kesepakatan nilai-nilai dalam keluarga. Misalnya seorang ayah ingin mempertegas nilai pantang menyerah, menghargai orang lain, atau mandiri. Kemudian tentukan ekspektasi anak dalam hal kompetensi, misalnya ingin anak dengan pendidikan agama yang bagus, memiliki minat olahraga yang tinggi, dan lainnya.
 
Jika nilai dan kompetensi sudah dipetakan, maka ayah bertugas melakukan stimulasi nilai tersebut dengan cara menetapkan aktivitas yang bisa mendukung nilai-nilainya. Contohnya, memfasilitasi kebutuhan anak untuk kompetensi IT, memfasilitasi anak di klub olahraga untuk kompetensi atlet, dan sebagainya.

Nilai ini tidak hanya terbatas pada ruang hard skill, tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan soft skill. Seperti contoh, mendukung nilai keberanian dengan  memfasilitasi anak masuk klub bela diri.
 
Langkah lainnya yang tak kalah penting adalah memantau perkembangan anak secara rutin. Sebab, ayah memiliki peran besar dalam pengembangan fisik dan mental. Ayah tak bisa begitu saja menyerahkan urusan parenting sepenuhnya kepada ibu.
 
Psikolog Anindya Dewi Paramita menyebut, riset mengenai kehadiran pendampingan ayah di setiap fase pertumbuhan anak berbuah sangat positif. Ayah bisa terlibat hanya dengan memberikan contoh-contoh melalui sikapnya. Nilai kerja keras dapat menjadi perhatian anak apabila ayah memberi gambaran melalui sikapnya.
 
Sikap lain misalnya bagaimana ayah menciptakan komunikasi yang luwes baik kepada istri atau anak. Sikap ayah dalam menyelesaikan masalah ketika terjadi perbedaan pendapat di antara anggota keluarga juga bisa menjadi contoh penting yang dapat dipelajari anak.
 
Anindya mengatakan, ayah bisa membantu beberapa sudut pandang tertentu dalam membesarkan anak. Misalnya, saat ibu terlalu khawatir dengan anak, sementara ayah memiliki gambaran sosok yang lebih santai.

Menurut Anindya, dua sisi yang berbeda ini dapat dikolaborasikan untuk membentuk parenting yang pas bagi anak. “Sehingga jadi balance dan anaknya juga tidak merasa terlalu dikhawatirkan tetapi tetap memiliki batasa. Mereka akan tetap leluasa dan tenang dalam menghadapi situasi,” kata Anindya.
 
Namun yang terpenting,  keluarga wajib  memiliki prinsip yang disepakati oleh seluruh anggota keluarga di rumah. Jika ada kesepatakan, maka peran ayah dan ibu akan saling mengisi dalam  dasar-dasar aturan dari sisi ibu maupun ayah.

 “Apapun caranya mau tegas atau halus, utamakan aturan disepakati dengan dasar prinsip yang sudah dikompromikan supaya anak tidak kebingungan dengan aturan yang ada,” kata Anindya.


Baca juga: Manfaat Membaca Buku Bersama bagi Ayah & Anak 

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Perhatikan Parents, Begini Langkah Mendampingi Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

BERIKUTNYA

Digitalisasi Cepat, Keamanan Data Dicegat, Ini Kiat Bank Digital Cegah Serangan Siber

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: