Neuropati perifer masih menjadi penyakit yang diderita oleh banyak orang di dunia (Sumber gambar: Online Marketing/Unsplash)

Penderita Neuropati Perifer Sering Telat Terdeteksi, Kata Dokter, Ini Penyebabnya

13 July 2023   |   18:37 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Neuropati perifer masih menjadi penyakit yang diderita oleh banyak orang di dunia. Menurut data dari P&G Health 2023, 1 dari 10 orang dan 1 dari 2 penderita diabetes juga mengidap penyakit neuropati periferal. Pada 2021, tercatat ada 393 juta pasien diabetes di wilayah Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika yang diperkirakan meningkat menjadi 603 juta pada 2045.

Di Indonesia, jumlah penderita diabetes meningkat dari 10,7 juta pada 2019 menjadi 19,5 juta pada 2021. Angka ini mengalami kenaikan dari peringkat ketujuh menjadi peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia.

Di sisi lain, dalam sebuah studi di Bali, dari 110 pasien dengan diabetes melitus tipe 2 dan neuropati berdasarkan elektromiografi, 54 persen dari mereka mengalami neuropati diabetik yang menyebabkan rasa nyeri.

Neuropati perifer adalah kondisi klinis kronis di mana sistem saraf perifer mengalami kerusakan. Gejala neuropati perifer meliputi mati rasa, kesemutan, sensasi seperti ditusuk-tusuk, dan rasa terbakar pada tangan dan kaki.

Selain diabetes mellitus, obesitas, dan penyalahgunaan alkohol, kekurangan vitamin B merupakan faktor risiko tinggi lainnya yang menyebabkan kerusakan pada saraf perifer. Penyakit ini memberikan sejumlah dampak kepada penderitanya terhadap kualitas hidup mereka, termasuk terjadinya penurunan kemampuan fisik juga gangguan tidur. 

Salah satu penyebab tingginya angka penderita penyakit neuropati perifer yakni masih minimnya pasien yang terdiagnosis sejak dini, yang bisa membantu pengobatan penyakit tersebut. Menurut laporan P&G Health 2023, sekitar 80 persen pasien neuropati perifer tidak terdiagnosis dan tidak mendapatkan pengobatan dengan rasio yang serupa di berbagai negara secara global.

Rainer Freynhagen selaku Kepala Departemen Anestesiologi, Perawatan Intensif, & Pengobatan Nyeri di Rumah Sakit Benedictus Tutzing & Feldafing Jerman menyatakan, neuropati perifer dan nyeri dengan komponen neuropatik sangat umum terjadi pada masyarakat, dan kondisi gejalanya yang relatif mudah didiagnosis.

Meski demikian, pasien yang menderita penyakit ini cenderung sulit untuk diobati karena baru mendapatkan tindakan medis ketika sudah pada tahap lanjut. "Sekitar 10 persen dari masyarakat di seluruh dunia telah terkena nyeri neuropatik dan 50 persen dari pasien ini tidak mendapatkan pengobatan dengan cukup baik," katanya.

Rainer menjelaskan dalam mengidentifikasi pasien dengan neuropati perifer bukanlah hal yang sulit, namun studi-studi yang saat ini dipublikasikan di berbagai negara menunjukkan bahwa hingga 80 persen pasien tetap tidak didiagnosis dan tidak diobati. 

Hal ini, paparnya, terjadi karena banyak pasien yang melaporkan rasa nyeri mereka hanya setelah rasa nyeri tersebut menjadi tidak tertahankan. Selain itu, dia menilai, tak jarang juga dokter yang menangani pasien neuropati perifer tidak dapat mengenali terkait gejala dan tanda-tanda penyakit tersebut secara tepat.

Pasalnya, Rainer berpendapat banyak dokter yang tidak menaruh perhatian khusus terhadap gejala nyeri neuropatik  dibandingkan dengan gejala lain yang dialami oleh pasien, meskipun itu adalah salah satu masalah yang paling memberatkan dan memiliki dampak yang luar biasa pada kualitas hidup pasien.
 

Penting untuk mendeteksi penyakit neuropati perifer sedini mungkin (Sumber gambar: Cottonbro studio/Pexels)

Penting untuk mendeteksi penyakit neuropati perifer sedini mungkin (Sumber gambar: Cottonbro studio/Pexels)

Profesor dan Kepala Departemen Neurologi di Bombay Hospital Institute of Medical Sciences di Mumbai India, Dokter Satish V Khadilkar, sepakat jika tingkat diagnosis neuropati perifer masih terbilang rendah saat ini terhadap pasien.

Dia menjelaskan penyakit ini tidak didiagnosis dan diobati pada tahap awal, biasanya akan berkembang menjadi nyeri neuropatik yang dapat menyebabkan beberapa komorbiditas yang signifikan sehingga mempengaruhi kualitas hidup, kehidupan sosial, dan kehidupan kerja dari pasien tersebut. 

Hal itu termasuk depresi, gangguan tidur, kecemasan yang membutuhkan pengobatan dan menambah beban ekonomi pada pasien. Dia menambahkan neuropati perifer diabetik menyebabkan nyeri secara signifikan dan menjadi masalah serius dalam status pekerjaan dan produktivitas kerja pasien.

"Dari pasien yang telah bekerja, 59 persen telah melaporkan menjadi kurang produktif dalam pekerjaan," katanya.

Diagnosis Dini & Pengobatan

Menurut Dokter Ankia Coetzee selaku Endokrinologis di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Stellenbosch Cape Town Afrika Selatan, komunikasi dengan pasien menjadi langkah awal yang baik untuk mendiagnosis penyakit neuropati perifer, yang dilanjutkan dengan tindakan sedini mungkin dari dokter.

Sebab, menurutnya, beberapa pasien mungkin mengalami kesulitan dalam menggambarkan gejala mereka dengan baik, menyelidiki secara proaktif ciri-ciri neuropati perifer seperti mati rasa, sensasi kesemutan, nyeri menusuk, atau sensasi seperti setruman.

"Pengujian sensori yang mudah dilakukan seperti pengujian persepsi getaran, uji tusuk jarum, uji monofilamen, dan sebagainya. Ini tidak memakan waktu lebih dari beberapa menit dan membantu dalam diagnosis, sementara tes laboratorium dapat membantu memperinci diagnosa," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Medis Global P&G Health Nerve Care Franchise Inna Eiberger menyatakan, vitamin B neurotropik sangat penting untuk kesehatan saraf dan mendukung regenerasi saraf. Seperti Vitamin B1 yang menyediakan energi bagi saraf, vitamin B6 membantu transmisi sinyal dalam saraf, sedangkan vitamin B12 mendukung regenerasi saraf.

Dia memaparkan studi in vitro yang dimulai oleh P&G Health menunjukkan bahwa ketika Vitamin B1, B6, dan B12 ditambahkan ke kultur saraf dengan sel saraf sehat, terjadi peningkatan panjang total neurit sebesar 124 persen dan peningkatan luas total sel utama sebesar 55 persen.

Baca juga: Jaga Kesehatan Sistem Saraf, Ini Suplemen yang Bisa Dikonsumsi Menurut Dokter

"Jaringan saraf dari sel-sel yang diberi nutrisi dengan B1, B6, dan B12 juga mengalami peningkatan dua kali lipat. Percobaan in vitro lebih lanjut telah membuktikan bahwa Vitamin B1, B6, dan B12 mendukung pemulihan sel saraf setelah kerusakan sel saraf," imbuhnya.

Editor: M R Purboyo

SEBELUMNYA

Sony Bekali Kamera Seri α 6700 dengan AI & Sensor Gambar 26 Megapiksel

BERIKUTNYA

Penyanyi Pendatang Putri Gita Debut dengan Single Telah Coba

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: